Tampilkan postingan dengan label Perjuangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perjuangan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Januari 2016

Mawar Berduri

Ilustrasi/Ist.

Tak terpahami jarak dan waktu
Jauh di pelataran hati
Benih cinta, kasih dan sayang telah semai bersama
Tak kupahami kini
Sang waktu mengikis segala rasa kita

Entah....
Ia tak mekar berseri seperti dahulu
Tak juga semerbak wangi beraroma
Benihnya telah kerdil dan mati bersama waktu

Hanya duri yang perlahan menyayat kalbu
Perih rasanya
Seakan teriris sembilu
Rasa ini terus hidup dan memburuh setiap detik

Sampai kapan kuketahui?
Apakah ku menyalahkan diriku?
Bolehkah ku salahkan waktu?

Akhh....
Kau memang mawar berduri
Durinya kau tumbuhkan hidup
Dan aromanya kau bawa pergi

Anonymus

Minggu, 08 November 2015

Kata-Kata Bijak dalam Novel "Sang Alkemis" Karya Paulo Coelho

Cover dari Novel "Sang Alkemis"


 *) "Dusta terbesar itu: Bahwa pada satu titik hidup kita, kita kehilangan kendali atas apa yang terjadi pada kita dan hidup kita jadi dikendalikan oleh nasib" - Sang Raja

*) "Takdir adalah apa yang selalu ingin kaucapai. semua orang, ketika masih muda, tahu takdir mereka, pada titik kehidupan itu, segalanya jelas, segalanya mungkin. Mereka tidak takut bermimpi, mendambakan segala yang mereka inginkan terwujud dalam hidup mereka. tapi dengan berlalunya waktu, ada daya misterius yang mulai meyakinkan mereka bahwa mustahil mereka mewujudkan takdir tersebut" - Sang Raja

*) "Dan saat engkau menginginkan sesuatu, seluruh jagat raya bersatu padu untuk membatumu meraihnya" - Sang Raja

*) "Di masa-masa awal kehidupan mereka, manusia sudah tahu alasan keberadaan mereka, barangkali ini juga sebabnya mereka menyerah terlalu cepat, tapi memang begitulah adanya" - Sang Raja

*) Kalau kau memulai dengan menjanjikan sesuatu yang belum kau miliki, kau akan kehilangan hasratmu untuk berusaha memperolehnya - Sang Raja

*) "Sebab aku tidak hidup di masa lalu ataupun di masa depan. Aku hanya tertarik pada saat ini. berbahagialah orang yang bisa berkonsentrasi hanya untuk saat ini" - Santiago

*) "Kau harus mengerti, cinta tak pernah menghalangi orang mengejar takdirnya. Kalau dia melepaskan impiannya, itu karena cintanya bukan cinta sejati. Bukan cinta yang berbicara bahasa dunia - Sang Alkemis

*) "Orang dicintai karena dia memang dicintai. Tak perlu ada alasan untuk mencintai - Fatimah

*) "Penghianatan adalah pukulan tak terduga-duga. Kalau kau mengenal hatimu dengan baik, dia tak akan pernah mengkhianatimu. Sebab kau tahu pasti mimpi-mimpi dan keinginan-keinginannya, dan kau tahu juga cara menyikapinya - Sang Alkemis

*) "Katakan pada hatimu, rasa takut akan penderitaan justru lebih menyiksa daripada penderitaan itu sendiri, dan tak ada hati yang menderita saat mengejar impian-impiannya, sebab setiap detik pencarian itu bisa diibaratkan pertemuan dengan Tuhan dan keabadian - Sang Alkemis

*) "Bukan cinta namanya kalau hanya berdiam diri saja seperti padang pasir, atau menjelajahi dunia seperti angin. Bukan pula cinta namanya, kalau hanya memandang segala sesuatu dari kejauhan seperti matahari. Sebab saat kita mencintai, kita selalu berusaha menjadi lebih baik - Santiago

*) "Setiap orang di dunia ini, apa pun pekerjaannya, memainkan peran penting dalam sejarah dunia. Dan biasanya orang itu sendiri tidak menyadarinya - Sang Alkemis. (*)
 

Resensi Novel "Sang Alkemis" Karya Paulo Coelho

Cover dari Novel "Sang Alkemis"

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa: Tanti Lesmana
Desain Sampul: Eduard Iwan Mangopang
Ukuran: 13.5 x 20 cm
Tebal: 216 halaman
Terbit: Juni 2012
Cover: Softcover
ISBN: 978-979-22-8520-8
Cetakan ketiga belas: Juni 2012

Rata-rata setiap tahun, muncul sebuah buku yang mengubah hidup para pembacanya selamanya. Novel Paulo Coelho yang memikat ini telah memberikan inspirasi bagi jutaan orang di seluruh dunia. Kisah yang sangat sederhana, namun menyimpan kebijaksanaan penuh makna, tentang anak gembala bernama Santiago yang berkelana dari rumahnya di Spanyol ke padang pasir Mesir untuk mencari harta karun terpendam di Piramida-Piramida. Di perjalanan dia bertemu seorang perempuan Gipsi, seorang lelaki yang mengaku dirinya Raja, dan seorang alkemis—semuanya menunjukkan jalan kepada Santiago untuk menuju harta karunnya.

Tak ada yang tahu isi harta karun itu atau apakah Santiago akan berhasil mengatasi rintangan-rintangan sepanjang jalan. Namun perjalanan yang semula bertujuan untuk menemukan harta duniawi berubah menjadi penemuan harta di dalam diri.

Kaya, menggugah, dan sangat manusiawi, kisah Santiago menunjukkan kekuatan mimpi-mimpi dan pentingnya mendengarkan suara hati kita. Inilah plot yang dipilih Paulo Coelho untuk novelnya yang berjudul Sang Alkemis.

Novel ini bercerita dengan memukau tentang Santiago, bocah gembala Andalusia yang tidak bersekolah karena kedua orang tuanya hanya bekerja sebagai petani. Dan kedua orang tuanya menginginkan Santiago kelak besar nanti untuk menjadi seorang Pastor. Tetapi keinginan Santiago berlawanan dengan keinginan kedua orang tuanya, Santiago hanya berkeinginan untuk mengembara mencari harta duniawinya. Dari kampung halamannya di Spanyol, ia ke Tangier dan menyebrangi gurun Mesir.

Setting inilah, menurut Romerikes Blad ( Norwegia ) dalam pujian internasional untuk Sang Alkemis, yang kemudian menjadi unsur pokok penciptaan suasana, yang diilhami oleh dongeng-dongeng tradisional, dinafasi oleh kitab-kitab suci dan legenda-legenda. Bahkan tidak sungkan Romerikes Blad (Norwegia) menilai karya Paulo Coelho sebagai salah satu dari segelintir karya yang berhak menyandang gelar fenomena penerbitan. (hlm.ii)

Novel ini dimulai dengan pemaparan yang menarik mengenai bocah yang bernama Santiago dengan kawan-kawan ternaknya bermala di sebuah gereja yang terbengkalai dan pohon sikamor yang sangat besar tumbuh di titik tempat sakristis pernah berdiri. Ketika ia sedang tidur Santiago bermimpi yang sama seperti minggu lalu, dan sekali lagi ia terbangun sebelum mimpinya selesai. Lalu Santiago bangun dan mengambil tongkat untuk membangunkan domba-dombanya yang masih tidur. Santiago segera memperhatikan hewan-hewannya yang sudah mulai ribut. Sepertinya ada energi misterius yang menghubungkan hidupnya dengan domba-domba, yang telah bersamanya selama dua tahun, mengembalakan mereka menyusuri pedesaan guna mencari makan dan air. “Mereka sudah begitu terbiasa denganku hingga tahu jadwalku,” gumam si bocah. Memikirkan hal tersebut ia sadar boleh jadi sebaliknya : dialah yang menjadi terbiasa dengan jadwal dombanya .(hlm.6).

