Rabu, 06 Januari 2016

Mawar Berduri

Ilustrasi/Ist.

Tak terpahami jarak dan waktu
Jauh di pelataran hati
Benih cinta, kasih dan sayang telah semai bersama
Tak kupahami kini
Sang waktu mengikis segala rasa kita

Entah....
Ia tak mekar berseri seperti dahulu
Tak juga semerbak wangi beraroma
Benihnya telah kerdil dan mati bersama waktu

Hanya duri yang perlahan menyayat kalbu
Perih rasanya
Seakan teriris sembilu
Rasa ini terus hidup dan memburuh setiap detik

Sampai kapan kuketahui?
Apakah ku menyalahkan diriku?
Bolehkah ku salahkan waktu?

Akhh....
Kau memang mawar berduri
Durinya kau tumbuhkan hidup
Dan aromanya kau bawa pergi

Anonymus

Sabtu, 14 November 2015

Selalu Ada Dirimu

Ilustrasi/Ist.

Ada yang perlu kau ketahui
Ucapan kata-katamu
Buat hatiku telah hancur bak kepingan kaca
Rasanya jiwa menelusuri lorong gelap
Tak ku ketahui kemana arahnya

Ku terima kenyataan bahwa kau jauh bukan milikku
Namun, rasanya sesuatu selalu saja buat hati ini terpaut tak ingin pergi
Mengapa aku selalu gagal untuk bertanya
Mengapa aku tidak pernah bisa mengakuinya
Meski hati ini lelah bersandar pada bayangan

Pada akhirnya engkau seperti selalu saja ada d isana
Menunggu kenyataan yang tak kunjung tiba
Jelaslah itu membosankan bagiku

Jauh dalam relung jiwaku
Perasaan ini selalu bergetar untuk ada-mu
Namun, bagaimana keresahan yang timbul
Tak dapat sanggup untuk selalu ku tahan
Hingga selalu saja memeluk bayangmu dalam kesunyian
Nyatanya, cinta yang kuharap itu tak pernah ada

Anonymus

Senin, 09 November 2015

Kisah Terjadinya Danau Tigi di Kabupaten Deiyai

Danau Tigi di Deiyai, Papua. Foto: Google Maps

Cerita ini dikisahkan menurut versi marga Tigi yang bermukim di daerah Kamuu secara turun temurun. Cerita Terjadinya asal usul danau Tigi  telah terbentuk sejak satu generasi sebelum Bapak Dege Bobeuta Tigi. Dege Bobeuta Tigi mengisahkan cerita tersebut di atas kepada putra sulungnya Bapak Gatimaitaka Tigi. Bapak Gatimaitaka Tigi mengisahkan cerita ini kepada putra sulungnya Donatus Tigi. Donatus Tigi menmgisahkan lagi kepada putra sulungnya Jhon Tigi. Jhon Tigi generasi kelima meneruskan kepada peneliti dengan bahasa Indonesia dengan bertujuan mempermudah dalam proses penelitian ini.

Namun empat generasi sebelum pengisah Jhon Tigi keempat-empatnya mengisahkan Cerita Terjadinya Danau Tigi dalam bahasa Mee.

Mereka mengisahkan bahwa danau Tigi adalah seorang putri marga Tigi dari Dogiyaugi daerah Kamuu, bukan dari daerah Tigi. Alasan mereka adalah seorang pemuda warga Woge dari daerah Pona kawin dengan seorang gadis daerah Kamuu. Pemuda Woge menetap di daerah lembah Kamuu bersama gadis di Dogiyaugi. Dogiyaugi merupakan daerah pertemuan si pemuda marga woge dan si gadis lembah.

Hal pertemuan, berkumpul, hidup sebagai suami istri, hidup sebagai saudara, hidup sebagai anggota keluarga secara bersama, dan lain-lain yang penting bertujuan menghasilkan sesuatu. Hal ini dalam bahasa Mee disebut &ldquo Tigii&rdquo.

Dengan singkat Tigii berarti bertemu atau berkumpul untuk menghasilkan sesuatu. Jadi, artinya hasil pertemuan sebagai suami istri antara pemuda Woge dengan pemudi lembah Kamuu, menurunkan satu putri yang namannya Tigiimau Tigi, satu putra Tigii yang namanya Tigiidege Tigii dan dua putra lagi namanya Douw dan Iyowau.

Pemberian nama Tigiimau Tigii dan Tigiidege Tigii artinya putri dan putra yang merupakan hasil pertemuan si pemuda marga Woge dengan si gadis lembah Kamuu.Pemberian nama diri seseorang pada masa lampau di dalam kehidupan suku Mee sekarang diubah menjadi nama marga. Alasan dahulu nama pribadi sekarang diubah menjadi nama marga (clan) karena masa lampau orangnya sedikit dan tidak ada nama marga. Yang ada &ldquoMee&rdquo dalam kehidupan suku Mee pada saat itu. Pemebrian nama Douw dan Iyowau adalah saudaranya Tigiimau dan Tigiidege Tigii. Keturunan mereka berempat tidak boleh memadu cinta antarsatu sama lain sebab saudara kandung.

Keempat bersaudara di atas, mereka tersebar di sekitar daerah Dogiyaugi, yaitu Tekewapa, Epeida, Kimupugi, Digipuga, Titokunu, Abaimaida, Dawaikunu, Bomomani, Bokaibutu dan Puduu.

Orang yang dijadikan sebagai pelaku utama dalam Cerita Terjadinya Danau Tigi adalah Tigiimau Tigii (Putri Tigi). Putri Tigii berasal dari keluarga Woge yang senantiasa hidup baik. Tidak pernah ada pertengkaran antarsuami-istri dan anak-anaknya namanya saja Tigi (berkumpul bersama). Mereka selalu hidup damai, hidup aman dan  tentram.

Namun Putri Tigi kawin dengan seorang pemuda yang sifatnya lalim. Keluarga mereka berdua berantakan karena sifat suaminya tidak berubah selalu saja sifatnya yang jelek berada di dalam dirinya. Lalu Putri Tigi berasal dari keluarga yang nyaman merasa tertekan dengan sifatnya suami. Hal-hal yang baik dari Putri Tigi, diterapkan di dalam keluarga yang baru terbentuk, namun sia-sia belaka sebab suaminya tidak mengerti kehidupan keluarga yang baik.

Dari kedua latarbelakang kehidupan yang berbeda menimbulkan ketidaknyamanan dalam keluarga mereka berdua yang telah terbentuk. Pada saat itu juga hampir melahirkan anak pertamanya, namun suami bengis itu mengusir dengan cara mengutuk istrinya dan janinnya yang ada di dalam kandungan Ibu Tigi. Kata-kata kutukannya &rdquoHei perempuan jahanam keluarlah  dari pintu belakang bersama janinmu yang ada di dalam perutmu&rdquo.

Terpaksa dalam keadaan emosi dan berbadan berat Putri Tigi keluar melalui pintu belakang dan mengembara ke arah utara, lalu berjalan lagi ke arah timur. Dengan jerih-payah menaiki lereng gunung Odedimi. Di gunung Odedimi inilah Putri Tigi memperoleh kekuatan dari dalam dirinya dan berkemampuan berjalan dan bertindak sesuatu.  lalu ia menuruni lereng  gunung  Odedimi sebelah timurnya. Lalu di lembah berikutnya ia bertemu dengan beberapa orang penghuni lembah itu. Putri Tigi  lelah, ia beristrahat di  lembah ini, ternyata di pandangan mata orang-orang di sekitarnya, Putri Tigi dikelilingi genangan air secara tiba-tiba sampai sebatas lehernya. Orang-orang di lembah itu menjadi panik, lalu membatasi diri mereka dengan patokan-patokan kayu buah agar mereka tidak tergenang air sama seperti Putri Tigi.

Putri Tigi sendiripun tidak tahu kalau telah tergenang air di sekelilingnya, tetapi karena melihat orang-orang di sekitarnya membatasi diri mereka dengan patokan-patokan kayu buah, dia terkejut dan terangkat lalu ia terbang ke arah timur yang paling jauh dari tempat itu. Ia turun di sebuah lembah yang terjauh.

Di sinilah ia dapat melahirkan putranya dengan selamat. Putranya diberi nama Takimay. Takimay adalah menghadirkan dirinya di kalangan orang lain sebelum diterima sebagai anggota masayarakat baru, menghadirkan dirinya  secara tiba-tiba di tengah-tengah marga Adii dengan maksud harus diterima sebagai anggota masyarakat di daerah baru berhubung kondisi badan Putri Tigi bukan manusia biasa lagi, melainkan berubah menjadi  genangan air.

Dengan demikian, putranya diserahkan kepada marga Adii untuk dijaga dan dipelihara, sedangkan Putri Tigi sendiri  telah berubah menjadi genangan air yang cukup luas menutupi sebuah lembah baru, Lembah itu sejak Putri Tigi menjadi genangan air sampai saat ini dijuluki  lembah Tigi. Genangan air yang cukup luas dinamakan danau Tigi. Orang&ndashorang di sekitarnya disebut  penduduk Tigi. Daerah di sekitar danau Tigi disebut daerah Tigi. Wilayahnya disebut kecamatan Tigi pada saat ini.

Kemudian di daerah Kamuu yang pernah disinggahi Putri Tigi disebut Tiganidouda. Tiganidouda artinya Putri Tigi pernah singgah di lembah sempit itu. Atau bekas genangan air danau Tigi

Jadi, genangan air yang cukup luas itu adalah Putri Tigi yang terkutuk. Setelah Putri Tigi berubah menjadi genangan air, datanglah bapak kandungnya dari lembah Kamuu untuk mencari putrinya yang menghilang, ternyata putrinya menerima kedatangan Bapak dengan cara terpasangnya genangan air, hingga sebatas lehernya.

Tetapi Bapak tidak panik, lantas Bapak mengatakan terhadap genangan air itu dengan tenang &ldquosurutlah anakku, akulah Bapakmu mencari engkau&rdquo, dengan demikian genangan air itupun surut seketika itu juga. Setelah kejadian itu, dengan terharu Bapaknya memberi nama genangan air adalah danau Tigi, agar keturunan marga Woge dan Tigi dapat mengenangnya.

