Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Agustus 2015

Ayah, Happy Birthday

 
Ilustrasi/Ist

Benar kata  Demitri The Stoneheart, "Seorang ayah tidak akan mengatakan bahwa dia mencintai Anda, dia akan membuktikannya dengan perbuatan."

Sore itu kehadiranku disambut dengan sedikit rintik hujan. Langit semakin gelap ditutupi awan bergulung-gulung dengan petir yang sesekali  menyambar tempat yang kutinggalkan selama kurang lebih dua tahun itu. Jutaan rintik air mulai berhampuran di atas aspal tapi tidak berlangsung lama. Nampaknya mentari lebih kuat untuk memancarkan sinarnya di sela-sela gumpalan awan.

Gelora semangat memenuhi jiwa muda, terutama saat rumahku terlihat dari kejauhan. Sepanjang berjalan kaki menuju rumah, bersama langkah kaki yang kuayunkan, jantungku berdebar kencang.

Wajar saja, di rumah itu menyimpan banyak kenangan, juga semakin dekat untuk menjawab kerinduan yang tersimpan lama semenjak kutinggalkan sosok pahlawan  yang mendedikasikan hidupnya untukku dan saudara-saudaraku. Ialah Ayah, malaikat tak bersayap utusan Tuhan bagi kami.

Namaku Grace. Ibu meninggal saat aku berusia 5 tahun. Kini hanya ada aku dan ayah dan ketiga saudaraku yang menjadi bagian dari keluarga kecil ini. Mungkin bagi kebanyakan orang menganggap ibu sebagai seorang malaikat. Tetapi sebaliknya bagiku. Hanya seorang ayah. Ia adalah utusan Tuhan yang memberikan kasih sayang yang sempurna kepada kami.

Memasuki pekarangan rumah yang menyimpan kenangan manis hingga pahit itu, mataku mulai berkaca-kaca. Banyak rasa beradu menjadi satu irama. Aku masih berdiri mematung sembari memandang langit yang mulai berubah warna. Tiba-tiba aku mendengar suara yang tidak asing bagiku di belakang, suara yang begitu sangat kurindukan.

Bapa, kataku spontan dalam hati.

Bapaaaaa!  Aku berteriak kuat-kuat melihat sosok pahlawan yang memikul kayu pulang dari hutan sambil berlari kecil menyambutnya.

Nonaa!!"

Ayah teriak  membalas sambil melempar kayu yang dipikulnya. Aku berlari menggapai dan memeluknya. Air mata kami tak terbendung melepas rindu yang telah lama tersimpan rapat-rapat.

Bapa saya rindu.  Hanya kata itu mampu keluar dari mulutku terus berulang kali. Rasanya dalamnya rindu yang kurasakan selama ini terbayar dengan pelukan dan isak tangis yang kurasakan. Begitu lama kami berpelukan.

Ia memandangku, Kamu siapa nona? Ayah bertanya memastikan siapa diriku.

Saya Grace bapa, kataku.

Wajar pertanyaan itu, karena aku pulang tanpa memberi kabar sebelumnya, begitupun kami anak-anaknya telah meninggalkan ayah kami sendirian karena berjuang mencari ilmu jauh dari ayah.

Ohh, anakku!

Ayah kembali memeluk dan kali ini isak tangis kami semakin meninggi hingga para tetangga kami terharu melihat kami. Ada rasa nyaman, damai, nyaman saat berada dalam pelukan pria hebat ini.

Sementara, matahari lebih condong ke barat dan awan yang menghiasi langit kini mulai berubah kemerahan. Tak lama lagi malam akan segera tiba.

***
Hari ini, di hari istimewanya yang ke sekian ini, aku baru menyadari semuanya. Ia melakukan peran seorang ayah dengan sempurna sebagai kepala keluarga. Sebagai seorang ayah bagi kami, Ia memberikan pendidikan dan bimbingan kepada kami, sekaligus membantu untuk memecahkan masalah yang terjadi guna mencapai kedewasaannya.

Ayah memberi contoh dan teladan agar kami mampu hidup mandiri dan mengenalkan pengalaman-pengalaman tentang objek yang ada  di lingkungan sekitar sebagai bagian dari proses belajar.

Ayah memberikan perlindungan bagi kami, bertanggungjawab pada tugas dan berani mengambil keputusan sejalan dengan  kebutuhan. Ia memperlihatkan sikap kebapaan dan tokoh yang berpribadi matang dan dapat  memelihara kepercayaannya.

Ayah juga lihat dalam urusan rumah tangga, berperan sebagai ibu dengan penuh bertanggung jawab. Baginya, apabila melaksanakan tugas serta tanggung jawabnya dalam mendidik dan mengarahkan anak dengan baik, akan terlahirlah generasi yang baik. Generasi unggul yang tumbuh menjadi seseorang yang berbudi luhur, bertanggung jawab, dan berbakti kepada orangtua.

Sebagai seorang wanita, peristiwa dua puluhan tahun yang silam telah merubah kehidupan menjadi sosok anak yang tumbuh tanpa peranan seorang ibu. Memang semua terbayang sangatlah berat namun kini telah kulalui semua hingga aku tumbuh menjadi seorang yang kuat dan tegar dalam menghadapi persoalan hidup.

Ayah bagiku adalah sosok luar biasa yang memiliki peran ganda oleh keadaan. Ia menjadi sosok ayah yang dengan penuh kasih sayang merawat kami tanpa memikirkan dirinya yang kian tua. Wajarlah jika cinta kasih dari seorang ibu hampir tidak aku dapatkan. Komunikasi terjalin dengan ayah saja. Tentu ada perbedaan. Kepergian ibu itu tentu berdampak pada psikologisku.

Meski kepergian itu sewaktu masih kecil, sering terlintas di bayangku saat mendapatkan kasih sayang ibu. Hal ini sering membuatku seperti orang bodoh yang kehilangan akal sehat. Namun berkat orang-orang yang berada di sampingku, saya tegar dan kuat.

Aku tak pernah kekurangan kasih sayang karena ayah telah memberikan sayang yang lebih kepadaku. Namun tak bisa dipungkiri, kehadiran sosok ibu sangat kurindukan.

Jika cinta seorang ibu seperti madu yang manis, maka cinta seorang ayah adalah segelas teh hangat yang menenangkan. Rasanya memang tak semanis madu, tetapi ada kenyamanan dan kehangatan di sana. Mungkin!

Hari sudah berganti malam. Kini aku di kamar yang telah kutinggalkan beberapa tahun yang lalu

Saya banyak belajar dari Ayah tentang arti sebuah kehidupan. Bahwa setiap jengkal nafas yang kita hembuskan, ada pertanggungjawabannya kepada Sang Maha Kuasa. Bahwa hidup adalah suatu perjuangan. Pantang menyerah! Pantang mengeluh!"

Untuk Bunda, kupikir bunda begitu sempurna. Tidak akan ada wanita yang bisa setangguh bunda yang bisa meninggalkan nafas keibuan dalam keluarga kami hingga kini lewat sosok Ayah.

Dalam diri Ayah, aku yang seorang perempuan seakan melihat rupa Ibu. Ibu pasti juga sesabar dirinya dalam menghadapi setiap hantaman kepedihan. Entah pada saat Ayah jatuh dan menyerah, marah, dalam segala situasi dan kondisi.

Mungkin waktu dapat mengingkari semua asa. Namun hadirmu tak lekang oleh waktu, Ayah. Kau paripurna. Walau saya menjual dunia ini, nilainya tak sebanding dengan hadirmu, pria paling hebat dalam hidup.

Mencintaimu dengan segenap pikiran, perasaan dan jiwa. Thanks for sharing beyond everything for fourth of us.

Ayah, happy birthday 15 Agustus 2015. ***

Minggu, 09 Agustus 2015

Sang Pedanda Baka, Sebuah Cerita Tentang Kepalsuan


Ilustrasi Bangau/Ist.
“Dia dataaang!”