Ketika beberapa hari kemudian dia selalu berbicara kepada dombanya hanya satu gadis yaitu, putri pedagang kain. Paras gadis itu khas Andalusia, dengan rambut hitam bergelombang dan mata yang secara samara-samar mengingatkannya pada para penakluk bangsa Moor. Baru kali ini Santiago ingin menetap di suatu daerah.

Santiago berfikir bila suatu hari nanti dia menjadi monster, dan memutuskan untuk membunuh dombanya, satu-persatu. Ia pun terkejut dengan pemikirannya. Dia berfikir mungkin karena gereja itu, dengan pohon sikamor yang tumbuh di dalamnya, ada hantunya. Itulah yang menyebabkan ia bermimpi yang sama dua kali, dan menyebabkan dia merasa geram terhadap kawan-kawan setianya.

Seketika Santiago berfikir untuk mewujudkan mimpi menjadi kenyataan membuat hidup menarik. Lalu ia menemui seorang perempuan di Tarifa, yaitu seorang peramal. Peramal itu berkata, ”dan ini tafsirannya: kamu harus pergi ke Piramida di Mesir. Aku belum pernah mendengar tentangnya, tapi, bila seorang anak menunjukannya padamu, artinya tempat itu benar-benar ada. Di sana akan kau temukan harta yang akan membuatmu kaya.”(hlm 18).

Lalu Santiago melanjutkan perjalanannya untuk menuju ke Piramida di Mesir. Tetapi ketika sedang di perjalanan Santiago bertemu dengan orang tua yaitu seorang raja dari Salem. Raja itu mengetahui maksud perjalanan Santiago, yaitu mencari legenda pribadinya. Raja itu akan memberi tahu bahwa harus pergi ke arah mana agar Santiago sampai di Mesir, tetapi Raja itu meminta imbalan dengan memberinya sepersepuluh dari domba yang dimiliki oleh Santiago. Di tengah alun-alun dengan angin yang mulai kencang. Dia tahu angin apa itu: orang menamakannya levanter, karena pada saat itulah bangsa Moor datang dari kota Levant di ujung timur Mediteranea. ”di sinilah aku, antara kawanan dombaku dan hartaku.” Pikir si bocah. Pada esok harinya Santiago bertemu lagi dengan Raja tua itu. ”Dimana harta karun itu?” tanya Santiago. ”Di Mesir dekat Piramida.” jawab si Raja. Lalu raja itu memberikan dua buah batu yang tertancap di tengah-tengah penutup dadanya, yang diberi nama Urim dan Thummim.

Setelah sampai di Afrika ketika di sebuah kedai dia bercakap-cakap dengan seorang pemuda yang tidak lain adalah seorang pencuri, dan akhirnya uang yang dimiliki oleh Santiago di ambilnya pergi. Santiago harus pergi ke Gurun Sahara tanpa mempunyai uang sepeser pun, untuk meraih legenda pribadinya. Lalu setelah si bocah berjalan, si bocah menemukan sebuah toko kristal dan akhirnya si bocah bekerja di toko kristal tersebut.

Pedagang itu memahami perkataan si bocah. Kehadiran si bocah di toko kristal itu merupakan suatu pertanda dan seiring berjalannya waktu dan mengalirnya uang ke laci, dia tidak pernah menyesal telah mempekerjakan si bocah. Dia mendapat bayaran lebih dari semestinya, karena pedagang itu menduga penjualan tidak akan tinggi, dan sebab itu ia menawari si bocah persentase komisi yang besar. Dia mengira si bocah akan segera kembali ke domba-dombanya. ”mengapa kamu ingin pergi ke Piramida?” tanya si pedagang kristal itu. ”Karena aku selalu mendengar tentang Piramida.” jawab si bcah, tanpa sedikit pun menyebut mimpinya. Harta karun itu sekarang bukanlah apa-apa selain ingatan yang menyakitkan, dan dia berusaha menghindar dari memikirkan hal itu. ”Aku tidak pernah mendengar ada orang di sini yang mau mengarungi gurun hanya untuk melihat Piramida,” kata si pedagang. ”piramida-piramida itu hanya tumpukan batu. Kamu dapat membuatnya di halaman rumahmu. ”si pedagang berkata lagi. ”Bapak tidak pernah bermimpi berkelana.” kata si bocah. ”Bapak hanya ingin menjalankan kewajiban ke lima sebagai seorang muslim, yaitu pergi menunaikan ibadah haji.” jawab si pedagang. (hlm 62).

Setelah beberapa bulan si bocah bekerja di toko kristal itu, lalu si bocah meneruskan perjalannannya untuk pergi ke Piramida. Lalu si bocah bertemu dengan lelaki inggris yang sedang duduk di sebuah bangku panjang di suatu bangunan yang berbau binatang, keringat dan debu. Bangunan ini separuh gudang, separuh kandang. Lalu si bocah bercakap-cakap dengan lelaki inggri itu, ternyata lelaki inggris itu sedang mecari seorang alkemis yang tertulis di suatu buku, alkemis itu termansyur di Arab yang mengunjungi Eropa. Dikatakan bahwa umurnya lebih dari duaratu tahun, dan bahwa dia telah menemukan batu Filsuf dan Obat Hidup. Lelaki inggris itu terkesan dengan kisah tadi. Tapi dia tidak pernah mengira bahwa cerita itu bukan sekedar dongeng, bila seorang temanya-sekembali dari ekspedisi arkeologi di gurun-tidak memberi tahu dia tentang seorang Arab yang memiliki kekuatan-kekuatan yang menakjubkan. ”Dia tinggal di oasis Al-Fayoum,” tutur temannya itu. ”Dan orang-orang bilang umurnya dua ratus tahun dan bisa mengubah logam apapun menjadi emas.” (hlm 77).

Lalu si bocah dan laki-laki itu pergi melewati gurun untuk pergi ke oasis bersama rombongan Kafilah. Gurun adalah hamparan pasir di beberapa tempat dan bebatuan di tempat lainnya. Jika karavan terhalang oleh bebatuan besar, ia harus mengitarinya; bila ada daerah bebatuan yang sangat luas, mereka harus mengitari putaran besar. Kalau pasir terlalu lunak bagi kuku-kuku hewan, mereka mencari jalan yang tanahnya lebih keras.

Di saat lain, muncul orang-orang misterius yang berkerudung; mereka adalah orang-orang Badui yang mengawasi jalannya rute karavan. Mereka memberi peringatan tentang para perampok dan suku-suku buas. Suatu malam, suatu penunggang onta mendatangi unggun orang inggris dan si bocah duduk.”Ada isu tentang perang suku,” ungkapnya kepada mereka. Ketiganya terdiam. Si bocah merasakan adanya rasa takut di udara, meski tak seorangpun yang mengatakan sesuatu. Sekali lagi ia merasakan bahasa tanpa kata-kata...bahasa universal.