Sumber: deiyaikab.go.id

Minggu, 08 November 2015

Kata-Kata Bijak dalam Novel "Sang Alkemis" Karya Paulo Coelho

Cover dari Novel "Sang Alkemis"


 *) "Dusta terbesar itu: Bahwa pada satu titik hidup kita, kita kehilangan kendali atas apa yang terjadi pada kita dan hidup kita jadi dikendalikan oleh nasib" - Sang Raja

*) "Takdir adalah apa yang selalu ingin kaucapai. semua orang, ketika masih muda, tahu takdir mereka, pada titik kehidupan itu, segalanya jelas, segalanya mungkin. Mereka tidak takut bermimpi, mendambakan segala yang mereka inginkan terwujud dalam hidup mereka. tapi dengan berlalunya waktu, ada daya misterius yang mulai meyakinkan mereka bahwa mustahil mereka mewujudkan takdir tersebut" - Sang Raja

*) "Dan saat engkau menginginkan sesuatu, seluruh jagat raya bersatu padu untuk membatumu meraihnya" - Sang Raja

*) "Di masa-masa awal kehidupan mereka, manusia sudah tahu alasan keberadaan mereka, barangkali ini juga sebabnya mereka menyerah terlalu cepat, tapi memang begitulah adanya" - Sang Raja

*) Kalau kau memulai dengan menjanjikan sesuatu yang belum kau miliki, kau akan kehilangan hasratmu untuk berusaha memperolehnya - Sang Raja

*) "Sebab aku tidak hidup di masa lalu ataupun di masa depan. Aku hanya tertarik pada saat ini. berbahagialah orang yang bisa berkonsentrasi hanya untuk saat ini" - Santiago

*) "Kau harus mengerti, cinta tak pernah menghalangi orang mengejar takdirnya. Kalau dia melepaskan impiannya, itu karena cintanya bukan cinta sejati. Bukan cinta yang berbicara bahasa dunia - Sang Alkemis

*) "Orang dicintai karena dia memang dicintai. Tak perlu ada alasan untuk mencintai - Fatimah

*) "Penghianatan adalah pukulan tak terduga-duga. Kalau kau mengenal hatimu dengan baik, dia tak akan pernah mengkhianatimu. Sebab kau tahu pasti mimpi-mimpi dan keinginan-keinginannya, dan kau tahu juga cara menyikapinya - Sang Alkemis

*) "Katakan pada hatimu, rasa takut akan penderitaan justru lebih menyiksa daripada penderitaan itu sendiri, dan tak ada hati yang menderita saat mengejar impian-impiannya, sebab setiap detik pencarian itu bisa diibaratkan pertemuan dengan Tuhan dan keabadian - Sang Alkemis

*) "Bukan cinta namanya kalau hanya berdiam diri saja seperti padang pasir, atau menjelajahi dunia seperti angin. Bukan pula cinta namanya, kalau hanya memandang segala sesuatu dari kejauhan seperti matahari. Sebab saat kita mencintai, kita selalu berusaha menjadi lebih baik - Santiago

*) "Setiap orang di dunia ini, apa pun pekerjaannya, memainkan peran penting dalam sejarah dunia. Dan biasanya orang itu sendiri tidak menyadarinya - Sang Alkemis. (*)
 

Resensi Novel "Sang Alkemis" Karya Paulo Coelho

Cover dari Novel "Sang Alkemis"

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa: Tanti Lesmana
Desain Sampul: Eduard Iwan Mangopang
Ukuran: 13.5 x 20 cm
Tebal: 216 halaman
Terbit: Juni 2012
Cover: Softcover
ISBN: 978-979-22-8520-8
Cetakan ketiga belas: Juni 2012

Rata-rata setiap tahun, muncul sebuah buku yang mengubah hidup para pembacanya selamanya. Novel Paulo Coelho yang memikat ini telah memberikan inspirasi bagi jutaan orang di seluruh dunia. Kisah yang sangat sederhana, namun menyimpan kebijaksanaan penuh makna, tentang anak gembala bernama Santiago yang berkelana dari rumahnya di Spanyol ke padang pasir Mesir untuk mencari harta karun terpendam di Piramida-Piramida. Di perjalanan dia bertemu seorang perempuan Gipsi, seorang lelaki yang mengaku dirinya Raja, dan seorang alkemis—semuanya menunjukkan jalan kepada Santiago untuk menuju harta karunnya.

Tak ada yang tahu isi harta karun itu atau apakah Santiago akan berhasil mengatasi rintangan-rintangan sepanjang jalan. Namun perjalanan yang semula bertujuan untuk menemukan harta duniawi berubah menjadi penemuan harta di dalam diri.

Kaya, menggugah, dan sangat manusiawi, kisah Santiago menunjukkan kekuatan mimpi-mimpi dan pentingnya mendengarkan suara hati kita. Inilah plot yang dipilih Paulo Coelho untuk novelnya yang berjudul Sang Alkemis.

Novel ini bercerita dengan memukau tentang Santiago, bocah gembala Andalusia yang tidak bersekolah karena kedua orang tuanya hanya bekerja sebagai petani. Dan kedua orang tuanya menginginkan Santiago kelak besar nanti untuk menjadi seorang Pastor. Tetapi keinginan Santiago berlawanan dengan keinginan kedua orang tuanya, Santiago hanya berkeinginan untuk mengembara mencari harta duniawinya. Dari kampung halamannya di Spanyol, ia ke Tangier dan menyebrangi gurun Mesir.

Setting inilah, menurut Romerikes Blad ( Norwegia ) dalam pujian internasional untuk Sang Alkemis, yang kemudian menjadi unsur pokok penciptaan suasana, yang diilhami oleh dongeng-dongeng tradisional, dinafasi oleh kitab-kitab suci dan legenda-legenda. Bahkan tidak sungkan Romerikes Blad (Norwegia) menilai karya Paulo Coelho sebagai salah satu dari segelintir karya yang berhak menyandang gelar fenomena penerbitan. (hlm.ii)

Novel ini dimulai dengan pemaparan yang menarik mengenai bocah yang bernama Santiago dengan kawan-kawan ternaknya bermala di sebuah gereja yang terbengkalai dan pohon sikamor yang sangat besar tumbuh di titik tempat sakristis pernah berdiri. Ketika ia sedang tidur Santiago bermimpi yang sama seperti minggu lalu, dan sekali lagi ia terbangun sebelum mimpinya selesai. Lalu Santiago bangun dan mengambil tongkat untuk membangunkan domba-dombanya yang masih tidur. Santiago segera memperhatikan hewan-hewannya yang sudah mulai ribut. Sepertinya ada energi misterius yang menghubungkan hidupnya dengan domba-domba, yang telah bersamanya selama dua tahun, mengembalakan mereka menyusuri pedesaan guna mencari makan dan air. “Mereka sudah begitu terbiasa denganku hingga tahu jadwalku,” gumam si bocah. Memikirkan hal tersebut ia sadar boleh jadi sebaliknya : dialah yang menjadi terbiasa dengan jadwal dombanya .(hlm.6).

Ketika beberapa hari kemudian dia selalu berbicara kepada dombanya hanya satu gadis yaitu, putri pedagang kain. Paras gadis itu khas Andalusia, dengan rambut hitam bergelombang dan mata yang secara samara-samar mengingatkannya pada para penakluk bangsa Moor. Baru kali ini Santiago ingin menetap di suatu daerah.

Santiago berfikir bila suatu hari nanti dia menjadi monster, dan memutuskan untuk membunuh dombanya, satu-persatu. Ia pun terkejut dengan pemikirannya. Dia berfikir mungkin karena gereja itu, dengan pohon sikamor yang tumbuh di dalamnya, ada hantunya. Itulah yang menyebabkan ia bermimpi yang sama dua kali, dan menyebabkan dia merasa geram terhadap kawan-kawan setianya.

Seketika Santiago berfikir untuk mewujudkan mimpi menjadi kenyataan membuat hidup menarik. Lalu ia menemui seorang perempuan di Tarifa, yaitu seorang peramal. Peramal itu berkata, ”dan ini tafsirannya: kamu harus pergi ke Piramida di Mesir. Aku belum pernah mendengar tentangnya, tapi, bila seorang anak menunjukannya padamu, artinya tempat itu benar-benar ada. Di sana akan kau temukan harta yang akan membuatmu kaya.”(hlm 18).

Lalu Santiago melanjutkan perjalanannya untuk menuju ke Piramida di Mesir. Tetapi ketika sedang di perjalanan Santiago bertemu dengan orang tua yaitu seorang raja dari Salem. Raja itu mengetahui maksud perjalanan Santiago, yaitu mencari legenda pribadinya. Raja itu akan memberi tahu bahwa harus pergi ke arah mana agar Santiago sampai di Mesir, tetapi Raja itu meminta imbalan dengan memberinya sepersepuluh dari domba yang dimiliki oleh Santiago. Di tengah alun-alun dengan angin yang mulai kencang. Dia tahu angin apa itu: orang menamakannya levanter, karena pada saat itulah bangsa Moor datang dari kota Levant di ujung timur Mediteranea. ”di sinilah aku, antara kawanan dombaku dan hartaku.” Pikir si bocah. Pada esok harinya Santiago bertemu lagi dengan Raja tua itu. ”Dimana harta karun itu?” tanya Santiago. ”Di Mesir dekat Piramida.” jawab si Raja. Lalu raja itu memberikan dua buah batu yang tertancap di tengah-tengah penutup dadanya, yang diberi nama Urim dan Thummim.

Setelah sampai di Afrika ketika di sebuah kedai dia bercakap-cakap dengan seorang pemuda yang tidak lain adalah seorang pencuri, dan akhirnya uang yang dimiliki oleh Santiago di ambilnya pergi. Santiago harus pergi ke Gurun Sahara tanpa mempunyai uang sepeser pun, untuk meraih legenda pribadinya. Lalu setelah si bocah berjalan, si bocah menemukan sebuah toko kristal dan akhirnya si bocah bekerja di toko kristal tersebut.

Pedagang itu memahami perkataan si bocah. Kehadiran si bocah di toko kristal itu merupakan suatu pertanda dan seiring berjalannya waktu dan mengalirnya uang ke laci, dia tidak pernah menyesal telah mempekerjakan si bocah. Dia mendapat bayaran lebih dari semestinya, karena pedagang itu menduga penjualan tidak akan tinggi, dan sebab itu ia menawari si bocah persentase komisi yang besar. Dia mengira si bocah akan segera kembali ke domba-dombanya. ”mengapa kamu ingin pergi ke Piramida?” tanya si pedagang kristal itu. ”Karena aku selalu mendengar tentang Piramida.” jawab si bcah, tanpa sedikit pun menyebut mimpinya. Harta karun itu sekarang bukanlah apa-apa selain ingatan yang menyakitkan, dan dia berusaha menghindar dari memikirkan hal itu. ”Aku tidak pernah mendengar ada orang di sini yang mau mengarungi gurun hanya untuk melihat Piramida,” kata si pedagang. ”piramida-piramida itu hanya tumpukan batu. Kamu dapat membuatnya di halaman rumahmu. ”si pedagang berkata lagi. ”Bapak tidak pernah bermimpi berkelana.” kata si bocah. ”Bapak hanya ingin menjalankan kewajiban ke lima sebagai seorang muslim, yaitu pergi menunaikan ibadah haji.” jawab si pedagang. (hlm 62).

Setelah beberapa bulan si bocah bekerja di toko kristal itu, lalu si bocah meneruskan perjalannannya untuk pergi ke Piramida. Lalu si bocah bertemu dengan lelaki inggris yang sedang duduk di sebuah bangku panjang di suatu bangunan yang berbau binatang, keringat dan debu. Bangunan ini separuh gudang, separuh kandang. Lalu si bocah bercakap-cakap dengan lelaki inggri itu, ternyata lelaki inggris itu sedang mecari seorang alkemis yang tertulis di suatu buku, alkemis itu termansyur di Arab yang mengunjungi Eropa. Dikatakan bahwa umurnya lebih dari duaratu tahun, dan bahwa dia telah menemukan batu Filsuf dan Obat Hidup. Lelaki inggris itu terkesan dengan kisah tadi. Tapi dia tidak pernah mengira bahwa cerita itu bukan sekedar dongeng, bila seorang temanya-sekembali dari ekspedisi arkeologi di gurun-tidak memberi tahu dia tentang seorang Arab yang memiliki kekuatan-kekuatan yang menakjubkan. ”Dia tinggal di oasis Al-Fayoum,” tutur temannya itu. ”Dan orang-orang bilang umurnya dua ratus tahun dan bisa mengubah logam apapun menjadi emas.” (hlm 77).