Teriak si Kodok Hijau pada ikan-ikan yang sedang berlalu lalang di telaga dengan penuh ketakutan kemudian melompat ke atas daun teratai untuk mencari tempat persembunyiannya.

Ikan-ikan itu pun ikut berlari, mereka menjadi panic, berenang ke sana-sini untuk menemukan tempat persembunyian paling aman. Semua berlari dengan penuh teriakan, tangisan dan kekawatiran yang mencekik sampai keahlian berenangnya pun berkurang.

Di angkasa tampak seekor burung terbang memutar mengitari telaga. Tidak jelas burung apa itu, sebab cahaya sang surya mengaburkan wujud aslinya dan hanya menyisakan bayangan. Perlahan, burung itu turun, lalu menginjakkan kakinya di penggir telaga.

Kepalanya memakai ketu, bulunya putih bersih laksana jubah seorang pendeta agung. Jalannya anggun, tenang dan penuh wibawa. Di atas batu pinggiran telaga kemudian dia duduk bersila, memejamkan matanya, lalu Nampak masuk dalam kedalaman meditasinya.

Si kodok hijau yang sedari tadi  bersembunyi di atas daun teratai, menutupi dirinya dengan keindahan bunga, merasa heran memandangi burung bangau itu.

“Nampaknya burung bangau itu bukan burung bangau biasa” Pikir si kodok, “di lebih Nampak sebagai seorang pendeta”

Dengan kaki gemetaran, dengan mengabaikan sisa takutan yang memberatkan langkahnya, lalua di mulai menyingkap bunga teratai yang menyembunyikan tubuhnya. Rasa ingin tahu dan rasa penasarannya pada Bangau berjubah pendeta itu ternyata telah mengalahkan rasa takutnya.

Sementara di bawah telaga, diantara pojokan batu, diantara rerumputan bawah air, para ikan masih sembunyi. Mereka berusaha setenang mungkin, berusaha tidak ada suara pun yang keluar sehingga bisa mengesankan kalau telaga itu sunyi sepi tanpa penghuni.

Anak-anak ikan didekap oleh ibunya, agar mereka tidak menangis. Keluarga ikan ditenangkan oleh pria-prianya yang meski pun juga dilanda berbagai kengerian, namun tetap berusaha menjalankan tanggung jawab kepriaannya.

“Tenanglah, kita akan baik-baik saja” Kata seekor ikan emas menenangkan istrinya, sambil pula kata-kata itu dia ucapkan pada dirinya sendiri, untuk menenangkan dirinya sendiri.

Sementara seekor ikan buruk rupa sedang berusaha menenangkan bayi ikannya yang meringis kesakitan karena saat mereka berlari mencari persembunyian dia menabrak batu tajam.

“Ayo tenangkan anakmu!” Teriak suami si ikan buruk rupa itu, seolah anak yang sedang ketakutan itu bukanlah darah dagingnya, “Atau kita semua akan dimakan bangau itu!”

Sementara si anak tetap meringis, si ibu menenangkannya dengan suara lebut yang bergetar karena bercampur ketakutan.

Di atas telaga, sang katak hijau kemudian, dengan keringat dingin, dengan tetap menjaga jarak menyapa sang Burung Bangau itu,

“Si..siapakah anda, wahai bangau” Tanya katak hijau dengan suara yang dengan susah payah dikeluarkannya.
Burung berketu deng berhiaskan berbagai genitri itu kemudian perlahan, dengan tenang, sambil tersenyum membuka matanya.

“Aku?” Suara bangau itu begitu berbeda, begitu mendamaikan, begitu menenangkan. “Aku adalah sahabatmu”

Si katak hijau semakin tenang karena pembawaan tenang sang bangau. Apa lagi setelah mendengar kata-katanya, dia menjadi semakin nyaman untuk melontarkan pertanyaan berikutnya.

“Apakah kau datang untuk memangsa kami, para penghuni telaga?” Kata si katak hijau sambil berharap bangau itu akan menjawab dengan kata, “tidak”.

“Anakku,” Sapa Bangau Pendeta itu selayaknya seorang kakek yang penuh kasih sayang menyapa cucu tercintanya, “Aku tau kalian telah hidup dalam ketakutan begitu lama di telaga ini.

“Aku tau, banyak dari kalian yang telah kehilangan anak, istri, dan karabat yang satu persatu dimangsa burung-burung bangau kejam di sekitaran telaga ini.

“Tapi, aku bukanlah bangau pemangsa.
“Jika aku memang berniat memangsamu, bukankah kau bahkan tidak akan punya kesempatan bertanya padaku?”

Si katak mulai makin tenang, gemetaran di tubuhnya berkurang, nafasnya menjadi makin ringan, dan dia mulai memberanikan diri untuk semakin mendekati sang bangau.

“Lihat,” Kata Sang Pendeta dengan senyuman penuh pujian, “Dalam hatimu kau tau kalau aku tidak ada di sini untuk memangsa kalian, karena itu kakimu melangkah makin dekat padaku, karena itu ada keberanian yang menyala di hatimu untuk mendekatiku.”

Pernyataan itu, membuat si katak hijau semakin nyaman.

“Lalu,” katak hijau mulai berbicara dengan tenang, “untuk apakah anda di sini, kalau bukan untuk mencari mangsa?”
“Anakku,” Sapa hangat sang Pendeta Bangau,”aku tau hatimu sangat baik, karena itu hatimu yang baik itu menuntunmu untuk menemukan kebaikan dan menyapaku.

“Dan, aku di sini untuk mewujudkan kebaikan yang diharapkan hatimu itu”
Sementara si katak hijau dan sang Pendeta Bangau sedang bercengkrama, ternyata getaran rasa aman si katak hijau itu ikut dirasakan ikan-ikan dan penghuni telaga lain yang sedang bersembunyi di bawah air.

“Sepertinya, itu bukan bangau pemangsa” Bisik seekor ikan pada ikan lainnya.
“Iya,”sahut ikan tadi dengan suara yang sangat diupayakannya tidak terdengar lebih dari jarak antara dia dan sahabatnya itu.

Sebagaimana mereka berdua, ikan-ikan lain pun telah bergeser dari takut jadi penasaran, Biasanya seekor bangau akan datang mengobrak-abrik seisi telaga yang bisa dijangkaunya, untuk mencari ikan-ikan yang bisa dimangsanya. Tapi, bangau satu ini nampaknya sangat berbudi, tidak seperti bangau-bangau yang datang sebelumnya.

“Aku tau penghuni telaga ini adalah mahluk baik yang selayaknya hidup bebas dan bahagia, tanpa dihantui terror akan pemangsa apa pun. Dan, ijinkan aku mengajarkan caranya pada kalian”

Kata Sang Pendeta Bangau pada Katak Hijau, sambil melirik ke telaga berharap ikan-ikan yang menjawabnya.

Girang kehidupannya akan segera berubah, senang ketakutannya akan segera musnah, kemudian si katak hijau berteriak lantang,

“Keluarlah, beliau benar-benar baik!”

Satu per satu, ikan-ikan yang tadinya bersembunyi itu menunjukkan kepalanya ke permukaan, antara takut, penasaran dan keinginan kuat untuk meyakini kalau benar-benar ada sosok penyelamat di telaga mereka.

Dilihatnya Sang Bangau itu berpenampilan layaknya pendeta, duduk bersila layaknya sedang bertapa, dan tersenyum ramah layaknya seorang maharaja bijaksana. Mereka pun merasa nyaman dan tenang dengan pemandangan yang ditangkapkan matanya untuk mereka.

“Belia adalah pendeta,”Seekor ikan berbisik diikuti ikan-ikan lain yang mulai saling meyakinkan kalau pendeta itu adalah sosok penyelamat yang mereka butuhkan.

“Anak-anakku” Kata sang Pendeta Bangau dengan nada nan lembut yang belum pernah didengarkan para ikan itu dari bangsa pemangsa,
“Kalian takut padaku karena kalian ingin menyelamatkan diri dan keluarga yang kalian cintai, dan itu membuatku senang karena itu artinya kalian adalah mahluk-mahluk penyayang.