”Sekali kamu masuk ke dalam gurun, tak ada jalan untuk kembali,” ujar penunggang unta itu. ”Dan, bila kau tak dapat kembali, yang harus kau pikirkan hanyalah jalan terbaik untuk bergerak ke depan. Selanjutnya terserah Allah, termasuk bahaya.”Dan dia menyimpulkan dengan mengucap kata misterius itu: ”Maktub.”(hlm 89).

Di oasis si bocah bertemu dengan seorang gadis yang bernama Fatimah, seorang gadis yang memikat hati si bocah. Si bocah telah melupakan untuk meraih legenda pribadinya karena ia sudah memiliki satu ekor unta, uang hasil bekerja di toko kristal, lima puluh keping emas dan ia sudah memiliki Fatimah. Di negrinya ia akan jadi orang kaya. Tetapi kata Sang Alkemis semua yang kau punya sekarang bukan berasal dari Piramida. Alkemis itu akan mengantarkan si bocah untuk meraih legenda pribadinya. Dan mereka memulai perjalannya untuk pergi ke Piramida meski sedang terjadi perang suku di gurun tersebut.

Di hari ke tujuh perjalanannya, Sang Alkemis memuruskan membuat tenda lebih awal dari biasanya. Elangnya terbang mencari buruan, dan Alkemis menyodorkan tempat minumnya pada si bocah. ”Kau hampir tiba di perjalananmu,” kata sang alkemis. ”kuucapkan selamat padamu untuk pencarian Legenda Pribadimu.”
”Hanya ada satu cara untuk belajar,”jawab sang Alkemis. ”Melalui tindakan. Semua yang perlu kau ketahui telah kau pelajari melalui perjalananmu. Kamu hanya perlu mempelajari satu hal lagi.”ujar sang Alkemis itu.

Si bocah ingin mengetahui itu apa itu, tapi sang Alkemis memandang ke cakrawala, mencari elangnya. ”Mengapa kamu disebut sang Alkemis?” Tanya si bocah. ”karena memang itulah aku,” Ujar sang alkemis.

”Dan apa yang salah ketika Alkemis-alkemis lain mencoba membuat emas dan tak berhasil melakukannya?”
”Mereka hanya mencari emas,” jawab teman perjalananya. ”Mereka mencari harta dalam Legenda Pribadinya, tanpa benar-benar menginginkan menjalankan Legenda Pribadinya itu.”

”Apa yang masih perlu aku ketahui?” tanya si bocah.tetapi sang alkemis kembali menatap cakrawala.(hlm 145).

"Mengapa kita harus mendengarkan suara hati kita?" tanya si anak, ketika mereka mendirikan tenda pada hari itu.

"Karena, di mana hatimu berada, di situlah hartamu berada."(hlm 148).

***
Akhirnya si bocah tersebut menemukan letak di mana beradanya Legenda pribadinya itu. Tetapi setelah ia menggali di mana hartanya berada, si bocah mendengar suara kaki. Beberapa orang mendekatinya. Mereka menyuruh si bocah untuk terus menggali, tetapi tidak menemukan apa-apa. Ketika matahari terbit, orang-orang itu menghajar si bocah dan mengambil harta yang dimiliki si bocah dan akhirnya si bocah mengetahui di mana hartanya berada.

Si bocah akhirnya mengetahui di mana hatinya berada yaitu dengan kembali lagi ke gereja kecil dan terbengkalai dengan pohon Sikamor yang masih tegak di sakritis. Setelah pagi-pagi ia menggali di dasar pohon sikamor dan setelah setengah jam kemudian, sekopnya membentur sesuatu yang keras. Satu jam kemudian, di hadapannya tampak seperti coin emas Spanyol. Juga ada batu-batu berharga, topeng-topeng emas yang dihiasi bulu-bulu merah dan putih, dan patung-patung batu bertatahkan permata. Perjalanan itu pulalah yang membawanya menemukan cinta sejatinya: Fatima, gadis gurun yang setia menanti kepulangannya.

Membaca novel ini seperti menjelajahi suatu petualangan yang penuh keajaiban dan kearifan mengikuti hati seseorang. Novel ini memuat pesona komis, ketegangan dramatis, dan intensitas psikologis sebuah novel. Serta cerita ini disajikan dengan kelugasan dan kesadaran yang mengangkat pembacanya keluar dari waktu dan memusatkan perhatian pada kisah ajaib tentang seorang pemimpin yang mencari dirinya. Sebuah novel dengan pesan yang jelas bagi setiap pembacanya.

Novel ini tampaknya lebih mengedepankan untuk meraih impian. Itu sebabnya banyak kejadian atau konflik yang yang seharusnya dicantumkan lebih detail dan menarik, tetapi hanya ditampilkan secara singkat tanpa kurang dipahami oleh pembacanya. (*)
 

Jumat, 21 Agustus 2015

Ayah, Happy Birthday

 
Ilustrasi/Ist

Benar kata  Demitri The Stoneheart, "Seorang ayah tidak akan mengatakan bahwa dia mencintai Anda, dia akan membuktikannya dengan perbuatan."

Sore itu kehadiranku disambut dengan sedikit rintik hujan. Langit semakin gelap ditutupi awan bergulung-gulung dengan petir yang sesekali  menyambar tempat yang kutinggalkan selama kurang lebih dua tahun itu. Jutaan rintik air mulai berhampuran di atas aspal tapi tidak berlangsung lama. Nampaknya mentari lebih kuat untuk memancarkan sinarnya di sela-sela gumpalan awan.

Gelora semangat memenuhi jiwa muda, terutama saat rumahku terlihat dari kejauhan. Sepanjang berjalan kaki menuju rumah, bersama langkah kaki yang kuayunkan, jantungku berdebar kencang.

Wajar saja, di rumah itu menyimpan banyak kenangan, juga semakin dekat untuk menjawab kerinduan yang tersimpan lama semenjak kutinggalkan sosok pahlawan  yang mendedikasikan hidupnya untukku dan saudara-saudaraku. Ialah Ayah, malaikat tak bersayap utusan Tuhan bagi kami.

Namaku Grace. Ibu meninggal saat aku berusia 5 tahun. Kini hanya ada aku dan ayah dan ketiga saudaraku yang menjadi bagian dari keluarga kecil ini. Mungkin bagi kebanyakan orang menganggap ibu sebagai seorang malaikat. Tetapi sebaliknya bagiku. Hanya seorang ayah. Ia adalah utusan Tuhan yang memberikan kasih sayang yang sempurna kepada kami.

Memasuki pekarangan rumah yang menyimpan kenangan manis hingga pahit itu, mataku mulai berkaca-kaca. Banyak rasa beradu menjadi satu irama. Aku masih berdiri mematung sembari memandang langit yang mulai berubah warna. Tiba-tiba aku mendengar suara yang tidak asing bagiku di belakang, suara yang begitu sangat kurindukan.

Bapa, kataku spontan dalam hati.

Bapaaaaa!  Aku berteriak kuat-kuat melihat sosok pahlawan yang memikul kayu pulang dari hutan sambil berlari kecil menyambutnya.