Lalu si bocah dan laki-laki itu pergi melewati gurun untuk pergi ke oasis bersama rombongan Kafilah. Gurun adalah hamparan pasir di beberapa tempat dan bebatuan di tempat lainnya. Jika karavan terhalang oleh bebatuan besar, ia harus mengitarinya; bila ada daerah bebatuan yang sangat luas, mereka harus mengitari putaran besar. Kalau pasir terlalu lunak bagi kuku-kuku hewan, mereka mencari jalan yang tanahnya lebih keras.

Di saat lain, muncul orang-orang misterius yang berkerudung; mereka adalah orang-orang Badui yang mengawasi jalannya rute karavan. Mereka memberi peringatan tentang para perampok dan suku-suku buas. Suatu malam, suatu penunggang onta mendatangi unggun orang inggris dan si bocah duduk.”Ada isu tentang perang suku,” ungkapnya kepada mereka. Ketiganya terdiam. Si bocah merasakan adanya rasa takut di udara, meski tak seorangpun yang mengatakan sesuatu. Sekali lagi ia merasakan bahasa tanpa kata-kata...bahasa universal.

”Sekali kamu masuk ke dalam gurun, tak ada jalan untuk kembali,” ujar penunggang unta itu. ”Dan, bila kau tak dapat kembali, yang harus kau pikirkan hanyalah jalan terbaik untuk bergerak ke depan. Selanjutnya terserah Allah, termasuk bahaya.”Dan dia menyimpulkan dengan mengucap kata misterius itu: ”Maktub.”(hlm 89).

Di oasis si bocah bertemu dengan seorang gadis yang bernama Fatimah, seorang gadis yang memikat hati si bocah. Si bocah telah melupakan untuk meraih legenda pribadinya karena ia sudah memiliki satu ekor unta, uang hasil bekerja di toko kristal, lima puluh keping emas dan ia sudah memiliki Fatimah. Di negrinya ia akan jadi orang kaya. Tetapi kata Sang Alkemis semua yang kau punya sekarang bukan berasal dari Piramida. Alkemis itu akan mengantarkan si bocah untuk meraih legenda pribadinya. Dan mereka memulai perjalannya untuk pergi ke Piramida meski sedang terjadi perang suku di gurun tersebut.

Di hari ke tujuh perjalanannya, Sang Alkemis memuruskan membuat tenda lebih awal dari biasanya. Elangnya terbang mencari buruan, dan Alkemis menyodorkan tempat minumnya pada si bocah. ”Kau hampir tiba di perjalananmu,” kata sang alkemis. ”kuucapkan selamat padamu untuk pencarian Legenda Pribadimu.”
”Hanya ada satu cara untuk belajar,”jawab sang Alkemis. ”Melalui tindakan. Semua yang perlu kau ketahui telah kau pelajari melalui perjalananmu. Kamu hanya perlu mempelajari satu hal lagi.”ujar sang Alkemis itu.

Si bocah ingin mengetahui itu apa itu, tapi sang Alkemis memandang ke cakrawala, mencari elangnya. ”Mengapa kamu disebut sang Alkemis?” Tanya si bocah. ”karena memang itulah aku,” Ujar sang alkemis.

”Dan apa yang salah ketika Alkemis-alkemis lain mencoba membuat emas dan tak berhasil melakukannya?”
”Mereka hanya mencari emas,” jawab teman perjalananya. ”Mereka mencari harta dalam Legenda Pribadinya, tanpa benar-benar menginginkan menjalankan Legenda Pribadinya itu.”

”Apa yang masih perlu aku ketahui?” tanya si bocah.tetapi sang alkemis kembali menatap cakrawala.(hlm 145).

"Mengapa kita harus mendengarkan suara hati kita?" tanya si anak, ketika mereka mendirikan tenda pada hari itu.

"Karena, di mana hatimu berada, di situlah hartamu berada."(hlm 148).

***
Akhirnya si bocah tersebut menemukan letak di mana beradanya Legenda pribadinya itu. Tetapi setelah ia menggali di mana hartanya berada, si bocah mendengar suara kaki. Beberapa orang mendekatinya. Mereka menyuruh si bocah untuk terus menggali, tetapi tidak menemukan apa-apa. Ketika matahari terbit, orang-orang itu menghajar si bocah dan mengambil harta yang dimiliki si bocah dan akhirnya si bocah mengetahui di mana hartanya berada.

Si bocah akhirnya mengetahui di mana hatinya berada yaitu dengan kembali lagi ke gereja kecil dan terbengkalai dengan pohon Sikamor yang masih tegak di sakritis. Setelah pagi-pagi ia menggali di dasar pohon sikamor dan setelah setengah jam kemudian, sekopnya membentur sesuatu yang keras. Satu jam kemudian, di hadapannya tampak seperti coin emas Spanyol. Juga ada batu-batu berharga, topeng-topeng emas yang dihiasi bulu-bulu merah dan putih, dan patung-patung batu bertatahkan permata. Perjalanan itu pulalah yang membawanya menemukan cinta sejatinya: Fatima, gadis gurun yang setia menanti kepulangannya.

Membaca novel ini seperti menjelajahi suatu petualangan yang penuh keajaiban dan kearifan mengikuti hati seseorang. Novel ini memuat pesona komis, ketegangan dramatis, dan intensitas psikologis sebuah novel. Serta cerita ini disajikan dengan kelugasan dan kesadaran yang mengangkat pembacanya keluar dari waktu dan memusatkan perhatian pada kisah ajaib tentang seorang pemimpin yang mencari dirinya. Sebuah novel dengan pesan yang jelas bagi setiap pembacanya.

Novel ini tampaknya lebih mengedepankan untuk meraih impian. Itu sebabnya banyak kejadian atau konflik yang yang seharusnya dicantumkan lebih detail dan menarik, tetapi hanya ditampilkan secara singkat tanpa kurang dipahami oleh pembacanya. (*)
 

Dua Tiga (I)


Ilustrasi/ist.
Misteri cinta penuh warna

Tak bisa ditebak

tak bisa ditahan saat mengikuti arusnya

Ia tak layu dimakan usia


Dalam pasungan kau bawa cinta

Terlebih ketika ia merasuk jiwa

Terus menusuk kalbu

Akal pikiran tak bisa dicerna


Walau tidak semua hati mau mengerti

Seperti cintamu yang kokoh berdiri

Mungkinkah sampai kau bawa mati


Dua tiga, harimu berdiri tegap

Dua tiga, kau memberi pasungan pada hati yang lain

Dua tiga, disini bersama tawa dan air mata

Dua tiga, bunga yang kau beri ikut layu

#Anonymus

Jumat, 21 Agustus 2015

Ayah, Happy Birthday

 
Ilustrasi/Ist

Benar kata  Demitri The Stoneheart, "Seorang ayah tidak akan mengatakan bahwa dia mencintai Anda, dia akan membuktikannya dengan perbuatan."

Sore itu kehadiranku disambut dengan sedikit rintik hujan. Langit semakin gelap ditutupi awan bergulung-gulung dengan petir yang sesekali  menyambar tempat yang kutinggalkan selama kurang lebih dua tahun itu. Jutaan rintik air mulai berhampuran di atas aspal tapi tidak berlangsung lama. Nampaknya mentari lebih kuat untuk memancarkan sinarnya di sela-sela gumpalan awan.

Gelora semangat memenuhi jiwa muda, terutama saat rumahku terlihat dari kejauhan. Sepanjang berjalan kaki menuju rumah, bersama langkah kaki yang kuayunkan, jantungku berdebar kencang.

Wajar saja, di rumah itu menyimpan banyak kenangan, juga semakin dekat untuk menjawab kerinduan yang tersimpan lama semenjak kutinggalkan sosok pahlawan  yang mendedikasikan hidupnya untukku dan saudara-saudaraku. Ialah Ayah, malaikat tak bersayap utusan Tuhan bagi kami.

Namaku Grace. Ibu meninggal saat aku berusia 5 tahun. Kini hanya ada aku dan ayah dan ketiga saudaraku yang menjadi bagian dari keluarga kecil ini. Mungkin bagi kebanyakan orang menganggap ibu sebagai seorang malaikat. Tetapi sebaliknya bagiku. Hanya seorang ayah. Ia adalah utusan Tuhan yang memberikan kasih sayang yang sempurna kepada kami.

Memasuki pekarangan rumah yang menyimpan kenangan manis hingga pahit itu, mataku mulai berkaca-kaca. Banyak rasa beradu menjadi satu irama. Aku masih berdiri mematung sembari memandang langit yang mulai berubah warna. Tiba-tiba aku mendengar suara yang tidak asing bagiku di belakang, suara yang begitu sangat kurindukan.

Bapa, kataku spontan dalam hati.

Bapaaaaa!  Aku berteriak kuat-kuat melihat sosok pahlawan yang memikul kayu pulang dari hutan sambil berlari kecil menyambutnya.

Nonaa!!"

Ayah teriak  membalas sambil melempar kayu yang dipikulnya. Aku berlari menggapai dan memeluknya. Air mata kami tak terbendung melepas rindu yang telah lama tersimpan rapat-rapat.

Bapa saya rindu.  Hanya kata itu mampu keluar dari mulutku terus berulang kali. Rasanya dalamnya rindu yang kurasakan selama ini terbayar dengan pelukan dan isak tangis yang kurasakan. Begitu lama kami berpelukan.

Ia memandangku, Kamu siapa nona? Ayah bertanya memastikan siapa diriku.

Saya Grace bapa, kataku.

Wajar pertanyaan itu, karena aku pulang tanpa memberi kabar sebelumnya, begitupun kami anak-anaknya telah meninggalkan ayah kami sendirian karena berjuang mencari ilmu jauh dari ayah.

Ohh, anakku!

Ayah kembali memeluk dan kali ini isak tangis kami semakin meninggi hingga para tetangga kami terharu melihat kami. Ada rasa nyaman, damai, nyaman saat berada dalam pelukan pria hebat ini.

Sementara, matahari lebih condong ke barat dan awan yang menghiasi langit kini mulai berubah kemerahan. Tak lama lagi malam akan segera tiba.

***
Hari ini, di hari istimewanya yang ke sekian ini, aku baru menyadari semuanya. Ia melakukan peran seorang ayah dengan sempurna sebagai kepala keluarga. Sebagai seorang ayah bagi kami, Ia memberikan pendidikan dan bimbingan kepada kami, sekaligus membantu untuk memecahkan masalah yang terjadi guna mencapai kedewasaannya.

Ayah memberi contoh dan teladan agar kami mampu hidup mandiri dan mengenalkan pengalaman-pengalaman tentang objek yang ada  di lingkungan sekitar sebagai bagian dari proses belajar.