“Namun bukan aku yang perlu kalian takuti, karena aku justru datang untuk membantu kalian untuk menciptakan keselamatan bagi semua yang kalian kasihi dan penghuni telaga ini.
“Mendekatlah padaku,” Sambil ia berdiri dengan anggun mengambil tetekennya.
“Benar” si katak hujau menimpali, “jika beliau memang mau memangsa, aku pasti sudah mati dari tadi”

Satu per satu ikan-ikan itu mendekat, dan mereka benar-benar merasa aman karena bahkan setelah mereka ada dalam jarak yang cukup untuk sang pendeta bangau menerkamnya, mereka masih baik-baik saja.

Setelah beberapa lama, Sang Pendeta menceritakan banyak kisah, menuturkan banyak kebijaksanaan, mengutipkan banyak isi lontar, bermain dengan anak-anak, menyapa para penguhi telaga. Rupanya para penghuni telaga itu telah menerima sang bangau sebagai suryanya.


Berita tentang Sang Pendeta Bangu telah tersebar ke seluruh antero telaga, semua saling membericarakan rasa penasaran dan rasa ingin tahunya dengan nada seolah-olah mereka sudah tahu siapa pendeta bangau itu. 
Semua berbicara tentang kehidupan baru yang akan segera mereka songsong karena kini ada Sang Pendanda yang akan memberi sinar untuk gelapnya kehidupan mereka yang penuh terror dan ketakutan.

Katak Hijau dan ikan-ikan yang sempat menerima ajaran suci sang pendeta menjadi pengkabar, dan bahkan mereka yang tidak tapun mulaibergosip seolah mereka lah yang paling tahu siapa pendeta suci yang mengunjungi telaga mereka itu.

Suasana telaga benar-benar telah berubah, mereka mendapat gairah dan harapan, dan itu membuat kehidupan di telaga berjalan dengan nuansa yang sangat berbeda.


Hari itu, ikan-ikan yang sedang asik bercengkrama dan beraktifitas seperti biasa tiba-tiba tercengang. Mereka melihat sosok di kejauhan berlari mendekati telaga, tidak jelas siapa, tapi dari bayangan sepintasnya, itu adalah seekor bangau.

Tidak lagi berpikir panjang, didorong naluri untuk bertahan hidup, mereka kocar kacir berlari menyelamatkan diri.
 
Untunglah, sang katak hijau mengenalinya, mengenali idolanya. Sang Pendeta.

“Tenang, tenang” Teriak katak itu, “Itu adalah Ratu Pedanda

Kali ini Bangau Pendeta itu datang tergopoh-gopoh, tidak seperti awal kedatangannya.

“Berkumpullah di sini anak-anakku” Katanya dengan nafas tersengal-sengal ”Aku punya berita buruk untuk kalian”

Setelah beberapa saat, dibantu sang katak hijau, kemudian penghuni telaga itu berkumpul di hadapan sang pendeta, terheran-heran karena pasti ada hal yang sangat penting.

“Ini adalah kabar buruk” Sang Pendeta mulai berkata, “Bahkan untuk menyampaikannya pada kalian pun hatiku sudah sakit”

Suara bergemuruh mulai terdengar, satu dengan yang lain mulai saling bertanya ada apa gerangan.

“Petani desa pemilik ladang ini,” Kata sang pendeta dengan suara gemetaran setengah sedih setengah marah, “Akan mengeringkan telaga kalian dan merubahnya menjadi sawah!”

Kekagetan dan kompak terdengar.
Telaga tempat mereka hidup dari satu generasi ke generasi akan dikeringkan, “Kita akan hidup dimana?” Kata seekor ikan.

“Tanpa telaga kita semua akan mati” Seekor kepiting menimpali.
“tenang… tenang… biarkan beliau melanjutkan dulu” Perintah si katak hijau.
“Hari ini juga” Kata sang bangau, “persiapkan diri kalian.
“Aku akan mengungsikan kalian pergi.
“Di balik bukit itu, di dekat pertapaanku ada sebuah telaga yang jernih dan luas, aku akan membawa kalian ke sana”

Kembali kerumunan ikan-ikan itu berbisik satu denan yang lain.

“Dan yang lebih penting” Lanjut sang pendeta, “Tidak pernah ada bangau yang datang ke sana.
“Inilah saatnya kalian menyongsong kehidupan baru”

“Tapi tentu saja kalian bebas memilih” lanjut sang pendeta lagi, “bergegas pergi atau diamlah di sini dan tunggu kematian menjemput kalian”
Mereka ragu. Mereka takut. Tapi mereka tidak punya pilihan.

“Tunggu apa lagi?” Kata si katak hijau, “Bergegaslah!”


Sekelompok ikan ditaruh diantara paruh sang pendeta bangau, lalu diterbangkannya dari telaga itu, beberapa ditempatkannya di mulut agar lebih banyak yang terangkut.

Tidak sedikit jumlah ikan di telaga itu, jadi tidak cukup sehari waktu yang dibutuhkan untuk mengangkut mereka.

“Kamu pergilah dulu” Kata seekor ibu ikan pada anaknya, karena sudah penuh daya angkut sang pendeta. Si anakpun dicengkeram dan dilarikan dengan tangisan karena berpisah dari ibunya.

Ikan yang masih tersisa menunggu dengan ketegangan. Petani desa itu bisa datang kapan saja, dan mereka bisa mati kapan saja, sementara hanya sang bangau yang bisa mereka harapkan untuk menyelamatkan jiwanya.

Si katak hijau, yang paling penakut diantara mereka, pergi paling awal, mengambil tempat di paruh bangau.
Mereka memang ketakutan, namun mereka juga senang, sebab telah dikirimkan pada mereka sosok penyelamat.


Hari ketiga, telaga itu sudah benar-benar sepi. Semua ikan dan penghuni telaga telah pergi dari sana, meninggalkan telaga yang menjadi rumah bagi begitu banyak keluarga penghuninya.

Tinggal seekor kepiting.

Kepiting itu yang dari awal membantu ikan-ikan untuk naik ke paruh bangau, menyelamatkan ikan-ikan iku terlebih dahulu. Dari penampakannya memang kelihatan kepiting itu baik budi, cerdas dan pemberani.

Di rela pergi paling belakang demi menolong ikan-ikan yang disiksa ketakutan. Bukan karena dia tidak puya rasa takut, tapi karena dia tidak membiarkan dirinya ditindas ketakutan.

Baginya, bukan bangau pemangsa atau petani desa yang menindas kehidupan mereka, tapi ketakutannya sendiri.

Toh, baginya, kematian adalah kepastian, jadi tidak dibiarkannya jiwa yang menjadi gairah kehidupannya mati terlalu dini karena rasa takut akan kematian itu sendiri.

“Mari, bergegaslah anakku” Sapa sang pendeta dengan wajah ramah seperti biasa setelah turun dari udara.
“Terimakasih, Ratu Pedanda” Kata kepiting, kemudian mendekat.

Betapa senangnya kepiting yang sedang terbang bersama pendeta bangau itu.
Kepiting terbang di atas bangau. Itu membuatnya tertawa dan bersyukur.

Dia menikmati hembusan angin yang bergulung-gulung dan menampar lembut kulitnya, pemandangan udara yang bisa ditangkap oleh matanya. Dia memang selalu tahu cara menikmati kehidupan.

Tapi….
Keceriaan wajahnya itu berubah saat ia mencapai daerah belakang bukit yang dijanjikan. Saat sang pendeta yang mempesona itu mulai turun dan merendahkan terbangnya.

Pemandangan yang dilihatnya benar-benar menyayat hati.

Tulang-tulang ikan. Kodok yang mati. Bangkai saudara-saudara setelaganya berserakan. Dia hampir tidak mempercayai matanya sendiri atas pemandangan yang disaksikannya itu.