Nonaa!!"

Ayah teriak  membalas sambil melempar kayu yang dipikulnya. Aku berlari menggapai dan memeluknya. Air mata kami tak terbendung melepas rindu yang telah lama tersimpan rapat-rapat.

Bapa saya rindu.  Hanya kata itu mampu keluar dari mulutku terus berulang kali. Rasanya dalamnya rindu yang kurasakan selama ini terbayar dengan pelukan dan isak tangis yang kurasakan. Begitu lama kami berpelukan.

Ia memandangku, Kamu siapa nona? Ayah bertanya memastikan siapa diriku.

Saya Grace bapa, kataku.

Wajar pertanyaan itu, karena aku pulang tanpa memberi kabar sebelumnya, begitupun kami anak-anaknya telah meninggalkan ayah kami sendirian karena berjuang mencari ilmu jauh dari ayah.

Ohh, anakku!

Ayah kembali memeluk dan kali ini isak tangis kami semakin meninggi hingga para tetangga kami terharu melihat kami. Ada rasa nyaman, damai, nyaman saat berada dalam pelukan pria hebat ini.

Sementara, matahari lebih condong ke barat dan awan yang menghiasi langit kini mulai berubah kemerahan. Tak lama lagi malam akan segera tiba.

***
Hari ini, di hari istimewanya yang ke sekian ini, aku baru menyadari semuanya. Ia melakukan peran seorang ayah dengan sempurna sebagai kepala keluarga. Sebagai seorang ayah bagi kami, Ia memberikan pendidikan dan bimbingan kepada kami, sekaligus membantu untuk memecahkan masalah yang terjadi guna mencapai kedewasaannya.

Ayah memberi contoh dan teladan agar kami mampu hidup mandiri dan mengenalkan pengalaman-pengalaman tentang objek yang ada  di lingkungan sekitar sebagai bagian dari proses belajar.

Ayah memberikan perlindungan bagi kami, bertanggungjawab pada tugas dan berani mengambil keputusan sejalan dengan  kebutuhan. Ia memperlihatkan sikap kebapaan dan tokoh yang berpribadi matang dan dapat  memelihara kepercayaannya.

Ayah juga lihat dalam urusan rumah tangga, berperan sebagai ibu dengan penuh bertanggung jawab. Baginya, apabila melaksanakan tugas serta tanggung jawabnya dalam mendidik dan mengarahkan anak dengan baik, akan terlahirlah generasi yang baik. Generasi unggul yang tumbuh menjadi seseorang yang berbudi luhur, bertanggung jawab, dan berbakti kepada orangtua.

Sebagai seorang wanita, peristiwa dua puluhan tahun yang silam telah merubah kehidupan menjadi sosok anak yang tumbuh tanpa peranan seorang ibu. Memang semua terbayang sangatlah berat namun kini telah kulalui semua hingga aku tumbuh menjadi seorang yang kuat dan tegar dalam menghadapi persoalan hidup.

Ayah bagiku adalah sosok luar biasa yang memiliki peran ganda oleh keadaan. Ia menjadi sosok ayah yang dengan penuh kasih sayang merawat kami tanpa memikirkan dirinya yang kian tua. Wajarlah jika cinta kasih dari seorang ibu hampir tidak aku dapatkan. Komunikasi terjalin dengan ayah saja. Tentu ada perbedaan. Kepergian ibu itu tentu berdampak pada psikologisku.

Meski kepergian itu sewaktu masih kecil, sering terlintas di bayangku saat mendapatkan kasih sayang ibu. Hal ini sering membuatku seperti orang bodoh yang kehilangan akal sehat. Namun berkat orang-orang yang berada di sampingku, saya tegar dan kuat.

Aku tak pernah kekurangan kasih sayang karena ayah telah memberikan sayang yang lebih kepadaku. Namun tak bisa dipungkiri, kehadiran sosok ibu sangat kurindukan.

Jika cinta seorang ibu seperti madu yang manis, maka cinta seorang ayah adalah segelas teh hangat yang menenangkan. Rasanya memang tak semanis madu, tetapi ada kenyamanan dan kehangatan di sana. Mungkin!

Hari sudah berganti malam. Kini aku di kamar yang telah kutinggalkan beberapa tahun yang lalu

Saya banyak belajar dari Ayah tentang arti sebuah kehidupan. Bahwa setiap jengkal nafas yang kita hembuskan, ada pertanggungjawabannya kepada Sang Maha Kuasa. Bahwa hidup adalah suatu perjuangan. Pantang menyerah! Pantang mengeluh!"

Untuk Bunda, kupikir bunda begitu sempurna. Tidak akan ada wanita yang bisa setangguh bunda yang bisa meninggalkan nafas keibuan dalam keluarga kami hingga kini lewat sosok Ayah.

Dalam diri Ayah, aku yang seorang perempuan seakan melihat rupa Ibu. Ibu pasti juga sesabar dirinya dalam menghadapi setiap hantaman kepedihan. Entah pada saat Ayah jatuh dan menyerah, marah, dalam segala situasi dan kondisi.

Mungkin waktu dapat mengingkari semua asa. Namun hadirmu tak lekang oleh waktu, Ayah. Kau paripurna. Walau saya menjual dunia ini, nilainya tak sebanding dengan hadirmu, pria paling hebat dalam hidup.

Mencintaimu dengan segenap pikiran, perasaan dan jiwa. Thanks for sharing beyond everything for fourth of us.

Ayah, happy birthday 15 Agustus 2015. ***

Sabtu, 15 Agustus 2015

Peran Mambesak Dalam Menumbuhkan Nasionalisme Bangsa Papua Barat


 
Group Musik Mambesak. Ist.

“Saya tidak mau menjadi budak terus. Biar  saya makan kah tidak kah, saya mau berdiri sendiri” (Arnold C. Ap)

Sejarah Mambesak

Penggagas “Mambesak” Arnold C. Ap menyadari akan pentingnya memertahankan kebudayaan dari ancaman budaya modern. Mereka memahami pentingnya budaya dan berusaha untuk menggunakan musik sebagai sarana untuk menyampaikan hak dasar manusia: kebebasan berekspresi. Mambesak dibentuk untuk merevitalisasi tari tradisional Papua Barat, musik dan lagu dan akhirnya memberikan warna tertentu, bentuk dan inspirasi bagi kelahiran musik dan kelompok tari di seluruh Papua, secara aktif mempromosikan dan memperkuat identitas Papua Barat. Pembentukan ini juga adalah bagian dari ketidakpuasan atas hasil Pepera memperoleh pengesahan oleh PBB yang nampak sekali bahwa pendirian suatu negara Papua Barat yang terpisah dari Indonesia terlalu kecil "peluangnya."

Group music Mambesak atau burung Cenderawasih/burung kuning dalam bahasa Biak, menjadi momentum kebangkitan seni dan identitas bangsa budaya Papua. Sebelum memberikan nama Mabesak group ini bernama Manyori yang berdiri pada tahun 1970-an. Anggota/personil dalam group ini diantaranya; Arnold Clemens Ap, Sam Kapissa, Yowel Kafiar, Marthinny Sawaki.