Ayah memberikan perlindungan bagi kami, bertanggungjawab pada tugas dan berani mengambil keputusan sejalan dengan  kebutuhan. Ia memperlihatkan sikap kebapaan dan tokoh yang berpribadi matang dan dapat  memelihara kepercayaannya.

Ayah juga lihat dalam urusan rumah tangga, berperan sebagai ibu dengan penuh bertanggung jawab. Baginya, apabila melaksanakan tugas serta tanggung jawabnya dalam mendidik dan mengarahkan anak dengan baik, akan terlahirlah generasi yang baik. Generasi unggul yang tumbuh menjadi seseorang yang berbudi luhur, bertanggung jawab, dan berbakti kepada orangtua.

Sebagai seorang wanita, peristiwa dua puluhan tahun yang silam telah merubah kehidupan menjadi sosok anak yang tumbuh tanpa peranan seorang ibu. Memang semua terbayang sangatlah berat namun kini telah kulalui semua hingga aku tumbuh menjadi seorang yang kuat dan tegar dalam menghadapi persoalan hidup.

Ayah bagiku adalah sosok luar biasa yang memiliki peran ganda oleh keadaan. Ia menjadi sosok ayah yang dengan penuh kasih sayang merawat kami tanpa memikirkan dirinya yang kian tua. Wajarlah jika cinta kasih dari seorang ibu hampir tidak aku dapatkan. Komunikasi terjalin dengan ayah saja. Tentu ada perbedaan. Kepergian ibu itu tentu berdampak pada psikologisku.

Meski kepergian itu sewaktu masih kecil, sering terlintas di bayangku saat mendapatkan kasih sayang ibu. Hal ini sering membuatku seperti orang bodoh yang kehilangan akal sehat. Namun berkat orang-orang yang berada di sampingku, saya tegar dan kuat.

Aku tak pernah kekurangan kasih sayang karena ayah telah memberikan sayang yang lebih kepadaku. Namun tak bisa dipungkiri, kehadiran sosok ibu sangat kurindukan.

Jika cinta seorang ibu seperti madu yang manis, maka cinta seorang ayah adalah segelas teh hangat yang menenangkan. Rasanya memang tak semanis madu, tetapi ada kenyamanan dan kehangatan di sana. Mungkin!

Hari sudah berganti malam. Kini aku di kamar yang telah kutinggalkan beberapa tahun yang lalu

Saya banyak belajar dari Ayah tentang arti sebuah kehidupan. Bahwa setiap jengkal nafas yang kita hembuskan, ada pertanggungjawabannya kepada Sang Maha Kuasa. Bahwa hidup adalah suatu perjuangan. Pantang menyerah! Pantang mengeluh!"

Untuk Bunda, kupikir bunda begitu sempurna. Tidak akan ada wanita yang bisa setangguh bunda yang bisa meninggalkan nafas keibuan dalam keluarga kami hingga kini lewat sosok Ayah.

Dalam diri Ayah, aku yang seorang perempuan seakan melihat rupa Ibu. Ibu pasti juga sesabar dirinya dalam menghadapi setiap hantaman kepedihan. Entah pada saat Ayah jatuh dan menyerah, marah, dalam segala situasi dan kondisi.

Mungkin waktu dapat mengingkari semua asa. Namun hadirmu tak lekang oleh waktu, Ayah. Kau paripurna. Walau saya menjual dunia ini, nilainya tak sebanding dengan hadirmu, pria paling hebat dalam hidup.

Mencintaimu dengan segenap pikiran, perasaan dan jiwa. Thanks for sharing beyond everything for fourth of us.

Ayah, happy birthday 15 Agustus 2015. ***

Sabtu, 15 Agustus 2015

Peran Mambesak Dalam Menumbuhkan Nasionalisme Bangsa Papua Barat


 
Group Musik Mambesak. Ist.

“Saya tidak mau menjadi budak terus. Biar  saya makan kah tidak kah, saya mau berdiri sendiri” (Arnold C. Ap)

Sejarah Mambesak

Penggagas “Mambesak” Arnold C. Ap menyadari akan pentingnya memertahankan kebudayaan dari ancaman budaya modern. Mereka memahami pentingnya budaya dan berusaha untuk menggunakan musik sebagai sarana untuk menyampaikan hak dasar manusia: kebebasan berekspresi. Mambesak dibentuk untuk merevitalisasi tari tradisional Papua Barat, musik dan lagu dan akhirnya memberikan warna tertentu, bentuk dan inspirasi bagi kelahiran musik dan kelompok tari di seluruh Papua, secara aktif mempromosikan dan memperkuat identitas Papua Barat. Pembentukan ini juga adalah bagian dari ketidakpuasan atas hasil Pepera memperoleh pengesahan oleh PBB yang nampak sekali bahwa pendirian suatu negara Papua Barat yang terpisah dari Indonesia terlalu kecil "peluangnya."

Group music Mambesak atau burung Cenderawasih/burung kuning dalam bahasa Biak, menjadi momentum kebangkitan seni dan identitas bangsa budaya Papua. Sebelum memberikan nama Mabesak group ini bernama Manyori yang berdiri pada tahun 1970-an. Anggota/personil dalam group ini diantaranya; Arnold Clemens Ap, Sam Kapissa, Yowel Kafiar, Marthinny Sawaki.

Seperti mottonya, ‘kita bernyanyi untuk hidup yang dulu, sekarang dan nanti’ Mambesak hendak mengatakan nyanyiannya adalah perawat kehidupan orang Papua. Memertahankan budaya lokal menjadi ide dasar Mambesak dengan mengangkat kesenian rakyat yang berakar pada lagu serta tari-tarian yang melekat pada masyarakat Papua. Berangkat dari itu, mereka kemudian terus menggali lagu dan tarian dari seluruh pelosok Papua dengan menampilkan lagu serta tari-tarian tersebut dengan peralatan, Ukulele, Bass, Tifa dan Gitar. Dalam setiap penampilannya, Mambesak menyanyikan lagu-lagu daerah dan menari, tak ketinggalan, mambesak juga menciptakan lagu-lagu dalam bahasa Indonesia berlogat Papua, dimana lagu-lagu tersebut adalah menguraikan tentang unsur-unsur kebudayaan Papua.

Tentunya, Arnold C. Ap sebagai inisiator dalam pembentukan group ini, Ia menggunakan kapasitasnya sebagai ketua Lembaga Antropologi dan kepala museum yang diberi nama Sansakerta, Loka Budaya dan mendirikan sebuah kelompok seni-budaya yang mereka namakan "Mambesak”. Gerakan kebangkitan Seni dan Budayan Papua Barat yang di pelopori oleh Arnol Ap, Sam kapisa dan kawan-kawan mahasiswa uncen lainnya di Jayapura ini lahir pada tahun 1972. Mereka menjadikan gereja-geraja sebagai awal membangun gerakan tersebut hingga terakhir di RRI nusantara V Jayapura.

Gerakan ini tumbuh dan berkembang, kemudian pada tanggal 15 Agustus 1978 menjadikan hari jadi Mambesak. Musik ini oleh Sam Kapisa dan Arnold Ap mengganggap sebagai musik yang suci sehingga mereka menamainya Mambesak yang menurut orang Biak adalah burung suci, dengan tujuan untuk menghibur hati masyarakat Papua yang sedang di intimidasi, dianiaya, diperkosa dan dibinasakan. Musik-musik mambesak memberikan kekuatan perlawanan rakyat Papua dan mengembalikan jadi diri sebagai komunitas yang beda dari bangsa Indonesia.

Namun Mambesak sebagai gerakan kebudayaan yang ingin menyelamatkan serta melestarikan seni, budaya penduduk Irian (sekarang Papua), ternyata dipandang sebagai bahaya "laten" oleh aparat keamanan karena membangkitkan semangat nasionalisme Papua.

Pada akhirnya, tanggal 30 November 1983, Arnold Ap ditahan oleh militer Indonesia. Sebelum dan sesudahnya, sekitar 20 orang Papua yang umumnya terdiri atas cendekiawan, dosen, serta, mahasiswa Uncen dan pegawai Kantor Gubernur Irian Jaya di Jayapura ditahan dan diselidiki karena oleh pihak aparat keamanan diindikasikan adanya aspirasi politik dalam kaitan dengan OPM.                                                                                                   

Penahanan tokoh budayawan Irian Jaya ini berbuntut "hijrahnya" sejumlah dosen, mahasiswa, maupun pegawai Pemda menyeberang perbatasan menuju negara tetangga PNG, pada bulan Februari1984. Hampir pada waktu yang sama, di Jakarta empat pemuda Papua yang mempertanyakan nasib penahanan Arnold AP ke DPRRI, akhirnya terpaksa meminta suaka politik ke kedutaan besar Belanda.

Penahanan tersebut dilakukan karena dicurigai oleh Pemerintah Indonesia sebagai “gerakan politik” yang hendak membangkitkan nasionalisme Papua untuk melepaskan diri dari kekuasaan NKRI. Arnold Ap sendiri dituduh sebagai “OPM kota” yang ikut berpartisipasi dalam perjuangan kemerdekaan Papua. Karena kecurigaan tersebut, akhirnya Arnold Ap dibunuh oleh Kopassandha (kini Kopassus) dan mayatnya ditemukan pada tanggal 26 April 1984 di Pantai Base G, Jayapura, setelah sebelumnya ditahan sejak bulan November 1983 tanpa proses hukum yang semestinya. Pembunuhannya diatur dengan skenario “melarikan diri” setelah sebelumnya secara sengaja dibebaskan oleh Kopassandha dari dalam tahanan. Arnold Ap yang hendak menyeberang ke Papua New Guinea menyusul istri dan anaknya yang telah mengungsi sebelumnya justru ditembak mati. Selain Arnold Ap, rekannya, Eduard Mofu, juga dibunuh dan ditemukan terapung di permukaan air laut Pantai Base G dengan luka tembak di dada dan perutnya.

Kematian sang budayawan, yang dianggap berhasil mengakumulasikan dan mengintegrasikan kebudayaan masyarakat Irian Jaya, dijadikan "simbol" pengukuhan terhadap identitas dan jati diri orang Papua, yang merupakan cikal bakal tumbuhnya rasa nasionalisme Orang Papua.

Selama perjalanan Mambesak, sejak dibentuk pada tahun 1972 hingga 1984, mereka berhasil meluncurkan lima kaset masing-masing; Volume I pada tahun 1978, Volume II 1980, Volume III 1980, Volume IV 1982 serta Volume V tahun 1983.

Situasi Rakyat Pada Masa Kejayaan Mambesak
Lagu-lagu dan tari-tarian daerah yang dikembangkan Mambesak kaya dengan keragamannya karena semua anggotanya mahasiswa Universitas Cenderawsih. Ada juga beberapa PNS diluar kampus yang punya bakat seni bersatu dengan mahasiswa. Waktu liburan, kalau ada mahasiswa yang pulang ke daerah, terutama anggota Mambesak, pulang wajib bawa lagu, kemudian diaransemen di Loka Budaya Uncen.
Selain itu, masyarakat yang mendengar musik Mambesak  langsung mengirim lagu-lagu dari daerah ke Mambesak. Ada yang direkam di kaset, ada yang ditulis tangan lengkap dengan not-notnya, dibawa dan dilatih di Istana Mambesak di Uncen. Sehingga Mambesak tidak pernah kekurangan lagu-lagu dari setiap suku daerah di Papua.