Dia tahu tempat bangkai berserakan itu adalah kediaman sang pedanda. Dilihatnya tongkat sang pendeta dan beberapa genitrinya bergantungan di sana, diantara mayat-mayat ikan yang dibantunya naik ke paruh bangau itu.

“Kau…” Katanya dengan suara gemetaran, “Memakan mereka semua?”

Tersenyum licik, pendeta itu menjawab, “Kalian memang baru sadar setelah di ketinggian ini, kalian semua. Sadar saar sudah terlambat”

“Jadi, benar-benar kaulah yang membunuh mereka?” Kata si kepiting lagi berharap bukan pendeta yang telah dinobatkan sebagai juru selamat telagalah yang tega melakukan itu.

“Bukan anakku,”Sahut bangau itu dengan senyuman, “Bukan aku yang membunuh mereka, tapi diri mereka sendiri.

Ketakutan dan haparan merekalah yang membunuh mereka”

Seketika itu, kesedihan sang kepiting berubah menjadi amarah. Amarah yang tak terhingga.

Krekkkkk!!!

Dijepitnya leher bangau itu, sampai berteriak kesakitan, lalu mati setelah pontang panting mendarat diantara bangkai ikan yang dijadikannya makanan. Bangkai ikan-ikan yang berharap sosok penyelamat atas kehidupan mereka, bangkai ikan yang selalu dihantui ketakutan.

SELESAI
___________________________________________________________________________________
Footnote:
  1. Ketu: Mahkota yang biasa dipakai para pendeta
  2. Tetekan: Tongkat, biasanya para pendeta di Bali selalu membawa tongkat ini sebagai symbol penuntun dan pemberi jalan umat.
  3. Genitri: Tasbih yang dijadikan hiasan para pendeta dan digunakan untuk pemujaan.
  4. Ratu Pedanda: sebutan untuk pendeta di Bali

Selasa, 28 Juli 2015

Aku Peluru Ketujuh

Mayat Mako Tabuni Saat disemayamkan di RS. Bhayangkara Jayapura. ISt.

untuk mengenang kembali setahun kematian sang pahlawan, Musa Mako Tabuni, pada 14 Juni 2012)

Malam masih mengepakkan sayapnya, menyelimuti kota tua di pantai utara Papua, kota Hollandia. Kota tua itu punya sejarah, menjadi pelaku sejarah, sekaligus menjadi saksi bisu atas serentetan peristiwa sejarah yang mengalir bagai air.

Subuh itu tepat pada hari Kamis. Udara sepi, tidak berseliweran sebagaimana biasa setiap pagi. Di Abepura, seputaran lingkaran Abe, Ekspo, Waena, semua jalanan masih sepi. Baru pukul 4 pagi. Begitu juga dengan kota Jayapura yang terletak tepat di bibir pantai utara.

Sentani juga begitu tenang. Ketenangan dan keheningan itu bertentangan dengan jiwa sebutir peluru yang sedang berlari kencang. Ia terus berlari, berlari dan berlari. Nafasnya tersendat-sendat.

Keringat bercucuran jatuh dari dahinya. Baju kumal yang ia kenakan telah basah bermandi keringat. Di sana, di tubuh peluru itu, ada percikan darah segar yang masih menempel, yang menjadi begitu cair kala berpadu dan berbaur dengan keringatnya yang kian deras. Ia telah jauh berlari.

Sementara itu, di komplek Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Fajar Timur Abepura, seorang imam sedang duduk di dalam ruangan. Temaram cahaya sebuah lilin berukuran besar menerangi ruangan itu. Pada dinding ruangan itu tampak beberapa lukisan rohani. Ada lukisan Tuhan Yesus. Bunda Maria. St. Fransiskus Assisi. Ada gambar Merpati, lambang Roh Kudus.

Pastor Jhonannes Philipus Kegou, asal Kepugei, Pihaihe, Pegunungan Tengah Papua, Selatan Pegunungan Mapiha, itulah namanya. Pastor itu sedang meditasi. Tangannya dengan ringan ia letakkan di atas kedua pahanya. Nafasnya teratur bahkan terlihat tidak bernafas, saking tenangnya. Di depannya, Alkitab telah terbuka. Hanya badannyalah ia di dalam ruangan itu.

Rohnya, jiwanya, sedang berpadu dalam alam sana, menimba banyak nilai dari alam nilai, menimba banyak kebijaksanaan dari alam kebijaksanaan. Menimba banyak ketenangan dari alam ketenangan, menimba banyak kesejukan untuk hati dari alam kesejukan.

Tiba-tiba, pastor kembali mengatur pernafasan. Sesaat kemudian, ia kembali bernafas normal, dengan mata tetap terpejam.

Sesaat setelah detik itu, terdengar derap kaki tergesa-gesa menaiki tangga rumah, dan di dalam ruangan itu, Pastor Kegou telah tersenyum menyambutnya, jauh sebelum pintu diketuk.

"Silahkan masuk nak..."

Sesaat kemudian, pintu diketuk. Sekali lagi, Pastor Kegou mengulangi kata-katanya. Pintu perlahan terbuka, dan masuklah peluru itu.

Pastor Kegou mengamati tubuhnya. Nafasnya masih tersendat-sendat.

"Atur nafas anakku.."

"Maaf Pastor. Aku harus cepat mengatakan apa yang ingin aku sampaikan. Tolong lindungi aku Pastor. Mereka sedang mengejarku."

"Siapa yang mengejarmu?"

Alis mata Pastor berkerut. Ia menatap sebutir peluru itu dalam-dalam, kemudian matanya berhenti pada noda darah yang tampaknya masih belum mencair dan hilang oleh keringat, lantaran telah membeku.

"Mengapa ada noda darah itu di tubuhmu?"

"Maaf Pastor. Justeru karena itu aku melarikan diri kepada Pastor. Tolong lindungi aku."

"Aku dipaksa melakukannya Pastor." Dan kemudian, beruntun butir peluru itu menceritakan kisahnya hingga ia sampai pada Pastor. Ini ceritanya:
Aku adalah sebuah peluru. Dibuat dari biji besi yang berada jauh di dalam tanah tempat kita tinggal ini, tepat di bawah gunung Salju, Erstberg.

Aku dikeruk oleh sebuah alat raksasa. Kemudian, aku dilebur di dalam sebuah wadah panas. Aku menjadi seperti lumpur. Setelah menjadi seperti lumpur, aku dialirkan melalui sebuah pipa, hingga aku sadar, aku sedang berada pada sebuah kapal raksasa.

Aku adalah biji besi dari tanah ini. Kapal itu membawaku dalam bentuk bubur, seperti lumpur. Kemudian aku tiba di sana, di sebuah kota yang tidak aku kenal. Aku dengar, orang-orang berkulit merah mengatakan, tanah itu Amerika. Ya, aku ingat, itu Amerika Serikat. Aku telah tiba di Amerika Serikat.

Aku tidak tahu, berapa hari kami berlayar. Aku tidak mengenal siang dan malam di dalam kapal, karena aku diberi penerang, dan diatur temperatur suhunya, tak dapat bergerak, dan tidak dapat melarikan diri, kecuali pasrah.

Kemudian, sesaat setelah aku tiba di pelabuhan yang paling ramai itu, aku kemudian dibawa menggunakan truk raksasa. Dari sebuah pabrik raksasa, aku diolah.

Banyak campuran yang tidak aku ketahui namanya telah bercampur bersamaku, hingga aku sadar, dan semakin sadar, kalau tubuhku tidak lagi seperti bubur, tetapi menjadi lebih cair.

Kami dipisahkan. Kebetulan, aku dibawa, dan dituangkan ke tempat pembuatan peluru. Semua alat bekerja otomatis. Tidak kulihat seorang manusia pun di sana. Hanya beberapa orang. Kemudian aku sadar, bahwa aku telah dibuat menjadi sebutir peluru.