Seperti mottonya, ‘kita bernyanyi untuk hidup yang dulu, sekarang dan nanti’ Mambesak hendak mengatakan nyanyiannya adalah perawat kehidupan orang Papua. Memertahankan budaya lokal menjadi ide dasar Mambesak dengan mengangkat kesenian rakyat yang berakar pada lagu serta tari-tarian yang melekat pada masyarakat Papua. Berangkat dari itu, mereka kemudian terus menggali lagu dan tarian dari seluruh pelosok Papua dengan menampilkan lagu serta tari-tarian tersebut dengan peralatan, Ukulele, Bass, Tifa dan Gitar. Dalam setiap penampilannya, Mambesak menyanyikan lagu-lagu daerah dan menari, tak ketinggalan, mambesak juga menciptakan lagu-lagu dalam bahasa Indonesia berlogat Papua, dimana lagu-lagu tersebut adalah menguraikan tentang unsur-unsur kebudayaan Papua.

Tentunya, Arnold C. Ap sebagai inisiator dalam pembentukan group ini, Ia menggunakan kapasitasnya sebagai ketua Lembaga Antropologi dan kepala museum yang diberi nama Sansakerta, Loka Budaya dan mendirikan sebuah kelompok seni-budaya yang mereka namakan "Mambesak”. Gerakan kebangkitan Seni dan Budayan Papua Barat yang di pelopori oleh Arnol Ap, Sam kapisa dan kawan-kawan mahasiswa uncen lainnya di Jayapura ini lahir pada tahun 1972. Mereka menjadikan gereja-geraja sebagai awal membangun gerakan tersebut hingga terakhir di RRI nusantara V Jayapura.

Gerakan ini tumbuh dan berkembang, kemudian pada tanggal 15 Agustus 1978 menjadikan hari jadi Mambesak. Musik ini oleh Sam Kapisa dan Arnold Ap mengganggap sebagai musik yang suci sehingga mereka menamainya Mambesak yang menurut orang Biak adalah burung suci, dengan tujuan untuk menghibur hati masyarakat Papua yang sedang di intimidasi, dianiaya, diperkosa dan dibinasakan. Musik-musik mambesak memberikan kekuatan perlawanan rakyat Papua dan mengembalikan jadi diri sebagai komunitas yang beda dari bangsa Indonesia.

Namun Mambesak sebagai gerakan kebudayaan yang ingin menyelamatkan serta melestarikan seni, budaya penduduk Irian (sekarang Papua), ternyata dipandang sebagai bahaya "laten" oleh aparat keamanan karena membangkitkan semangat nasionalisme Papua.

Pada akhirnya, tanggal 30 November 1983, Arnold Ap ditahan oleh militer Indonesia. Sebelum dan sesudahnya, sekitar 20 orang Papua yang umumnya terdiri atas cendekiawan, dosen, serta, mahasiswa Uncen dan pegawai Kantor Gubernur Irian Jaya di Jayapura ditahan dan diselidiki karena oleh pihak aparat keamanan diindikasikan adanya aspirasi politik dalam kaitan dengan OPM.                                                                                                   

Penahanan tokoh budayawan Irian Jaya ini berbuntut "hijrahnya" sejumlah dosen, mahasiswa, maupun pegawai Pemda menyeberang perbatasan menuju negara tetangga PNG, pada bulan Februari1984. Hampir pada waktu yang sama, di Jakarta empat pemuda Papua yang mempertanyakan nasib penahanan Arnold AP ke DPRRI, akhirnya terpaksa meminta suaka politik ke kedutaan besar Belanda.

Penahanan tersebut dilakukan karena dicurigai oleh Pemerintah Indonesia sebagai “gerakan politik” yang hendak membangkitkan nasionalisme Papua untuk melepaskan diri dari kekuasaan NKRI. Arnold Ap sendiri dituduh sebagai “OPM kota” yang ikut berpartisipasi dalam perjuangan kemerdekaan Papua. Karena kecurigaan tersebut, akhirnya Arnold Ap dibunuh oleh Kopassandha (kini Kopassus) dan mayatnya ditemukan pada tanggal 26 April 1984 di Pantai Base G, Jayapura, setelah sebelumnya ditahan sejak bulan November 1983 tanpa proses hukum yang semestinya. Pembunuhannya diatur dengan skenario “melarikan diri” setelah sebelumnya secara sengaja dibebaskan oleh Kopassandha dari dalam tahanan. Arnold Ap yang hendak menyeberang ke Papua New Guinea menyusul istri dan anaknya yang telah mengungsi sebelumnya justru ditembak mati. Selain Arnold Ap, rekannya, Eduard Mofu, juga dibunuh dan ditemukan terapung di permukaan air laut Pantai Base G dengan luka tembak di dada dan perutnya.

Kematian sang budayawan, yang dianggap berhasil mengakumulasikan dan mengintegrasikan kebudayaan masyarakat Irian Jaya, dijadikan "simbol" pengukuhan terhadap identitas dan jati diri orang Papua, yang merupakan cikal bakal tumbuhnya rasa nasionalisme Orang Papua.

Selama perjalanan Mambesak, sejak dibentuk pada tahun 1972 hingga 1984, mereka berhasil meluncurkan lima kaset masing-masing; Volume I pada tahun 1978, Volume II 1980, Volume III 1980, Volume IV 1982 serta Volume V tahun 1983.

Situasi Rakyat Pada Masa Kejayaan Mambesak
Lagu-lagu dan tari-tarian daerah yang dikembangkan Mambesak kaya dengan keragamannya karena semua anggotanya mahasiswa Universitas Cenderawsih. Ada juga beberapa PNS diluar kampus yang punya bakat seni bersatu dengan mahasiswa. Waktu liburan, kalau ada mahasiswa yang pulang ke daerah, terutama anggota Mambesak, pulang wajib bawa lagu, kemudian diaransemen di Loka Budaya Uncen.
Selain itu, masyarakat yang mendengar musik Mambesak  langsung mengirim lagu-lagu dari daerah ke Mambesak. Ada yang direkam di kaset, ada yang ditulis tangan lengkap dengan not-notnya, dibawa dan dilatih di Istana Mambesak di Uncen. Sehingga Mambesak tidak pernah kekurangan lagu-lagu dari setiap suku daerah di Papua.

Selain Mambesak, ada kelompok musik lain, seperti Yaromba Apuse, Mansayori, Kamasan, Yance Rumbino dan kelompoknya di Nabire juga dengan musik akustiknya serta beberapa kelompok musik lain, tapi tidak dilanjutkan, karena trauma dengan pembunuhan personil Mambesak. Buntutnya, tidak ada pengembangan lagu-lagu daerah Papua, sehingga hanya terhenti di Mambesak. Dan tidak ada lagi yang melanjutkan atau mengembangkannya. Beberapa group music baru muncul saat memasuki tahun 1990-an dengan menyanyikan lagu-lagu Papua untuk Yosim Pancar yang dibawakan dalam perlombaan, tapi belum ada kelompok atau group music yang menyanyi khusus lagu-lagu Papua seperti Mambesak.

Kehadiran Mambesak disambut antusias oleh masyarakat Papua membayangkan identitas bangsa Papua sebagai ras Melanesia. Kebangkitan budaya Papua yang lama terpendam muncul kembali pada tahun 1970-1980 ketika group music Mambesak hadir ke tengah masyarakat dan begitu tenar di Papua. Lima volume kaset yang berisi reproduksi kembali. Hal itu didukung pula dengan siaran pelangi Budaya dan pancaran sastra yang diasuh oleh Arnold Ap dkk dari Mambesak di studio V RRI Jayapura setiap hari Minggu siang sangat populer.