Selain Mambesak, ada kelompok musik lain, seperti Yaromba Apuse, Mansayori, Kamasan, Yance Rumbino dan kelompoknya di Nabire juga dengan musik akustiknya serta beberapa kelompok musik lain, tapi tidak dilanjutkan, karena trauma dengan pembunuhan personil Mambesak. Buntutnya, tidak ada pengembangan lagu-lagu daerah Papua, sehingga hanya terhenti di Mambesak. Dan tidak ada lagi yang melanjutkan atau mengembangkannya. Beberapa group music baru muncul saat memasuki tahun 1990-an dengan menyanyikan lagu-lagu Papua untuk Yosim Pancar yang dibawakan dalam perlombaan, tapi belum ada kelompok atau group music yang menyanyi khusus lagu-lagu Papua seperti Mambesak.

Kehadiran Mambesak disambut antusias oleh masyarakat Papua membayangkan identitas bangsa Papua sebagai ras Melanesia. Kebangkitan budaya Papua yang lama terpendam muncul kembali pada tahun 1970-1980 ketika group music Mambesak hadir ke tengah masyarakat dan begitu tenar di Papua. Lima volume kaset yang berisi reproduksi kembali. Hal itu didukung pula dengan siaran pelangi Budaya dan pancaran sastra yang diasuh oleh Arnold Ap dkk dari Mambesak di studio V RRI Jayapura setiap hari Minggu siang sangat populer.

Sebagai seorang seniman yang sedang berusaha sedang genggam suku-suku di Papua dalam Mambesak, Ia menyadari bahwa dalam hal mengarransement lagu mesti disesuaikan dengan adat dan budaya setempat. Tak heran, hal itulah mendorong masyarakat Papua hingga kini menganggap putra asala Biak ini sebagai seorang Martir.

Semangat Mambesak dalam Menumbuhkan Nasionalisme Papua Barat
Gerakan Mambesak memberikan ispirasi yang kuat dan membangkitan nasionalisme bangsa Papua, sehingga perlawananpun semakin lama mulai menguat di daerah-derah Papua lainnya. Namun sayang, karena oleh pemerintah Indonesia menganggapnya gerakan ini sangat berbahay sehingga mereka menangkap Arnol Ap dan membunuhnya tanpa alasan politik dan keamanan yang jelas terhadap kesalahan yang di Lakukan oleh Al arnol Ap. Gerakan ini melahirkan protes besar-besar bangsa Papua atas kehadiran Indonesia, dengan melakukan Suaka politik dan pengungsian besar-besaran.

Mambesak juga melalui musik dan lagu-lagu khas Papuanya melakukan perlawanan atas ketidakadilan. Adanya fakta sebagai satu kesatuan orang asli Papua dari ras Melanesia yang saat itu tertindas dalam pelanggaran hak asasi manusia dan adanya keinginan untuk menyatukan orang asli Papua sebagai satu bangsa untuk lepas dari penjajahan menjadi alasan yang tidak dapat dilepaskan dari kemunculan Mambesak. Dimana “nasionalisme” Papua yang dibangun saat itu disalah mengerti oleh pemerintah Indonesia seakan-akan dibangun semata-mata untuk kepentingan “Papua merdeka”, padahal penyatuan Papua sebagai satu bangsa dalam negara Indonesia sejatinya bukan hal yang tabu dari persfektif fakta ras, kebudayaan, dan kemanusiaan (karena memang negara ini dibangun di atas fakta keberagamaan ras, suku, bangsa, dan agama).

Gugatan terhadap kolonialisme yang diwujudkan dalam bentuk perbudayakan dan pelanggaran hak asasi manusia dalam bentuk lainnya dan gugatan terhadap “kemapanan yang menindas” oleh oleh rakyat Papua melalui Mambesak dilakukan dengan cara bermain musik dan bernyanyi. Para personil Mambesak bersuara melalui musik dan lagu khas Papua. Melalui musik dan syair lagu-lagunya, Mambesak mengungkapkan segala rasanya, dimana yang mencolok adalah pemuliaan terhadap Tuhan, pemujaan terhadap alam semesta (negerinya), kekaguman dan penghormatan terhadap indentitas dirinya dan bangsanya, gugatan terhadap kolonialisme (dan rasisme), dan cita-cita yang hendak diraih di masa depan.

Nilai-nilai dalam Semangat Mambesak
Sejak kemunculan Mambesak, kata “merdeka” kembali muncul dalam otak setiap manusia Papua, walaupun sebelumnya seringkali dilupakan. Saat mendengarkan lagu Mambesak, tentu saja orang yang lebih tua mengatakan bahwa “itu lagu merdeka” sungguh ampuh. Kata itu menjadi “ajaran” luhur yang tertanam kuat dalam lubuk hati setiap orang Papua. Mendengar musik dan lagu Mambesak berarti mendengar lagu merdeka. Dalam kekuasaan ajaran merdeka, kita yang menjadi bagian dari orang Papua pun tak henti-hentinya mencari esensi kata itu. Kadangkala kita merasa bingung dengan kata itu, sebab “merdeka” itu apakah penting, apakah sesuatu yang akan datang dengan sendiri, apakah sesuatu yang akan diberikan, atau apakah sesuatu yang akan direbut.

Tentunya hal ini adalah corong dari “korban” virus Mambesak dan ajaran merdeka. Virus Mambesak dan ajaran merdeka sudah mewabah kemana-mana di seluruh pelosok Tanah Papua, sudah menjangkiti hampir semua orang asli Papua, bahkan mereka yang bukan non-asli Papua. Ini merupakan sebuah fakta yang sulit ditolak. Mambesak benar-benar menemukan kenyamanan di dalam lubuk hati setiap orang asli Papua, ibarat benih unggul yang menemukan tanah yang subur. Dari sana kerinduan akan Mambesak tumbuh dengan subur, menjulang tinggi, menemukan cita dan cinta yang semestinya. Cita dan cinta itu adalah kemerdekaan; dimana setiap oran asli Papua dapat hidup dengan kaki kokoh dan kepala tegak di negeri leluhurnya. Mambesak adalah “kawan perjalanan dalam siara kehidupan menuju puncak kemerdekaan”. Dalam semangat dan posisi seperti ini, virus Mambesak dan ajaran merdeka menjadi dua sisi mata uang yang saling melengkapi. Mambesak tak penting tanpa merdeka, dan merdeka pun tak penting tanpa Mambesak.

Mambesak mempunyai ribuan penggemar yang fanatik di Papua, terutama orang asli Papua. Hal ini dapat dilihat dari adanya upaya dari sejumlah pihak untuk membangkitkan kembali Mambesak, adanya kegemaran sejumlah orang asli Papua untuk mendengarkan lagu-lagu Mambesak, adanya sejumlah aksesoris (terutama pakaian) yang disablon dengan foto Arnlod Ap, dan adanya sejumlah tulisan yeng bertemakan Mambesak dan Arnold Ap yang ditulis oleh sejumlah orang.

Jika melihat perbandingan antara Rastafari dan Bob Marley dengan Mambesak dan Arnold Ap, maka terdapat tujuh kesamaan yang mencolok. Hal semacam ini bukanlah sebuah kebetulan, sebab hal semacam ini sesungguhnya merupakan fenomena global. Banyak gerakan sosial (politik/keagamaan) dan banyak musik dan lagu lahir sebagai wujud perlawanan terhadap penjajahan (atau sebut saja “kemapanan yang menindas”) dan untuk menemukan dan menegakkan jati diri sebagai manusia yang merdeka. Pilihan perjuangan dengan cara seperti ini juga pernah dilakukan oleh group musik, musisi dan penyanyi lain seperti John Lennon, Lucky Dube, Black Brothers, dan banyak group music lainnya.

Dengan demikian, sesungguhnya latarbelakang lahirnya Mambesak, dinamika dalam perjalanan Mambesak, dampak dari adanya Mambesak, dan tujuan akhir dari Mambesak sesungguhnya sama atau serupa dengan gerakan sosial (politik/keagamaan), musik, dan lagu yang pernah dan sedang bermunculan di berbagai belahan dunia lainnya. Yang pada umumnya inti dari gerakan sosial (politik/keagamaan) seperti ini adalah karena hendak menemukan dan menegakkan jati dirinya sebagai manusia yang sesungguhnya.

Seni menurut Bhikkhu Dhammasubho Mahathera, adalah “Sentuhan Nurani”. Untuk itulah seni menjadi ukuran suatu bangsa manusia. Semakin halus nuraninya, semakin tinggi karya-karya nuraninya. (#MC2)

Referensi:
1.    Yakobus O. Dumupa (2014) “MAMBESAK: Ungkapan Perasaan Bangsa Papua” Odiyaiwuu.com
2.    I Ngurah Suryawan (2011) “Ukulele Mambesak Membayangkan Identitas Budaya Papua 1970-1980-an” Etnohistori.org
3.    Bernard Agapa (2010) “Arnold Clemens Ap” Lovepapua.com
4.    Max Binur, (2005) “Menari dan Menarikkan Airk Mata Papua” Prakarsa Rakyat, inisiatif perlawanan local Simpul Kepala Burung Papua Periode Juli-September 2005.


NB: Materi ini dibawakan saat seminar dalam memperingati 43 tahun Mambesak, di Asrama Papua, Yogyakarta, 14 Agustus 2015




Kupercaya Ada Saatnya untuk Kami, Tuhan!


Ilustrasi/Ist
Tuhan...
Gelora hati terus memaksa
Ia hadir bagai duri yang terus menusuk
Memenjarakanku pada belenggu yang sungguh memuakan
Bagai sekeping batu yang sepertinya ingin ku pecahkan

Tuhan….
Aku paham, dalam sepuluh amanat-Mu
Pada nomor yang kesepuluh
Dengan tegas kau tuliskan
Jangan mengingini kepunyaan orang lain
Aku paham itu.

Jujur….
Aku iri melihat bendera mereka dipasang di setiap lorong jalan
Tampaknya, mereka semangat untuk menyambut HUT mereka
Terkadang imajiku liar,tak tenang
Tatkala melihat sang merah putih dikibar
Otakku diincar beraneka pertanyaan
Bendera mereka boleh dikibar
Kenapa 3 warna milikku dibatasi, bahkan dilarang berkibar?

Kuingin bertanya, Tuhan
Sudah dipelupuk mata kan?
Tuk nyatakan nubuat-Mu
Karena Engkau tak apatis terhadap kami
Selayaknya para pemimpin kami di dunia
Kami tetap menunggu
Menantikan "Bintang Kejora" dengan gagahnya berkibar di langit biru

Karya: Degei Hok Gie 

Senin, 10 Agustus 2015

Tulus


Ilustrai/Ist.