Sampai pada saat itu, aku hanya mampu menangis. Aku sadar, aku dibuat untuk menerjang, menembusi dada lawan. Tugasku adalah membuat orang yang diperintahkan padaku untuk ditembusi, aku tembusi, hingga mati. Aku sadar, dan telah menjadi kebiasaan kami para peluru, bahwa menjadi kebanggaan kami, bila kami berhasil menembusi dada lawan.

Aku dikemasi, dan diberi label. Kemudian, aku dimasukkan ke dalam sebuah ruangan besar. Aku kemudian bertemu dengan banyak teman-temanku, para peluru.

Baru aku tahu dari percakapan beberapa orang, bahwa aku sedang dalam kapal, dikirim ke Indonesia. Indonesia, nama yang asing bagiku. Entah sebuah kota, barangkali sebuah tempat perang, itu pikirku.

Sampai pada pelabuhan Tanjung Priok, aku diturunkan. Bersamaku turun pula teman-teman biji besi dari Papua yang kini telah dibuat menjadi peluru, senjata, dan beberapa alat perang lainnya.

Untuk enam bulan pertama, aku masih dapat bernafas lega, karena aku masih aman di dalam gudang senjata pusat TNI. Pada hari pertama, habis lepas bulan keenam, aku dibawa menuju pelabuhan.

Besertaku, banyak juga prajurit serta. Ketika aku ketahui kapal yang aku tumpangi menuju Papua, sungguh, aku bangga. Aku senang. Aku kembali ke tanah airku.

Tetapi bila aku tahu sedari awal apa yang bakal terjadi saat ini, lebih baik bagiku untuk bunuh diri, lompat dari kapal ke dalam laut saja waktu itu. Akh, tapi tak tahu hari esok. Yang aku tahu, adalah rangkaian saat ini-saat ini, yang terus membentuk masa lalu, dan harapan akan hari esok yang aku buat. Itu saja.

Aku kemudian dimasukkan ke dalam senjata seorang tentara. Sekitar satu bulan aku berada di dalam senjata itu. Beberapa peluru pertama telah keluar, dilesakkan, entah mengenai siapa, aku tidak tahu, karena saat itu, aku masih di dalam senjata.

Aku tak dapat melihat jelas. Yang jelas, semua dilesakkan dari tanah Papua, tanah asalku. Tanah tempat aku terbentuk, jauh di dasar gunung Salju, Erstberg.

Baru pada waktu itu, beberapa peluru terdepan ditembakkan. Tibalah giliranku ditembakkan. Sebagai peluru, aku bersiap menerjang apa saja yang menjadi tujuan bidikan tuanku, tentara itu.

Dari corong lubang tempat keluarnya peluru, aku melihat. Di atas tanah, seorang lelaki Papua telah berkalang tanah.

"Tuhan Yesus," suaraku tertahan.... "Itu Musa Mako Tabuni!"

"Tidakkkkkk......" pekikku dengan air mata menetes.

Aku ingat pada ibuku, yang ketika kecil, ketika aku masih bersama ibuku, tepat pada saat-saat terakhir kami bersama sebelum kami dipisah-paksa dari perut bumi Papua, dengan cucuran air mata, aku lihat dan dengar dengan mata telingaku sendiri, ibuku berdoa memohon kekuatan dan berkat bagi orang yang bernama Musa Mako Tabuni.

Dalam doa ibuku pula, aku dengar, ia pejuang tanah dan bangsa yang hidup di atas tanah tempat kami tinggal.

Juga, dari ruangan militer itu, juga aku telah lihat foto orang yang menjadi target tembak, ia disebut Musa Mako Tabuni. Ketika para tentara berbicara, kau tatap dalam-dalam wajah orang yang bernama Musa Mako Tabuni itu.

Aku lahap wajahnya, hingga lekukan kecil, bahkan guratan kecilpun aku hafal dari mukanya. Ia pahlawanku, begitu kuat aku berkata dalam hati. Aku diam-diam menghormatinya: sang pahlawan!.

Kini, di depanku, orang itu, orang yang oleh ibuku didoakan dengan tangisan itu, yang aku hormati karena didoakan ibuku sebagai pahlawan itu, kini kaku tak berdaya diberondong 6 peluru terdahulu. Kini tinggal.............

"Dooooorrr.........."

Aku dilesakkan.

Aku tahu, aku dilepas lurus juga ke jantung orang itu. Dalam waktu satu per sekian detik itu, aku membathin;

"Haruskah aku menembusi orang yang telah kaku, meninggal ditembusi 6 peluru ini? Pantaskah aku menembusi jantung orang yang oleh ibuku malah didoakan dengan tangisan dan air mata, yang oleh ibuku, dalam isak tangis doa itu, aku dengar ibuku menggelarnya Pahlawan?"

"Pantaskah aku menembusi tubuh kakunya, membuat darah mengalir? Haruskah aku menembusi jantung anak negeri Papua sendiri?"

"Tidaaaakkkkk........" aku memekik.

Lantas, semua kaget mendengar pekikanku itu. Aku lantas membelokkan tubuh, lari jauh ke arah lain, tidak jadi menembusi Mako, sang pahlawan  itu.

Kemudian, ketika dari bukit kecil itu, aku menoleh, ada sepasukan TNI mengejarku, aku lantas berlari dan bersembunyi di seputaran Bukit Sky Land. Di sana, di bawah akar pohon, aku bersembunyi.

Tiga malam aku disana, tanpa makan. Aku mengikat perutku dengan kain. Dan, pada malam ini, aku merasa sedikit lebih aman, dan aku datang mencari perlindungan di sini.

***

Pastor Kegou melumat butir peluru itu dengan tatapannya. Kemudian, ia menarik nafas panjang, dan menunduk.

"Berarti, kamu satu-satunya saksi mata yang mampu mengatakan yang sebenarnya dari semua tragedi pelanggaran hak asasi manusia itu. Anakku, hanya kamulah saksinya, dan hanya kamulah yang kini menjadi target mereka untuk menghilangkan jejak."

"Iya. Akulah peluru ketujuh yang dilesakkan tepat ke arah jantung Mako Tabuni. Akulah saksi mata, dan aku ingin bersaksi atas semuanya itu. Dan karena itulah, aku datang kepadamu Pastor. Aku butuh perlindunganmu."

Pastor Kegou diam tanpa bicara, sambil muka berkerut, dengan jarinya terus memainkan jenggot keriting pendek yang kini mulai putih dimakan usia, ia terus menggelengkan kepala.

Oleh, Topilus B. Tebai
.

Sumber: Majalah Selangkah

Minggu, 14 September 2014

Sepenggal Lorosae


“Permisi!” Hampir serentak suara di teras depan rumah disertai ketukan di pintu. Pagi itu pandanganku beradu dengan dua orang setelah pintu terbuka.
“Sonia!, om Alfredo!, selamat datang di Indonesia!” sambutku spontan, sembari mempersilahkan masuk.
“Oh terima kasih, kukira kau sudah tak kenal kami lagi, bagaimana dengan bahasa Indonesiaku?” canda om Alfredo.

“Sangat baik tapi perlu latihan lagi.” sahutku dan suara tawa kamipun meledak.
Om Alfredo, aku mengenalnya semenjak masa kanak-kanak di bumi Timor Lorosae. Seorang penduduk berdarah campuran porto tetun yang pernah bertetangga denganku. Bertahun-tahun kami hidup damai berdampingan, apalagi setelah Timor Lorosae diakui menjadi bagian integral Republik Indonesia dengan nama propinsi Timor Timur. Namun sayang sekali kedamaian tersebut tak berlangsung lama. Bermula ketika dimumkannya hasil referendum nasib Timor Timur yang sebelumnya diberikan oleh pemerintah Indonesia. Sungguh mencengangkan!, kubu pro kemerdekaan telah dimenangkan mutlak oleh UNAMET yaitu lembaga bentukan PBB yang bertugas mengawal proses referendum di propinsi ke-27 itu. Referendum terdiri dari dua opsi yaitu pro kemerdekaan dan pro otonomi.