Sebagai seorang seniman yang sedang berusaha sedang genggam suku-suku di Papua dalam Mambesak, Ia menyadari bahwa dalam hal mengarransement lagu mesti disesuaikan dengan adat dan budaya setempat. Tak heran, hal itulah mendorong masyarakat Papua hingga kini menganggap putra asala Biak ini sebagai seorang Martir.

Semangat Mambesak dalam Menumbuhkan Nasionalisme Papua Barat
Gerakan Mambesak memberikan ispirasi yang kuat dan membangkitan nasionalisme bangsa Papua, sehingga perlawananpun semakin lama mulai menguat di daerah-derah Papua lainnya. Namun sayang, karena oleh pemerintah Indonesia menganggapnya gerakan ini sangat berbahay sehingga mereka menangkap Arnol Ap dan membunuhnya tanpa alasan politik dan keamanan yang jelas terhadap kesalahan yang di Lakukan oleh Al arnol Ap. Gerakan ini melahirkan protes besar-besar bangsa Papua atas kehadiran Indonesia, dengan melakukan Suaka politik dan pengungsian besar-besaran.

Mambesak juga melalui musik dan lagu-lagu khas Papuanya melakukan perlawanan atas ketidakadilan. Adanya fakta sebagai satu kesatuan orang asli Papua dari ras Melanesia yang saat itu tertindas dalam pelanggaran hak asasi manusia dan adanya keinginan untuk menyatukan orang asli Papua sebagai satu bangsa untuk lepas dari penjajahan menjadi alasan yang tidak dapat dilepaskan dari kemunculan Mambesak. Dimana “nasionalisme” Papua yang dibangun saat itu disalah mengerti oleh pemerintah Indonesia seakan-akan dibangun semata-mata untuk kepentingan “Papua merdeka”, padahal penyatuan Papua sebagai satu bangsa dalam negara Indonesia sejatinya bukan hal yang tabu dari persfektif fakta ras, kebudayaan, dan kemanusiaan (karena memang negara ini dibangun di atas fakta keberagamaan ras, suku, bangsa, dan agama).

Gugatan terhadap kolonialisme yang diwujudkan dalam bentuk perbudayakan dan pelanggaran hak asasi manusia dalam bentuk lainnya dan gugatan terhadap “kemapanan yang menindas” oleh oleh rakyat Papua melalui Mambesak dilakukan dengan cara bermain musik dan bernyanyi. Para personil Mambesak bersuara melalui musik dan lagu khas Papua. Melalui musik dan syair lagu-lagunya, Mambesak mengungkapkan segala rasanya, dimana yang mencolok adalah pemuliaan terhadap Tuhan, pemujaan terhadap alam semesta (negerinya), kekaguman dan penghormatan terhadap indentitas dirinya dan bangsanya, gugatan terhadap kolonialisme (dan rasisme), dan cita-cita yang hendak diraih di masa depan.

Nilai-nilai dalam Semangat Mambesak
Sejak kemunculan Mambesak, kata “merdeka” kembali muncul dalam otak setiap manusia Papua, walaupun sebelumnya seringkali dilupakan. Saat mendengarkan lagu Mambesak, tentu saja orang yang lebih tua mengatakan bahwa “itu lagu merdeka” sungguh ampuh. Kata itu menjadi “ajaran” luhur yang tertanam kuat dalam lubuk hati setiap orang Papua. Mendengar musik dan lagu Mambesak berarti mendengar lagu merdeka. Dalam kekuasaan ajaran merdeka, kita yang menjadi bagian dari orang Papua pun tak henti-hentinya mencari esensi kata itu. Kadangkala kita merasa bingung dengan kata itu, sebab “merdeka” itu apakah penting, apakah sesuatu yang akan datang dengan sendiri, apakah sesuatu yang akan diberikan, atau apakah sesuatu yang akan direbut.

Tentunya hal ini adalah corong dari “korban” virus Mambesak dan ajaran merdeka. Virus Mambesak dan ajaran merdeka sudah mewabah kemana-mana di seluruh pelosok Tanah Papua, sudah menjangkiti hampir semua orang asli Papua, bahkan mereka yang bukan non-asli Papua. Ini merupakan sebuah fakta yang sulit ditolak. Mambesak benar-benar menemukan kenyamanan di dalam lubuk hati setiap orang asli Papua, ibarat benih unggul yang menemukan tanah yang subur. Dari sana kerinduan akan Mambesak tumbuh dengan subur, menjulang tinggi, menemukan cita dan cinta yang semestinya. Cita dan cinta itu adalah kemerdekaan; dimana setiap oran asli Papua dapat hidup dengan kaki kokoh dan kepala tegak di negeri leluhurnya. Mambesak adalah “kawan perjalanan dalam siara kehidupan menuju puncak kemerdekaan”. Dalam semangat dan posisi seperti ini, virus Mambesak dan ajaran merdeka menjadi dua sisi mata uang yang saling melengkapi. Mambesak tak penting tanpa merdeka, dan merdeka pun tak penting tanpa Mambesak.

Mambesak mempunyai ribuan penggemar yang fanatik di Papua, terutama orang asli Papua. Hal ini dapat dilihat dari adanya upaya dari sejumlah pihak untuk membangkitkan kembali Mambesak, adanya kegemaran sejumlah orang asli Papua untuk mendengarkan lagu-lagu Mambesak, adanya sejumlah aksesoris (terutama pakaian) yang disablon dengan foto Arnlod Ap, dan adanya sejumlah tulisan yeng bertemakan Mambesak dan Arnold Ap yang ditulis oleh sejumlah orang.

Jika melihat perbandingan antara Rastafari dan Bob Marley dengan Mambesak dan Arnold Ap, maka terdapat tujuh kesamaan yang mencolok. Hal semacam ini bukanlah sebuah kebetulan, sebab hal semacam ini sesungguhnya merupakan fenomena global. Banyak gerakan sosial (politik/keagamaan) dan banyak musik dan lagu lahir sebagai wujud perlawanan terhadap penjajahan (atau sebut saja “kemapanan yang menindas”) dan untuk menemukan dan menegakkan jati diri sebagai manusia yang merdeka. Pilihan perjuangan dengan cara seperti ini juga pernah dilakukan oleh group musik, musisi dan penyanyi lain seperti John Lennon, Lucky Dube, Black Brothers, dan banyak group music lainnya.

Dengan demikian, sesungguhnya latarbelakang lahirnya Mambesak, dinamika dalam perjalanan Mambesak, dampak dari adanya Mambesak, dan tujuan akhir dari Mambesak sesungguhnya sama atau serupa dengan gerakan sosial (politik/keagamaan), musik, dan lagu yang pernah dan sedang bermunculan di berbagai belahan dunia lainnya. Yang pada umumnya inti dari gerakan sosial (politik/keagamaan) seperti ini adalah karena hendak menemukan dan menegakkan jati dirinya sebagai manusia yang sesungguhnya.