Langit biru...
Ijinkan aku singgah
Akan aku pahat sebuah nama
Mengukirnya dengan tinta emas
Menaburkannya penuh kasih sayang
Menghiasi pelangi yang takan pernah pudar

Walau rapuh dipersimpangan
Ketulusan meluluhkan rasa yang memilukan
Indah…..

Saat kegelapan menutupi jagat raya
Ketika jiwa berpetualang lepas
Bersama bulir-bulir mimpi tersisa
Terjaga raga dari sepenggal kisah

Salahkah hati punya rasa
Merasuk jiwa penuh makna
Mengukir lembaran sanubari begitu indah

Jika cinta tak butuh logika
Mungkin naluri hati yang bicara

Maco Alba

Minggu, 09 Agustus 2015

Sang Pedanda Baka, Sebuah Cerita Tentang Kepalsuan


Ilustrasi Bangau/Ist.
“Dia dataaang!”

Teriak si Kodok Hijau pada ikan-ikan yang sedang berlalu lalang di telaga dengan penuh ketakutan kemudian melompat ke atas daun teratai untuk mencari tempat persembunyiannya.

Ikan-ikan itu pun ikut berlari, mereka menjadi panic, berenang ke sana-sini untuk menemukan tempat persembunyian paling aman. Semua berlari dengan penuh teriakan, tangisan dan kekawatiran yang mencekik sampai keahlian berenangnya pun berkurang.

Di angkasa tampak seekor burung terbang memutar mengitari telaga. Tidak jelas burung apa itu, sebab cahaya sang surya mengaburkan wujud aslinya dan hanya menyisakan bayangan. Perlahan, burung itu turun, lalu menginjakkan kakinya di penggir telaga.

Kepalanya memakai ketu, bulunya putih bersih laksana jubah seorang pendeta agung. Jalannya anggun, tenang dan penuh wibawa. Di atas batu pinggiran telaga kemudian dia duduk bersila, memejamkan matanya, lalu Nampak masuk dalam kedalaman meditasinya.

Si kodok hijau yang sedari tadi  bersembunyi di atas daun teratai, menutupi dirinya dengan keindahan bunga, merasa heran memandangi burung bangau itu.

“Nampaknya burung bangau itu bukan burung bangau biasa” Pikir si kodok, “di lebih Nampak sebagai seorang pendeta”

Dengan kaki gemetaran, dengan mengabaikan sisa takutan yang memberatkan langkahnya, lalua di mulai menyingkap bunga teratai yang menyembunyikan tubuhnya. Rasa ingin tahu dan rasa penasarannya pada Bangau berjubah pendeta itu ternyata telah mengalahkan rasa takutnya.

Sementara di bawah telaga, diantara pojokan batu, diantara rerumputan bawah air, para ikan masih sembunyi. Mereka berusaha setenang mungkin, berusaha tidak ada suara pun yang keluar sehingga bisa mengesankan kalau telaga itu sunyi sepi tanpa penghuni.

Anak-anak ikan didekap oleh ibunya, agar mereka tidak menangis. Keluarga ikan ditenangkan oleh pria-prianya yang meski pun juga dilanda berbagai kengerian, namun tetap berusaha menjalankan tanggung jawab kepriaannya.

“Tenanglah, kita akan baik-baik saja” Kata seekor ikan emas menenangkan istrinya, sambil pula kata-kata itu dia ucapkan pada dirinya sendiri, untuk menenangkan dirinya sendiri.

Sementara seekor ikan buruk rupa sedang berusaha menenangkan bayi ikannya yang meringis kesakitan karena saat mereka berlari mencari persembunyian dia menabrak batu tajam.

“Ayo tenangkan anakmu!” Teriak suami si ikan buruk rupa itu, seolah anak yang sedang ketakutan itu bukanlah darah dagingnya, “Atau kita semua akan dimakan bangau itu!”

Sementara si anak tetap meringis, si ibu menenangkannya dengan suara lebut yang bergetar karena bercampur ketakutan.

Di atas telaga, sang katak hijau kemudian, dengan keringat dingin, dengan tetap menjaga jarak menyapa sang Burung Bangau itu,

“Si..siapakah anda, wahai bangau” Tanya katak hijau dengan suara yang dengan susah payah dikeluarkannya.
Burung berketu deng berhiaskan berbagai genitri itu kemudian perlahan, dengan tenang, sambil tersenyum membuka matanya.

“Aku?” Suara bangau itu begitu berbeda, begitu mendamaikan, begitu menenangkan. “Aku adalah sahabatmu”

Si katak hijau semakin tenang karena pembawaan tenang sang bangau. Apa lagi setelah mendengar kata-katanya, dia menjadi semakin nyaman untuk melontarkan pertanyaan berikutnya.

“Apakah kau datang untuk memangsa kami, para penghuni telaga?” Kata si katak hijau sambil berharap bangau itu akan menjawab dengan kata, “tidak”.

“Anakku,” Sapa Bangau Pendeta itu selayaknya seorang kakek yang penuh kasih sayang menyapa cucu tercintanya, “Aku tau kalian telah hidup dalam ketakutan begitu lama di telaga ini.

“Aku tau, banyak dari kalian yang telah kehilangan anak, istri, dan karabat yang satu persatu dimangsa burung-burung bangau kejam di sekitaran telaga ini.

“Tapi, aku bukanlah bangau pemangsa.
“Jika aku memang berniat memangsamu, bukankah kau bahkan tidak akan punya kesempatan bertanya padaku?”

Si katak mulai makin tenang, gemetaran di tubuhnya berkurang, nafasnya menjadi makin ringan, dan dia mulai memberanikan diri untuk semakin mendekati sang bangau.

“Lihat,” Kata Sang Pendeta dengan senyuman penuh pujian, “Dalam hatimu kau tau kalau aku tidak ada di sini untuk memangsa kalian, karena itu kakimu melangkah makin dekat padaku, karena itu ada keberanian yang menyala di hatimu untuk mendekatiku.”

Pernyataan itu, membuat si katak hijau semakin nyaman.

“Lalu,” katak hijau mulai berbicara dengan tenang, “untuk apakah anda di sini, kalau bukan untuk mencari mangsa?”
“Anakku,” Sapa hangat sang Pendeta Bangau,”aku tau hatimu sangat baik, karena itu hatimu yang baik itu menuntunmu untuk menemukan kebaikan dan menyapaku.

“Dan, aku di sini untuk mewujudkan kebaikan yang diharapkan hatimu itu”
Sementara si katak hijau dan sang Pendeta Bangau sedang bercengkrama, ternyata getaran rasa aman si katak hijau itu ikut dirasakan ikan-ikan dan penghuni telaga lain yang sedang bersembunyi di bawah air.

“Sepertinya, itu bukan bangau pemangsa” Bisik seekor ikan pada ikan lainnya.
“Iya,”sahut ikan tadi dengan suara yang sangat diupayakannya tidak terdengar lebih dari jarak antara dia dan sahabatnya itu.

Sebagaimana mereka berdua, ikan-ikan lain pun telah bergeser dari takut jadi penasaran, Biasanya seekor bangau akan datang mengobrak-abrik seisi telaga yang bisa dijangkaunya, untuk mencari ikan-ikan yang bisa dimangsanya. Tapi, bangau satu ini nampaknya sangat berbudi, tidak seperti bangau-bangau yang datang sebelumnya.

“Aku tau penghuni telaga ini adalah mahluk baik yang selayaknya hidup bebas dan bahagia, tanpa dihantui terror akan pemangsa apa pun. Dan, ijinkan aku mengajarkan caranya pada kalian”

Kata Sang Pendeta Bangau pada Katak Hijau, sambil melirik ke telaga berharap ikan-ikan yang menjawabnya.

Girang kehidupannya akan segera berubah, senang ketakutannya akan segera musnah, kemudian si katak hijau berteriak lantang,

“Keluarlah, beliau benar-benar baik!”

Satu per satu, ikan-ikan yang tadinya bersembunyi itu menunjukkan kepalanya ke permukaan, antara takut, penasaran dan keinginan kuat untuk meyakini kalau benar-benar ada sosok penyelamat di telaga mereka.

Dilihatnya Sang Bangau itu berpenampilan layaknya pendeta, duduk bersila layaknya sedang bertapa, dan tersenyum ramah layaknya seorang maharaja bijaksana. Mereka pun merasa nyaman dan tenang dengan pemandangan yang ditangkapkan matanya untuk mereka.

“Belia adalah pendeta,”Seekor ikan berbisik diikuti ikan-ikan lain yang mulai saling meyakinkan kalau pendeta itu adalah sosok penyelamat yang mereka butuhkan.

“Anak-anakku” Kata sang Pendeta Bangau dengan nada nan lembut yang belum pernah didengarkan para ikan itu dari bangsa pemangsa,
“Kalian takut padaku karena kalian ingin menyelamatkan diri dan keluarga yang kalian cintai, dan itu membuatku senang karena itu artinya kalian adalah mahluk-mahluk penyayang.

“Namun bukan aku yang perlu kalian takuti, karena aku justru datang untuk membantu kalian untuk menciptakan keselamatan bagi semua yang kalian kasihi dan penghuni telaga ini.
“Mendekatlah padaku,” Sambil ia berdiri dengan anggun mengambil tetekennya.
“Benar” si katak hujau menimpali, “jika beliau memang mau memangsa, aku pasti sudah mati dari tadi”

Satu per satu ikan-ikan itu mendekat, dan mereka benar-benar merasa aman karena bahkan setelah mereka ada dalam jarak yang cukup untuk sang pendeta bangau menerkamnya, mereka masih baik-baik saja.

Setelah beberapa lama, Sang Pendeta menceritakan banyak kisah, menuturkan banyak kebijaksanaan, mengutipkan banyak isi lontar, bermain dengan anak-anak, menyapa para penguhi telaga. Rupanya para penghuni telaga itu telah menerima sang bangau sebagai suryanya.


Berita tentang Sang Pendeta Bangu telah tersebar ke seluruh antero telaga, semua saling membericarakan rasa penasaran dan rasa ingin tahunya dengan nada seolah-olah mereka sudah tahu siapa pendeta bangau itu. 
Semua berbicara tentang kehidupan baru yang akan segera mereka songsong karena kini ada Sang Pendanda yang akan memberi sinar untuk gelapnya kehidupan mereka yang penuh terror dan ketakutan.

Katak Hijau dan ikan-ikan yang sempat menerima ajaran suci sang pendeta menjadi pengkabar, dan bahkan mereka yang tidak tapun mulaibergosip seolah mereka lah yang paling tahu siapa pendeta suci yang mengunjungi telaga mereka itu.

Suasana telaga benar-benar telah berubah, mereka mendapat gairah dan harapan, dan itu membuat kehidupan di telaga berjalan dengan nuansa yang sangat berbeda.


Hari itu, ikan-ikan yang sedang asik bercengkrama dan beraktifitas seperti biasa tiba-tiba tercengang. Mereka melihat sosok di kejauhan berlari mendekati telaga, tidak jelas siapa, tapi dari bayangan sepintasnya, itu adalah seekor bangau.

Tidak lagi berpikir panjang, didorong naluri untuk bertahan hidup, mereka kocar kacir berlari menyelamatkan diri.
 