Saat itu 4 September 1999, Sabtu Pahing tepat pukul 09.15 waktu Indonesia Timur. Massapun mengamuk, benturan-benturan fisik berskala besarpun terjadi antara warga pro otonomi dan pro kemerdekaan yang diiringi perusakan, pembakaran dan penjarahan massal. Asap kebakaran mengepul di mana-mana. Kerusuhanpun merebak hingga ke seluru penjuru. Tak ayal lagi sebagian besar sarana dan prasarana bangunan milik masyarakat maupun pemerintah hancur total dan korban jiwapun berjatuhan. Warga pro otonomi yang selama 23 tahun berintegrasi dengan Indonesia, membawa bukti-bukti kuat tentang kecurangan UNAMET dalam membantu warga pro kemerdekaan. Anggota UNAMET yang mayoritas warga Australia dituntut dan diancam agar tidak meninggalkan lokasi mereka di 13 kabupaten di seluruh wilayah Timor Timur. Apapun alasannya, nyatanya dunia internasional dibawah pimpinan Amerika Serikat dan sekutunya sangat menekan pemerintah kami. Australiapun sangat berambisi memposisikan dirinya sebagai polisi Asia.

Kami benar-benar tidak siap menghadapi kekecewaan ini, kami semua merasa dikhianati oleh pihak asing. Siapa sangka bahwa hasil referendum yang jelas-jelas diwarnai kecurangan sistematis tersebut tak pernah diinvestigasi oleh pihak-pihak yang terkait baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Semua bungkam sejuta bahasa. Padahal bukti-bukti tersebut tercatat secara kronologis, yaitu dari mulai berdatangannya polisi Australia yang tak ingin dicampuri oleh pihak Indonesia. Mereka berdalih agar dapat bekerja independen. Rupanya ini hanyalah siasat undercover operasi intelijen. Kegiatan-kegiatan spionase menjadi pemandangan sehari-hari. Hasutan, bujuk rayu serta iming-iming mereka lontarkan pada warga pro otonomi bahkan tak jarang berakhir dengan intimidasi dan kekerasan. Sekali lagi tak satupun anggota Komnas HAM dalam dan luar negeri berteriak. Terkuak setelah hasil referendum, banyak ditemukan kertas suara pro kemerdekaan luar biasa banyaknya dan kertas suara pro otonomi banyak yang dirusak serta masih sangat banyak kecurangan dalam bentuk lain.

Detik itu pula, kami yang telah lama mendiami Timor Timur dan mencintai tanah kelahiran kami dipaksa untuk meninggalkannya, mengungsi keluar wilayah Timor Timur secepatnya. Dengan pengawalan tentara dan polisi banyak di antara kami mengungsi hanya dengan pakaian melekat di tubuh, meninggalkan rumah dan harta benda. Banyak juga dari kami menghancurkan atau membakar harta bendanya daripada dijarah dan dinikmati oleh kelompok pro kemerdekaan. Rumah-rumah warga pro otonomi telah dikuasai secara beringas dengan berbagai ancaman, ditambah dengan kehadiran sekelompok tentara Timor Falintil bersenjata lengkap yang keluar dari persembunyian menambah suasana makin mencekam. Bukan hanya harta benda yang menjadi jarahan tetapi juga harkat dan martabat manusia. Kami menjadi sasaran amukan warga pro kemerdekaan. Banyak pula keluarga harus rela kehilangan anggotanya dan terpisah, bahkan turut menjadi korban jiwa selama kerusuhan terjadi. Begitu pula diriku, kulepas kedua orang tuaku mengungsi. Aku berusaha mengejar keduanya yang bergegas menaiki truk tentara.

“Berlakulah sebagai prajurit profesional!” Ayah segera pergi dengan langkah pasti menuju ke arah truk tanpa menoleh lagi. Hanya suara tangisan pilu para pengungsi termasuk ibuku. Rengekan bayi-bayi dan anak-anak yang belum mengerti politik sangat menyayat hati siapa saja.
Aku mengenal almarhum ayahku sangat dekat. Seorang mantan Marinir yang banyak malang melintang bertugas di medan tempur. Beliau termasuk sosok prajurit yang loyalitasnya tidak diragukan!, begitu mendapat perintah pindah dinas ke Timor Lorosae, dengan lapang dada hal itu diterima. Di bumi Lorosae aku lahir, tanah tumpah darahku yang tak terlupakan.

“Aku turut berduka cita atas wafatnya ayahmu.” Terpancar rasa kedukaan yang mendalam di wajah om Alfredo, setelah dia mengetahui kabar itu dari kerabatnya.

Om Alfredo, sempat membuat diriku terguncang dan marah serta kecewa, hingga tak pernah melupakan peristiwa yang membuatku memandang dunia ini dari banyak sisi. Saat itu aku dan para tentara yang lain mempersiapkan kendaraan pengungsi menuju perbatasan. Di tengah-tengah penjagaan tentara Australia dan Timor Falintil, mataku melihat seorang pria akrab dengan mereka, sungguh sukar dipercaya!. Belakangan kuketahui ternyata dia adalah salah seorang tokoh klandestin bekas Tropaz, salah satu unit tentara Timor Portugis, nama lain Timor Timur sebelum integrasi. Setiba di Indonesia kuceritakan hal ini pada ayah.
“Dia punya cara perjuangan sendiri.”
“Tapi ini pengkhianatan!”
“Siapa yang dikhianati, apa kau merasa dirugikan?”
Aku terdiam menebak-nebak jalan pikiran beliau.
“Suatu saat kau akan tahu, dia memiliki jalan sendiri, begitu pula kau dan aku, sama-sama memiliki kepentingan, mempercayai apa yang kita yakini.”

Aku belum bisa menerima kenyataan, bahkan di saat-saat kekacauan terjadi. Ternyata banyak warga pribumi Timor yang semula pro otonomi berbalik menjadi pro kemerdekaan, apakah ini yang disebut perjuangan? atau mungkinkah hanya sekedar mencari selamat dan aman?
“Sudah biasa hal seperti itu, mengatasnamakan perjuangan, tugas tentara adalah berperang demi perintah tapi tidak memerangi umat manusia! Kapan berperang dan kapan berdamai kau harus tahu itu!” jelas ayah seakan membaca jalan pikiranku.

Setelahnya aku tak pernah membicarakan hal itu lagi. Ayahku adalah keturunan trah tulen menak Sumedang, hanya karena intrik klasik dalam keluarga ningrat, ayah harus rela meninggalkan tanah kelahirannya dan menjadi orang kebanyakan. Mendaftar sebagai prajurit rendahan yang dimasa itu hanya pantas untuk kalangan rakyat jelata. Namun beliau merasa nyaman dengan kehidupan barunya, yang tidak pernah dijumpai semasa hidup dalam kungkungan tata cara keraton. Seorang prajurit sejati, yang berpesan tidak ingin dimakamkan di Taman Makam Pahlawan karena memang bukan itu yang beliau cari. Perjuangan hanya demi bangsa dan negara bukan untuk yang lain, apalagi hanya mengukir nama sendiri.!
“Oh Ibu dan kakak adikmu?” Dia mencoba berbicara ringan.
“Semua baik, ibu dan adikku Silvia Singorejo menetap di Amsterdam.”
“Oh gadis bule itu!”.

Silvia Singorejo, sebenarnya bukan adik kandungku. Ayah mendapatinya sewaktu masih bayi lemah di hamparan rumput tanah lapang. Entah dibuang atau akibat korban kekerasan dari pihak-pihak yang bertikai di masa itu. Meskipun dia bayi porto yang bisa saja anak dari musuh tetapi ayah dan ibu tidak mempedulikannya. Bagai anak kandung mereka membesarkannya. Bagiku kearifan ayah melebihi jenderal bintang lima. Dengan welas asih ibu merawat dan menjaganya.
“Keluarga sehatkah?” tanyanya menyelidik setelah melihat bingkai foto yang tergantung di dinding. Foto kedua putriku bersama diriku.
“It’s over.”
“ehm,.. I’m so sorry.”