Seni menurut Bhikkhu Dhammasubho Mahathera, adalah “Sentuhan Nurani”. Untuk itulah seni menjadi ukuran suatu bangsa manusia. Semakin halus nuraninya, semakin tinggi karya-karya nuraninya. (#MC2)

Referensi:
1.    Yakobus O. Dumupa (2014) “MAMBESAK: Ungkapan Perasaan Bangsa Papua” Odiyaiwuu.com
2.    I Ngurah Suryawan (2011) “Ukulele Mambesak Membayangkan Identitas Budaya Papua 1970-1980-an” Etnohistori.org
3.    Bernard Agapa (2010) “Arnold Clemens Ap” Lovepapua.com
4.    Max Binur, (2005) “Menari dan Menarikkan Airk Mata Papua” Prakarsa Rakyat, inisiatif perlawanan local Simpul Kepala Burung Papua Periode Juli-September 2005.


NB: Materi ini dibawakan saat seminar dalam memperingati 43 tahun Mambesak, di Asrama Papua, Yogyakarta, 14 Agustus 2015




Senin, 10 Agustus 2015

Tulus


Ilustrai/Ist.

Langit biru...
Ijinkan aku singgah
Akan aku pahat sebuah nama
Mengukirnya dengan tinta emas
Menaburkannya penuh kasih sayang
Menghiasi pelangi yang takan pernah pudar

Walau rapuh dipersimpangan
Ketulusan meluluhkan rasa yang memilukan
Indah…..

Saat kegelapan menutupi jagat raya
Ketika jiwa berpetualang lepas
Bersama bulir-bulir mimpi tersisa
Terjaga raga dari sepenggal kisah

Salahkah hati punya rasa
Merasuk jiwa penuh makna
Mengukir lembaran sanubari begitu indah

Jika cinta tak butuh logika
Mungkin naluri hati yang bicara

Maco Alba

Selasa, 28 Juli 2015

Aku Peluru Ketujuh

Mayat Mako Tabuni Saat disemayamkan di RS. Bhayangkara Jayapura. ISt.

untuk mengenang kembali setahun kematian sang pahlawan, Musa Mako Tabuni, pada 14 Juni 2012)

Malam masih mengepakkan sayapnya, menyelimuti kota tua di pantai utara Papua, kota Hollandia. Kota tua itu punya sejarah, menjadi pelaku sejarah, sekaligus menjadi saksi bisu atas serentetan peristiwa sejarah yang mengalir bagai air.

Subuh itu tepat pada hari Kamis. Udara sepi, tidak berseliweran sebagaimana biasa setiap pagi. Di Abepura, seputaran lingkaran Abe, Ekspo, Waena, semua jalanan masih sepi. Baru pukul 4 pagi. Begitu juga dengan kota Jayapura yang terletak tepat di bibir pantai utara.

Sentani juga begitu tenang. Ketenangan dan keheningan itu bertentangan dengan jiwa sebutir peluru yang sedang berlari kencang. Ia terus berlari, berlari dan berlari. Nafasnya tersendat-sendat.

Keringat bercucuran jatuh dari dahinya. Baju kumal yang ia kenakan telah basah bermandi keringat. Di sana, di tubuh peluru itu, ada percikan darah segar yang masih menempel, yang menjadi begitu cair kala berpadu dan berbaur dengan keringatnya yang kian deras. Ia telah jauh berlari.

Sementara itu, di komplek Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Fajar Timur Abepura, seorang imam sedang duduk di dalam ruangan. Temaram cahaya sebuah lilin berukuran besar menerangi ruangan itu. Pada dinding ruangan itu tampak beberapa lukisan rohani. Ada lukisan Tuhan Yesus. Bunda Maria. St. Fransiskus Assisi. Ada gambar Merpati, lambang Roh Kudus.

Pastor Jhonannes Philipus Kegou, asal Kepugei, Pihaihe, Pegunungan Tengah Papua, Selatan Pegunungan Mapiha, itulah namanya. Pastor itu sedang meditasi. Tangannya dengan ringan ia letakkan di atas kedua pahanya. Nafasnya teratur bahkan terlihat tidak bernafas, saking tenangnya. Di depannya, Alkitab telah terbuka. Hanya badannyalah ia di dalam ruangan itu.

Rohnya, jiwanya, sedang berpadu dalam alam sana, menimba banyak nilai dari alam nilai, menimba banyak kebijaksanaan dari alam kebijaksanaan. Menimba banyak ketenangan dari alam ketenangan, menimba banyak kesejukan untuk hati dari alam kesejukan.

Tiba-tiba, pastor kembali mengatur pernafasan. Sesaat kemudian, ia kembali bernafas normal, dengan mata tetap terpejam.

Sesaat setelah detik itu, terdengar derap kaki tergesa-gesa menaiki tangga rumah, dan di dalam ruangan itu, Pastor Kegou telah tersenyum menyambutnya, jauh sebelum pintu diketuk.

"Silahkan masuk nak..."

Sesaat kemudian, pintu diketuk. Sekali lagi, Pastor Kegou mengulangi kata-katanya. Pintu perlahan terbuka, dan masuklah peluru itu.

Pastor Kegou mengamati tubuhnya. Nafasnya masih tersendat-sendat.

"Atur nafas anakku.."

"Maaf Pastor. Aku harus cepat mengatakan apa yang ingin aku sampaikan. Tolong lindungi aku Pastor. Mereka sedang mengejarku."

"Siapa yang mengejarmu?"

Alis mata Pastor berkerut. Ia menatap sebutir peluru itu dalam-dalam, kemudian matanya berhenti pada noda darah yang tampaknya masih belum mencair dan hilang oleh keringat, lantaran telah membeku.

"Mengapa ada noda darah itu di tubuhmu?"

"Maaf Pastor. Justeru karena itu aku melarikan diri kepada Pastor. Tolong lindungi aku."

"Aku dipaksa melakukannya Pastor." Dan kemudian, beruntun butir peluru itu menceritakan kisahnya hingga ia sampai pada Pastor. Ini ceritanya:
Aku adalah sebuah peluru. Dibuat dari biji besi yang berada jauh di dalam tanah tempat kita tinggal ini, tepat di bawah gunung Salju, Erstberg.

Aku dikeruk oleh sebuah alat raksasa. Kemudian, aku dilebur di dalam sebuah wadah panas. Aku menjadi seperti lumpur. Setelah menjadi seperti lumpur, aku dialirkan melalui sebuah pipa, hingga aku sadar, aku sedang berada pada sebuah kapal raksasa.

Aku adalah biji besi dari tanah ini. Kapal itu membawaku dalam bentuk bubur, seperti lumpur. Kemudian aku tiba di sana, di sebuah kota yang tidak aku kenal. Aku dengar, orang-orang berkulit merah mengatakan, tanah itu Amerika. Ya, aku ingat, itu Amerika Serikat. Aku telah tiba di Amerika Serikat.

Aku tidak tahu, berapa hari kami berlayar. Aku tidak mengenal siang dan malam di dalam kapal, karena aku diberi penerang, dan diatur temperatur suhunya, tak dapat bergerak, dan tidak dapat melarikan diri, kecuali pasrah.

Kemudian, sesaat setelah aku tiba di pelabuhan yang paling ramai itu, aku kemudian dibawa menggunakan truk raksasa. Dari sebuah pabrik raksasa, aku diolah.

Banyak campuran yang tidak aku ketahui namanya telah bercampur bersamaku, hingga aku sadar, dan semakin sadar, kalau tubuhku tidak lagi seperti bubur, tetapi menjadi lebih cair.