Untunglah, sang katak hijau mengenalinya, mengenali idolanya. Sang Pendeta.

“Tenang, tenang” Teriak katak itu, “Itu adalah Ratu Pedanda

Kali ini Bangau Pendeta itu datang tergopoh-gopoh, tidak seperti awal kedatangannya.

“Berkumpullah di sini anak-anakku” Katanya dengan nafas tersengal-sengal ”Aku punya berita buruk untuk kalian”

Setelah beberapa saat, dibantu sang katak hijau, kemudian penghuni telaga itu berkumpul di hadapan sang pendeta, terheran-heran karena pasti ada hal yang sangat penting.

“Ini adalah kabar buruk” Sang Pendeta mulai berkata, “Bahkan untuk menyampaikannya pada kalian pun hatiku sudah sakit”

Suara bergemuruh mulai terdengar, satu dengan yang lain mulai saling bertanya ada apa gerangan.

“Petani desa pemilik ladang ini,” Kata sang pendeta dengan suara gemetaran setengah sedih setengah marah, “Akan mengeringkan telaga kalian dan merubahnya menjadi sawah!”

Kekagetan dan kompak terdengar.
Telaga tempat mereka hidup dari satu generasi ke generasi akan dikeringkan, “Kita akan hidup dimana?” Kata seekor ikan.

“Tanpa telaga kita semua akan mati” Seekor kepiting menimpali.
“tenang… tenang… biarkan beliau melanjutkan dulu” Perintah si katak hijau.
“Hari ini juga” Kata sang bangau, “persiapkan diri kalian.
“Aku akan mengungsikan kalian pergi.
“Di balik bukit itu, di dekat pertapaanku ada sebuah telaga yang jernih dan luas, aku akan membawa kalian ke sana”

Kembali kerumunan ikan-ikan itu berbisik satu denan yang lain.

“Dan yang lebih penting” Lanjut sang pendeta, “Tidak pernah ada bangau yang datang ke sana.
“Inilah saatnya kalian menyongsong kehidupan baru”

“Tapi tentu saja kalian bebas memilih” lanjut sang pendeta lagi, “bergegas pergi atau diamlah di sini dan tunggu kematian menjemput kalian”
Mereka ragu. Mereka takut. Tapi mereka tidak punya pilihan.

“Tunggu apa lagi?” Kata si katak hijau, “Bergegaslah!”


Sekelompok ikan ditaruh diantara paruh sang pendeta bangau, lalu diterbangkannya dari telaga itu, beberapa ditempatkannya di mulut agar lebih banyak yang terangkut.

Tidak sedikit jumlah ikan di telaga itu, jadi tidak cukup sehari waktu yang dibutuhkan untuk mengangkut mereka.

“Kamu pergilah dulu” Kata seekor ibu ikan pada anaknya, karena sudah penuh daya angkut sang pendeta. Si anakpun dicengkeram dan dilarikan dengan tangisan karena berpisah dari ibunya.

Ikan yang masih tersisa menunggu dengan ketegangan. Petani desa itu bisa datang kapan saja, dan mereka bisa mati kapan saja, sementara hanya sang bangau yang bisa mereka harapkan untuk menyelamatkan jiwanya.

Si katak hijau, yang paling penakut diantara mereka, pergi paling awal, mengambil tempat di paruh bangau.
Mereka memang ketakutan, namun mereka juga senang, sebab telah dikirimkan pada mereka sosok penyelamat.


Hari ketiga, telaga itu sudah benar-benar sepi. Semua ikan dan penghuni telaga telah pergi dari sana, meninggalkan telaga yang menjadi rumah bagi begitu banyak keluarga penghuninya.

Tinggal seekor kepiting.

Kepiting itu yang dari awal membantu ikan-ikan untuk naik ke paruh bangau, menyelamatkan ikan-ikan iku terlebih dahulu. Dari penampakannya memang kelihatan kepiting itu baik budi, cerdas dan pemberani.

Di rela pergi paling belakang demi menolong ikan-ikan yang disiksa ketakutan. Bukan karena dia tidak puya rasa takut, tapi karena dia tidak membiarkan dirinya ditindas ketakutan.

Baginya, bukan bangau pemangsa atau petani desa yang menindas kehidupan mereka, tapi ketakutannya sendiri.

Toh, baginya, kematian adalah kepastian, jadi tidak dibiarkannya jiwa yang menjadi gairah kehidupannya mati terlalu dini karena rasa takut akan kematian itu sendiri.

“Mari, bergegaslah anakku” Sapa sang pendeta dengan wajah ramah seperti biasa setelah turun dari udara.
“Terimakasih, Ratu Pedanda” Kata kepiting, kemudian mendekat.

Betapa senangnya kepiting yang sedang terbang bersama pendeta bangau itu.
Kepiting terbang di atas bangau. Itu membuatnya tertawa dan bersyukur.

Dia menikmati hembusan angin yang bergulung-gulung dan menampar lembut kulitnya, pemandangan udara yang bisa ditangkap oleh matanya. Dia memang selalu tahu cara menikmati kehidupan.

Tapi….
Keceriaan wajahnya itu berubah saat ia mencapai daerah belakang bukit yang dijanjikan. Saat sang pendeta yang mempesona itu mulai turun dan merendahkan terbangnya.

Pemandangan yang dilihatnya benar-benar menyayat hati.

Tulang-tulang ikan. Kodok yang mati. Bangkai saudara-saudara setelaganya berserakan. Dia hampir tidak mempercayai matanya sendiri atas pemandangan yang disaksikannya itu.

Dia tahu tempat bangkai berserakan itu adalah kediaman sang pedanda. Dilihatnya tongkat sang pendeta dan beberapa genitrinya bergantungan di sana, diantara mayat-mayat ikan yang dibantunya naik ke paruh bangau itu.

“Kau…” Katanya dengan suara gemetaran, “Memakan mereka semua?”

Tersenyum licik, pendeta itu menjawab, “Kalian memang baru sadar setelah di ketinggian ini, kalian semua. Sadar saar sudah terlambat”

“Jadi, benar-benar kaulah yang membunuh mereka?” Kata si kepiting lagi berharap bukan pendeta yang telah dinobatkan sebagai juru selamat telagalah yang tega melakukan itu.

“Bukan anakku,”Sahut bangau itu dengan senyuman, “Bukan aku yang membunuh mereka, tapi diri mereka sendiri.

Ketakutan dan haparan merekalah yang membunuh mereka”

Seketika itu, kesedihan sang kepiting berubah menjadi amarah. Amarah yang tak terhingga.

Krekkkkk!!!

Dijepitnya leher bangau itu, sampai berteriak kesakitan, lalu mati setelah pontang panting mendarat diantara bangkai ikan yang dijadikannya makanan. Bangkai ikan-ikan yang berharap sosok penyelamat atas kehidupan mereka, bangkai ikan yang selalu dihantui ketakutan.

SELESAI
___________________________________________________________________________________
Footnote:
  1. Ketu: Mahkota yang biasa dipakai para pendeta
  2. Tetekan: Tongkat, biasanya para pendeta di Bali selalu membawa tongkat ini sebagai symbol penuntun dan pemberi jalan umat.
  3. Genitri: Tasbih yang dijadikan hiasan para pendeta dan digunakan untuk pemujaan.
  4. Ratu Pedanda: sebutan untuk pendeta di Bali

Jumat, 31 Juli 2015

Semestinya Kamu

Ilustrasi/ist
Semestinya itu kamu,
Tempatku berlabuh dari penatnya dunia
Denganmu, kedamaian itu kekal

Semestinya itu kamu,
Alasanku untuk berbagi tawa
Dalam kebersamaan yang tiada batasnya
Karena, dalam berdoa pun kurasakan kehilangan

Tersadar,
Bahwa jemarimulah yang dulu melengkapi ruang di sela-sela jemariku

Yang kudamba,
Kelak bersamamu menghabiskan masa senja dalam suka cita
Setelah menjadikan keterpurukan menjadi awal kebangkitan bersama

Maco Alba

Selasa, 28 Juli 2015

Terpasung

Ilustrasi/Ist.

Keping-keping rahasia menjangkau dalam dada
Berdendang dalam relung hati
Menarikan cinta bergaram sepi dan kecemasan
Kau terus nyalakan kata membakari dusta

Hingga leleh karat topeng-topeng
Bebungaan tumbuh mengiringmu
Langkahmu pun menjelma tarian benderang
Lebih dari sekedar rintik hujan

Di sini...

Sebuah jiwa terpasung dalam kesendirian
Di antara tembok tua dengan tawa penuh sindir
Hanya terpaku berharap keajaiban
Tanpa sepatah kata sanggup terlontar

Bersama kepasrahan meniti hari
Terus menggerutu dalam hati
Tak adakah sedikit kesempatan melintas
Tuk nikmati dunia yang terpampang luas
Agar jiwa ini terbebas dari pasungan

By: Maco Alba

Aku Peluru Ketujuh

Mayat Mako Tabuni Saat disemayamkan di RS. Bhayangkara Jayapura. ISt.

untuk mengenang kembali setahun kematian sang pahlawan, Musa Mako Tabuni, pada 14 Juni 2012)

Malam masih mengepakkan sayapnya, menyelimuti kota tua di pantai utara Papua, kota Hollandia. Kota tua itu punya sejarah, menjadi pelaku sejarah, sekaligus menjadi saksi bisu atas serentetan peristiwa sejarah yang mengalir bagai air.

Subuh itu tepat pada hari Kamis. Udara sepi, tidak berseliweran sebagaimana biasa setiap pagi. Di Abepura, seputaran lingkaran Abe, Ekspo, Waena, semua jalanan masih sepi. Baru pukul 4 pagi. Begitu juga dengan kota Jayapura yang terletak tepat di bibir pantai utara.

Sentani juga begitu tenang. Ketenangan dan keheningan itu bertentangan dengan jiwa sebutir peluru yang sedang berlari kencang. Ia terus berlari, berlari dan berlari. Nafasnya tersendat-sendat.

Keringat bercucuran jatuh dari dahinya. Baju kumal yang ia kenakan telah basah bermandi keringat. Di sana, di tubuh peluru itu, ada percikan darah segar yang masih menempel, yang menjadi begitu cair kala berpadu dan berbaur dengan keringatnya yang kian deras. Ia telah jauh berlari.

Sementara itu, di komplek Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Fajar Timur Abepura, seorang imam sedang duduk di dalam ruangan. Temaram cahaya sebuah lilin berukuran besar menerangi ruangan itu. Pada dinding ruangan itu tampak beberapa lukisan rohani. Ada lukisan Tuhan Yesus. Bunda Maria. St. Fransiskus Assisi. Ada gambar Merpati, lambang Roh Kudus.

Pastor Jhonannes Philipus Kegou, asal Kepugei, Pihaihe, Pegunungan Tengah Papua, Selatan Pegunungan Mapiha, itulah namanya. Pastor itu sedang meditasi. Tangannya dengan ringan ia letakkan di atas kedua pahanya. Nafasnya teratur bahkan terlihat tidak bernafas, saking tenangnya. Di depannya, Alkitab telah terbuka. Hanya badannyalah ia di dalam ruangan itu.