Rumah tanggaku bubar hanya karena aku dan isteri berbeda paham. Aku hanyalah seorang tentara rendahan, sementara mantan isteriku adalah seorang pengusaha keturunan Arab-Jawa. Selalu ada saja kesalahpahaman karena istri kental dengan pengaruh budaya Barat yang diperoleh saat kuliah S2 di Jerman. Menurutku budaya Barat yang hanya mengejar materi kurang cocok dengan kepribadian bangsa Indonesia. Suatu hari dia menginginkan diriku meneruskan usaha sarang burung walet abinya. Maaf aku lebih mencintai diriku seperti saat ini, menjalani kehidupan sebagai seorang tentara yang sederhana. Sempat terlintas dalam anganku bahwa bisa saja berbisnis sembari bekerja tapi bagaimana mungkin akan menjadi profesional jika ditengah-tengah rutinitas pekerjaan, yang melulu muncul dalam benakku adalah segebok pundi-pundi rupiah? bahkan Euro?!. Profesionalkah? Alangkah kasihan rakyat yang telah memberi amanah kepada tentara semacam itu. Profil tentara yang ideal menurut anggapanku sederhana dan bersahaja.

Lima tahun rumah tanggaku bertahan, kedua buah cinta kami yaitu Sekar Arum Jagad dan Lintang Pamungkas berada dalam pengasuhan mantan istriku, Vierra Kharami. Sebenarnya dia adalah ibu yang baik tetapi pandangan dan prinsip kami sudah tidak mungkin berjalan dalam satu rel! Aku tidak pernah menyesal karena aku meyakini ini adalah jalan hidup, banyak orang menganggap diriku bodoh, tapi hanya Tuhanlah yang tahu.

Jalan hidup tiap orang berbeda, kalau ada sebagian tentara hidup bergelimang kemewahan, mungkin memang itu nasib yang harus mereka peroleh, nasib seorang manusia. Demi mengabdi pada negara kujauhkan diri dari kemewahan. Kutelan mentah-mentah dogma dan indoktrinasi secara total, terutama tentang perilaku berorganisasi, karena disinilah letak keteraturan manajemen organisasi. Apa jadinya kalau seorang bawahan kurang ajar terhadap atasan hanya karena sang atasan adalah kawan dekat apalagi sanak famili, tentu ini pelecehan terhadap institusi. Profesi harus dijunjung tinggi, adil terhadap siapa saja, tidak ada kawan dekat apalagi sanak famili yang harus kita lindungi ketika melakukan kesalahan. Stick and Carrot, titik!.

Aku anak bangsa yang berjanji dalam hati akan mengawal tegaknya kedaulatan negara ini, sejarah membuktikan bahwa bangsa yang besar akan runtuh hanya dengan infiltrasi budaya dari luar secara sistematis, bukan dengan peperangan besar. Diawali dari hal-hal kecil yang remeh seperti pemberian nama anak cucu kita! Mengapa sekarang nama-nama bangsa Indonesia yang asli telah punah? Apakah nama “Jihan” atau “Maria” terdengar lebih merdu daripada nama “Lestari”?. Itulah sebabnya kedua anakku masing-masing satu tahun baru kunamai ciri khas Indonesia. Sangat disayangkan pula bahwa “kebaya” yang merupakan identitas nasional pakaian wanita Indonesia harus berganti dengan “cadar” atau pakaian Eropa. Negara-negara benua Amerika saja yang lantang menobatkan dirinya menjadi bangsa baru, namun penduduknya mengakui keanekaragaman warisan Eropa! Mengapa di Amerika bisa mempertahankan budaya negara-negara Eropa? Sedangkan kita? Dari nama-nama mereka kecuali warga kulit hitam, masih bisa diketahui kalau mereka imigran bekas bangsa Eropa. Sungguh aku malu bangsaku! padahal Sutasoma berabad-abad yang lampau telah menyebut “Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa”.

Keanekaragaman budaya adalah hal yang biasa dalam kehidupan bernegara. Mengapa kita harus menyeragamkan semua itu? Mudah-mudahan bangsa ini segera disadarkan dari kemerosotan moral, setidaknya cita-cita mengembalikan identitas bangsa dimulai dari hal yang paling kecil! Mimpi luar biasa dari seorang prajurit biasa, tapi aku akan selalu bermimpi meski hanya seorang diri.

Putra Angkasa namaku! Nama sakral yang memiliki legenda tersendiri. Tigapuluh Tujuh tahun yang silam di pagi buta ketika ibu hendak melahirkanku ke rumah bidan, ayah yang mengantar dan mengemudikan mobil melihat burung rajawali terbang membelah angkasa. Atas saran beliau nama itu diberikan. Putra Angkasa yang telah membuat udara berdetak.

“Oh my God, kau masih menyimpan foto kita semasa perjuangan dulu?!” tatapan tajam mata Sonia beradu denganku. Sedari tadi dia asyik memandangi jajaran bingkai foto di pojok ruang tamu yang banyak bercerita tentang keindahan bumi Lorosae.
Sonia Dora, sepuluh tahun aku mengenalmu hingga negara Timor Leste terbentuk kitapun harus terpisah jauh.

“You’re always keep on my mind,” meluncur deras begitu saja dari bibirku, sebentuk kalimat yang tidak pernah kuucapkan sebelumnya, sehari sebelum propinsi Timor Timur diserahkan ke UNTAET. Di tengah-tengah kekacauan dan tidak ada keteraturan tatanan, aku berhasil menemukanmu dengan semboyan reguler, alternatif dan emergensi. Mendapatkan dirimu di senja itu.
“Suatu hari nanti, kalau Tuhan memberikan umur panjang semoga kita dipertemukan lagi!” pintamu.
“I must go!, aku akan merindukanmu.”

Timor Timur selamat tinggal! Iring-iringan kendaraan pasukan melewati jalan perbatasan menuju Atambua. “Invasi Road” begitu jurnalis barat menyebut jalan itu. Jalan yang dibangun oleh Tentara dan Polisi sekaligus menandai program ABRI Masuk Desa. Infiltrasi dan eksfiltrasi selama perang berlangsung juga melalui jalan itu. Dari sana pulalah “The Blue Jeans Soldier” memulai aksinya dan selalu meninggalkan untold story bagi generasi berikutnya. Operasi Seroja lebih mendekati operasi intelijen terpadu daripada operasi militer. Prestasi, pangkat dan jabatan serta kisah-kisah heroik diperoleh sebagian orang sementara banyak orang harus meratapi kegetiran nasib.

Pagi hari 30 September 1999, Kamis Pon jam 9 tepat Waktu Indonesia belahan Timur, Provinsi Timor Timur dipaksa lepas dari pangkuan ibu pertiwi. Lepas karena campur tangan negara-negara besar yang secara sistematis menekan pemerintahan kami baik dari segi ekonomi, politik dan militer. Dengan teganya mereka memboikot perdagangan dan embargo alutsista militer di saat-saat negaraku sedang mengalami krisis multidimensi yang melelahkan. Di kancah internasional, mereka tak henti-hentinya berkampanye tentang status Timor Lorosae. Perang Psikologispun berlangsung. Ironisnya dari dalam negeripun sekelompok orang yang mengaku cerdik cendekia ikut menyuarakan kemerdekaan bagi provinsi termuda itu. Ada apa dengan kalian? Mana jiwa ksatria? Rupanya mereka memilih berperan sebagai Gunawan Wibisana yang dengan tega mengorbankan wilayah tanah air diacak-acak oleh agresor. Mengapa tidak memilih menjadi Kumbakarna? “Baik buruk ini adalah negaraku, setiap ada ancaman asing akan kuhadapi!”.