Rohnya, jiwanya, sedang berpadu dalam alam sana, menimba banyak nilai dari alam nilai, menimba banyak kebijaksanaan dari alam kebijaksanaan. Menimba banyak ketenangan dari alam ketenangan, menimba banyak kesejukan untuk hati dari alam kesejukan.

Tiba-tiba, pastor kembali mengatur pernafasan. Sesaat kemudian, ia kembali bernafas normal, dengan mata tetap terpejam.

Sesaat setelah detik itu, terdengar derap kaki tergesa-gesa menaiki tangga rumah, dan di dalam ruangan itu, Pastor Kegou telah tersenyum menyambutnya, jauh sebelum pintu diketuk.

"Silahkan masuk nak..."

Sesaat kemudian, pintu diketuk. Sekali lagi, Pastor Kegou mengulangi kata-katanya. Pintu perlahan terbuka, dan masuklah peluru itu.

Pastor Kegou mengamati tubuhnya. Nafasnya masih tersendat-sendat.

"Atur nafas anakku.."

"Maaf Pastor. Aku harus cepat mengatakan apa yang ingin aku sampaikan. Tolong lindungi aku Pastor. Mereka sedang mengejarku."

"Siapa yang mengejarmu?"

Alis mata Pastor berkerut. Ia menatap sebutir peluru itu dalam-dalam, kemudian matanya berhenti pada noda darah yang tampaknya masih belum mencair dan hilang oleh keringat, lantaran telah membeku.

"Mengapa ada noda darah itu di tubuhmu?"

"Maaf Pastor. Justeru karena itu aku melarikan diri kepada Pastor. Tolong lindungi aku."

"Aku dipaksa melakukannya Pastor." Dan kemudian, beruntun butir peluru itu menceritakan kisahnya hingga ia sampai pada Pastor. Ini ceritanya:
Aku adalah sebuah peluru. Dibuat dari biji besi yang berada jauh di dalam tanah tempat kita tinggal ini, tepat di bawah gunung Salju, Erstberg.

Aku dikeruk oleh sebuah alat raksasa. Kemudian, aku dilebur di dalam sebuah wadah panas. Aku menjadi seperti lumpur. Setelah menjadi seperti lumpur, aku dialirkan melalui sebuah pipa, hingga aku sadar, aku sedang berada pada sebuah kapal raksasa.

Aku adalah biji besi dari tanah ini. Kapal itu membawaku dalam bentuk bubur, seperti lumpur. Kemudian aku tiba di sana, di sebuah kota yang tidak aku kenal. Aku dengar, orang-orang berkulit merah mengatakan, tanah itu Amerika. Ya, aku ingat, itu Amerika Serikat. Aku telah tiba di Amerika Serikat.

Aku tidak tahu, berapa hari kami berlayar. Aku tidak mengenal siang dan malam di dalam kapal, karena aku diberi penerang, dan diatur temperatur suhunya, tak dapat bergerak, dan tidak dapat melarikan diri, kecuali pasrah.

Kemudian, sesaat setelah aku tiba di pelabuhan yang paling ramai itu, aku kemudian dibawa menggunakan truk raksasa. Dari sebuah pabrik raksasa, aku diolah.

Banyak campuran yang tidak aku ketahui namanya telah bercampur bersamaku, hingga aku sadar, dan semakin sadar, kalau tubuhku tidak lagi seperti bubur, tetapi menjadi lebih cair.

Kami dipisahkan. Kebetulan, aku dibawa, dan dituangkan ke tempat pembuatan peluru. Semua alat bekerja otomatis. Tidak kulihat seorang manusia pun di sana. Hanya beberapa orang. Kemudian aku sadar, bahwa aku telah dibuat menjadi sebutir peluru.

Sampai pada saat itu, aku hanya mampu menangis. Aku sadar, aku dibuat untuk menerjang, menembusi dada lawan. Tugasku adalah membuat orang yang diperintahkan padaku untuk ditembusi, aku tembusi, hingga mati. Aku sadar, dan telah menjadi kebiasaan kami para peluru, bahwa menjadi kebanggaan kami, bila kami berhasil menembusi dada lawan.

Aku dikemasi, dan diberi label. Kemudian, aku dimasukkan ke dalam sebuah ruangan besar. Aku kemudian bertemu dengan banyak teman-temanku, para peluru.

Baru aku tahu dari percakapan beberapa orang, bahwa aku sedang dalam kapal, dikirim ke Indonesia. Indonesia, nama yang asing bagiku. Entah sebuah kota, barangkali sebuah tempat perang, itu pikirku.

Sampai pada pelabuhan Tanjung Priok, aku diturunkan. Bersamaku turun pula teman-teman biji besi dari Papua yang kini telah dibuat menjadi peluru, senjata, dan beberapa alat perang lainnya.

Untuk enam bulan pertama, aku masih dapat bernafas lega, karena aku masih aman di dalam gudang senjata pusat TNI. Pada hari pertama, habis lepas bulan keenam, aku dibawa menuju pelabuhan.

Besertaku, banyak juga prajurit serta. Ketika aku ketahui kapal yang aku tumpangi menuju Papua, sungguh, aku bangga. Aku senang. Aku kembali ke tanah airku.

Tetapi bila aku tahu sedari awal apa yang bakal terjadi saat ini, lebih baik bagiku untuk bunuh diri, lompat dari kapal ke dalam laut saja waktu itu. Akh, tapi tak tahu hari esok. Yang aku tahu, adalah rangkaian saat ini-saat ini, yang terus membentuk masa lalu, dan harapan akan hari esok yang aku buat. Itu saja.

Aku kemudian dimasukkan ke dalam senjata seorang tentara. Sekitar satu bulan aku berada di dalam senjata itu. Beberapa peluru pertama telah keluar, dilesakkan, entah mengenai siapa, aku tidak tahu, karena saat itu, aku masih di dalam senjata.

Aku tak dapat melihat jelas. Yang jelas, semua dilesakkan dari tanah Papua, tanah asalku. Tanah tempat aku terbentuk, jauh di dasar gunung Salju, Erstberg.

Baru pada waktu itu, beberapa peluru terdepan ditembakkan. Tibalah giliranku ditembakkan. Sebagai peluru, aku bersiap menerjang apa saja yang menjadi tujuan bidikan tuanku, tentara itu.

Dari corong lubang tempat keluarnya peluru, aku melihat. Di atas tanah, seorang lelaki Papua telah berkalang tanah.

"Tuhan Yesus," suaraku tertahan.... "Itu Musa Mako Tabuni!"

"Tidakkkkkk......" pekikku dengan air mata menetes.

Aku ingat pada ibuku, yang ketika kecil, ketika aku masih bersama ibuku, tepat pada saat-saat terakhir kami bersama sebelum kami dipisah-paksa dari perut bumi Papua, dengan cucuran air mata, aku lihat dan dengar dengan mata telingaku sendiri, ibuku berdoa memohon kekuatan dan berkat bagi orang yang bernama Musa Mako Tabuni.

Dalam doa ibuku pula, aku dengar, ia pejuang tanah dan bangsa yang hidup di atas tanah tempat kami tinggal.

Juga, dari ruangan militer itu, juga aku telah lihat foto orang yang menjadi target tembak, ia disebut Musa Mako Tabuni. Ketika para tentara berbicara, kau tatap dalam-dalam wajah orang yang bernama Musa Mako Tabuni itu.

Aku lahap wajahnya, hingga lekukan kecil, bahkan guratan kecilpun aku hafal dari mukanya. Ia pahlawanku, begitu kuat aku berkata dalam hati. Aku diam-diam menghormatinya: sang pahlawan!.

Kini, di depanku, orang itu, orang yang oleh ibuku didoakan dengan tangisan itu, yang aku hormati karena didoakan ibuku sebagai pahlawan itu, kini kaku tak berdaya diberondong 6 peluru terdahulu. Kini tinggal.............

"Dooooorrr.........."

Aku dilesakkan.

Aku tahu, aku dilepas lurus juga ke jantung orang itu. Dalam waktu satu per sekian detik itu, aku membathin;

"Haruskah aku menembusi orang yang telah kaku, meninggal ditembusi 6 peluru ini? Pantaskah aku menembusi jantung orang yang oleh ibuku malah didoakan dengan tangisan dan air mata, yang oleh ibuku, dalam isak tangis doa itu, aku dengar ibuku menggelarnya Pahlawan?"

"Pantaskah aku menembusi tubuh kakunya, membuat darah mengalir? Haruskah aku menembusi jantung anak negeri Papua sendiri?"

"Tidaaaakkkkk........" aku memekik.

Lantas, semua kaget mendengar pekikanku itu. Aku lantas membelokkan tubuh, lari jauh ke arah lain, tidak jadi menembusi Mako, sang pahlawan  itu.

Kemudian, ketika dari bukit kecil itu, aku menoleh, ada sepasukan TNI mengejarku, aku lantas berlari dan bersembunyi di seputaran Bukit Sky Land. Di sana, di bawah akar pohon, aku bersembunyi.

Tiga malam aku disana, tanpa makan. Aku mengikat perutku dengan kain. Dan, pada malam ini, aku merasa sedikit lebih aman, dan aku datang mencari perlindungan di sini.

***

Pastor Kegou melumat butir peluru itu dengan tatapannya. Kemudian, ia menarik nafas panjang, dan menunduk.

"Berarti, kamu satu-satunya saksi mata yang mampu mengatakan yang sebenarnya dari semua tragedi pelanggaran hak asasi manusia itu. Anakku, hanya kamulah saksinya, dan hanya kamulah yang kini menjadi target mereka untuk menghilangkan jejak."

"Iya. Akulah peluru ketujuh yang dilesakkan tepat ke arah jantung Mako Tabuni. Akulah saksi mata, dan aku ingin bersaksi atas semuanya itu. Dan karena itulah, aku datang kepadamu Pastor. Aku butuh perlindunganmu."

Pastor Kegou diam tanpa bicara, sambil muka berkerut, dengan jarinya terus memainkan jenggot keriting pendek yang kini mulai putih dimakan usia, ia terus menggelengkan kepala.

Oleh, Topilus B. Tebai
.

Sumber: Majalah Selangkah

Minggu, 14 September 2014

Manarmakeri


Manarmakeri adalah tokoh utama dalam sebuah mitos (bukan legenda atau dongeng) di daerah Biak, Papua. Mitos Manarmakeri mempunyai latar belakang sejarah, dipercayai oleh masyarakat sebagai cerita yang benar-benar terjadi, dianggap suci, mengandung hal-hal yang ajaib, dan tokohnya (Manarmakeri) adalah Dewa.


Manarmakeri (English Version)


Biak, Papuans, Myth
Manarmakeri is the main character in a myth (not a legend nor fairy tale) in Biak, Papua. Myth Manarmakeri has a historical background, it is believed by the people as the story actually occurred, is considered sacred, containing magical things, and the character (Manarmakeri) is a god.

This myth has been spread throughout the land of Papua long ago. There is a belief in the storytellers’ community that in this myth as the pledge, Manarmakeri would return one day. Till today, his arrival is still awaited in the region of the storytellers and all over Papua.

 

Copyright MC2 @ 2015 Jejak Kaki.

MC2 ,