Ibu pertiwi sedang menangis, setelah terjungkalnya rezim otoriter akibat krisis moneter 1997, setiap saat negeri ini selalu diwarnai guncangan aksi-aksi demonstrasi anarkis yang tak berujung pangkal, provokasi-provokasi dari LSM yang didanai pihak asing, pemberitaan media informasi yang tak berimbang sampai aksi-aksi mahasiswa yang ditunggangi oleh kelompok-kelompok tertentu bahkan rongrongan gerakan separatis di beberapa daerah atau konflik horisontal bernuansa SARA semakin menambah lemah negeriku. Kejahatan tradisional dan kejahatan modernpun muncul berdampingan tanpa ada penegakan hukum yang dapat memberi efek jera. Para pemimpin yang seharusnya menjadi suri tauladan tidak dindahkan lagi oleh rakyat. Tentara dan Polisi yang mengawal jalannya reformasi justru dihujat dan dicaci. Euforia yang kebablasan!

Dan yang hampir sukar di nalar, berkembang isu bahwa di perairan Selandia Baru sejumlah pasukan tempur multinasional bersiap-siap memasuki wilayah Indonesia jika nasib Timor-Timur benar-benar berlarut. Fakta akan selalu berkata jujur, bahwa sudah terlalu banyak bangsa Indonesia berkorban demi sejengkal tanahnya, begitu banyak harta, jiwa dan raga yang telah diserahkan. Putra-putri terbaik bangsa berguguran demi semangat nasionalisme menjaga keutuhan Timor Lorosae setelah disyahkannya Deklarasi Balibo yang dimotori oleh Amerika Serikat berdasar ketakutannya terhadap komunis di Pasifik. Lepasnya Timor-Timur adalah suatu pelajaran yang sangat berharga, bahwa negeri ini secara Geopolitik dan ekonomi sangat diperhitungkan oleh kekuatan asing. Bangsaku yang besar, negeriku yang sentosa sering kudengar saat dongeng menjelang tidur.

Timor Lorosae selamat berpisah semoga kebersamaan selama ini akan menjadi kenangan yang terindah dalam perjalanan bangsa Indonesia, sampai jumpa di lain waktu. Hati nuranimu akan selalu berkata jujur bahwa kami telah merawat dan membesarkanmu dengan sekuat tenaga meskipun kelak sejarah yang kau tulis dapat saja bertutur lain.

Dari pemberitaan televisi terlihat mantan para pelaku perang dari kedua belah pihak saling bersalaman bahkan berangkulan mesra bak kawan lama padahal dulunya mereka saling bermusuhan. Perang telah usai! Tidak ada lagi pahlawan dan pengkhianat. Takkan ada lagi sebutan pejuang dan pemberontak!
Air mata para mantan pejuang Seroja dan keluarganya bercucuran! Mungkinkah terharu, kecewa ataupun marah? Entahlah, sebuah resiko yang harus dijalani. Kakak sulungku seorang guru harus kehilangan anak dan istrinya karena teror orang tak dikenal selama integrasi. Kakak kedua mendapat penghargaan Kopral Anumerta. Berkat pengorbanannya sang Komandan mendapat promosi jabatan. Perang untuk siapa? Jawaban jujur tentu beraneka ragam.

Pantulan cahaya bulan yang menerangi rerumputan, seakan-akan memantul padaku. Kulirik Sonia di samping sedang termangu menatap kerlap-kerlip lampu taman kota. Tiada kata-kata yang perlu kami perbincangkan lagi, bibir kami membisu mungkin hanya hati yang bicara. Malam bertambah temaram! Perlahan kuberanjak dari bangku taman. Kugerakkan tanganku untuk kesekian kalinya mendorong kursi rodamu, persis ketika kita masih di bumi Lorosae. Terima kasih Tuhan…, walaupun kami lahir dan tumbuh dalam lingkungan berbeda, tetapi lewat kasih-Mu kami bisa bersahabat tanpa ada prasangka suku, agama, ras dan golongan. Kursi roda pemberian ayah ketika kau divonis lumpuh menyiratkan pesan bahwa kami tidak akan pernah terpedaya oleh kotak-kotak golongan yang telah diciptakan oleh manusia. Seringkali kita terjebak dalam sekat “Siapa Aku Siapa Dirimu”, sehingga membentengi serta menghalangi kita sebagai khalifah di muka bumi untuk berbuat baik kepada sesama tanpa pamrih.

Kilauan bintang-bintang di angkasa raya ikut menyaksikan kami menyusuri jalan sepanjang taman, sungguh gagah dan menawannya kalian, bertengger di ketinggian dan takkan ada yang bisa menjamahnya. Ingin kupetik salah satu, akan tetapi kalian semakin meninggi hingga semakin sulit kugapai. Seandainya kalian bisa bersuara mungkin saat ini sedang menertawaiku, menertawai apa yang sedang kupikirkan. Pungguk merindukan bulan dan bintang. Kopral Putra Angkasa Nata Negara trah terakhir Sumedang Larang.

“Mengapa kau memilih mendaftar tamtama? Mengapa tidak mendaftar perwira?”
“Tidak!”
“Kau takut menjadi pemimpin?”
“Pemimpin adalah panutan bagi bawahan segala tindak-tanduk adalah cermin bagi bawahan!”
“Lantas?”
“Aku akan lebih siap menjadi tamtama dan memimpin diriku sendiri!”

Dialog itu terngiang kembali, dibawah guyuran hujan deras di teras depan rumah, dua pemuda Ramos Matanruak dan Putra Angkasa. Ramos sahabatku, pemuda polos lagipula sederhana itu kini menjadi jenderal militer Timor Leste yang disegani sekaligus dihormati.

“Adigang, adigung, adiguna takkan pernah ada dalam kamusku Putra Angkasa!” Kubaca pesan singkatmu di ponsel, hmm … mungkin Sonia telah memberikan pin dan nomerku padanya. Adigang, adigung, adiguna sebuah filosofi jawa yang dulu pernah kuperkenalkan padanya. Jika seseorang telah mencapai kesuksesan kadang-kadang dapat tergelincir merasa tinggi, merasa terhormat dan merasa dapat berbuat apa saja. Ironisnya di antara mereka dulu banyak yang berasal dari keluarga kere alias miskin, makanya ada sindiran “Kere munggah Bale”. Orang miskin yang naik kasta dan tak tahu diri pula.
“Itu khan hanya untuk pria?” tukas Sonia setelah menguping pembicaraan kami.
“Oke.. khusus wanita Adigunawati saja!” kataku tak mau kalah. “Adigunawati sudah mencakup adigang, adigung dan itu lebih dahsyat ketika yang bersangkutan menjadi isteri pejabat alias bisa berbuat semaunya atas restu suami!”

“huuuu..!” kompaknya paduan suara saudara kakak beradik itu. Kebetulan atau tidak, setelahnya kilat dan guntur menggelegar.

Langit hitam nun jauh di atas sana, banyak bintang bertaburan namun yang bersinar hanyalah satu. Malam inipun aku masih mengantongi sepucuk surat darimu beberapa hari yang lalu. Sonia… 13 tahun sudah kita tak pernah bertemu, dan adalah hal yang tak pernah kuduga bahwasannya dengan kehendak Tuhan saat ini kita dipertemukan.

“Selamat jalan Om dan Sonia”. Sepenggal kata dariku malam ini juga, setiba mengantarnya di lobby hotel. Sampai jumpa lagi entah kapan. Terlalu banyak kenangan di bumi Lorosae dan takkan begitu saja terhapus dalam memoriku. Saat-saat bersama suka dan duka dengan orang-orang yang penuh kasih, juga dengan mantan pejuang-pejuang integrasi dari berbagai kalangan yang kini terlupakan. Salam Mahidi, Mati Hidup Demi Indonesia.
Sekian

Untuk para generasi muda jangan sekali-kali melupakan sejarah.
Cerpen Karangan: Prabu Awang

Sumber: cerpenmu.com

 

Copyright MC2 @ 2015 Jejak Kaki.

MC2 ,