Kami dipisahkan. Kebetulan, aku dibawa, dan dituangkan ke tempat pembuatan peluru. Semua alat bekerja otomatis. Tidak kulihat seorang manusia pun di sana. Hanya beberapa orang. Kemudian aku sadar, bahwa aku telah dibuat menjadi sebutir peluru.

Sampai pada saat itu, aku hanya mampu menangis. Aku sadar, aku dibuat untuk menerjang, menembusi dada lawan. Tugasku adalah membuat orang yang diperintahkan padaku untuk ditembusi, aku tembusi, hingga mati. Aku sadar, dan telah menjadi kebiasaan kami para peluru, bahwa menjadi kebanggaan kami, bila kami berhasil menembusi dada lawan.

Aku dikemasi, dan diberi label. Kemudian, aku dimasukkan ke dalam sebuah ruangan besar. Aku kemudian bertemu dengan banyak teman-temanku, para peluru.

Baru aku tahu dari percakapan beberapa orang, bahwa aku sedang dalam kapal, dikirim ke Indonesia. Indonesia, nama yang asing bagiku. Entah sebuah kota, barangkali sebuah tempat perang, itu pikirku.

Sampai pada pelabuhan Tanjung Priok, aku diturunkan. Bersamaku turun pula teman-teman biji besi dari Papua yang kini telah dibuat menjadi peluru, senjata, dan beberapa alat perang lainnya.

Untuk enam bulan pertama, aku masih dapat bernafas lega, karena aku masih aman di dalam gudang senjata pusat TNI. Pada hari pertama, habis lepas bulan keenam, aku dibawa menuju pelabuhan.

Besertaku, banyak juga prajurit serta. Ketika aku ketahui kapal yang aku tumpangi menuju Papua, sungguh, aku bangga. Aku senang. Aku kembali ke tanah airku.

Tetapi bila aku tahu sedari awal apa yang bakal terjadi saat ini, lebih baik bagiku untuk bunuh diri, lompat dari kapal ke dalam laut saja waktu itu. Akh, tapi tak tahu hari esok. Yang aku tahu, adalah rangkaian saat ini-saat ini, yang terus membentuk masa lalu, dan harapan akan hari esok yang aku buat. Itu saja.

Aku kemudian dimasukkan ke dalam senjata seorang tentara. Sekitar satu bulan aku berada di dalam senjata itu. Beberapa peluru pertama telah keluar, dilesakkan, entah mengenai siapa, aku tidak tahu, karena saat itu, aku masih di dalam senjata.

Aku tak dapat melihat jelas. Yang jelas, semua dilesakkan dari tanah Papua, tanah asalku. Tanah tempat aku terbentuk, jauh di dasar gunung Salju, Erstberg.

Baru pada waktu itu, beberapa peluru terdepan ditembakkan. Tibalah giliranku ditembakkan. Sebagai peluru, aku bersiap menerjang apa saja yang menjadi tujuan bidikan tuanku, tentara itu.

Dari corong lubang tempat keluarnya peluru, aku melihat. Di atas tanah, seorang lelaki Papua telah berkalang tanah.

"Tuhan Yesus," suaraku tertahan.... "Itu Musa Mako Tabuni!"

"Tidakkkkkk......" pekikku dengan air mata menetes.

Aku ingat pada ibuku, yang ketika kecil, ketika aku masih bersama ibuku, tepat pada saat-saat terakhir kami bersama sebelum kami dipisah-paksa dari perut bumi Papua, dengan cucuran air mata, aku lihat dan dengar dengan mata telingaku sendiri, ibuku berdoa memohon kekuatan dan berkat bagi orang yang bernama Musa Mako Tabuni.

Dalam doa ibuku pula, aku dengar, ia pejuang tanah dan bangsa yang hidup di atas tanah tempat kami tinggal.

Juga, dari ruangan militer itu, juga aku telah lihat foto orang yang menjadi target tembak, ia disebut Musa Mako Tabuni. Ketika para tentara berbicara, kau tatap dalam-dalam wajah orang yang bernama Musa Mako Tabuni itu.

Aku lahap wajahnya, hingga lekukan kecil, bahkan guratan kecilpun aku hafal dari mukanya. Ia pahlawanku, begitu kuat aku berkata dalam hati. Aku diam-diam menghormatinya: sang pahlawan!.

Kini, di depanku, orang itu, orang yang oleh ibuku didoakan dengan tangisan itu, yang aku hormati karena didoakan ibuku sebagai pahlawan itu, kini kaku tak berdaya diberondong 6 peluru terdahulu. Kini tinggal.............

"Dooooorrr.........."

Aku dilesakkan.

Aku tahu, aku dilepas lurus juga ke jantung orang itu. Dalam waktu satu per sekian detik itu, aku membathin;

"Haruskah aku menembusi orang yang telah kaku, meninggal ditembusi 6 peluru ini? Pantaskah aku menembusi jantung orang yang oleh ibuku malah didoakan dengan tangisan dan air mata, yang oleh ibuku, dalam isak tangis doa itu, aku dengar ibuku menggelarnya Pahlawan?"

"Pantaskah aku menembusi tubuh kakunya, membuat darah mengalir? Haruskah aku menembusi jantung anak negeri Papua sendiri?"

"Tidaaaakkkkk........" aku memekik.

Lantas, semua kaget mendengar pekikanku itu. Aku lantas membelokkan tubuh, lari jauh ke arah lain, tidak jadi menembusi Mako, sang pahlawan  itu.

Kemudian, ketika dari bukit kecil itu, aku menoleh, ada sepasukan TNI mengejarku, aku lantas berlari dan bersembunyi di seputaran Bukit Sky Land. Di sana, di bawah akar pohon, aku bersembunyi.

Tiga malam aku disana, tanpa makan. Aku mengikat perutku dengan kain. Dan, pada malam ini, aku merasa sedikit lebih aman, dan aku datang mencari perlindungan di sini.

***

Pastor Kegou melumat butir peluru itu dengan tatapannya. Kemudian, ia menarik nafas panjang, dan menunduk.

"Berarti, kamu satu-satunya saksi mata yang mampu mengatakan yang sebenarnya dari semua tragedi pelanggaran hak asasi manusia itu. Anakku, hanya kamulah saksinya, dan hanya kamulah yang kini menjadi target mereka untuk menghilangkan jejak."

"Iya. Akulah peluru ketujuh yang dilesakkan tepat ke arah jantung Mako Tabuni. Akulah saksi mata, dan aku ingin bersaksi atas semuanya itu. Dan karena itulah, aku datang kepadamu Pastor. Aku butuh perlindunganmu."

Pastor Kegou diam tanpa bicara, sambil muka berkerut, dengan jarinya terus memainkan jenggot keriting pendek yang kini mulai putih dimakan usia, ia terus menggelengkan kepala.

Oleh, Topilus B. Tebai
.

Sumber: Majalah Selangkah

Minggu, 14 September 2014

Sepenggal Lorosae


“Permisi!” Hampir serentak suara di teras depan rumah disertai ketukan di pintu. Pagi itu pandanganku beradu dengan dua orang setelah pintu terbuka.
“Sonia!, om Alfredo!, selamat datang di Indonesia!” sambutku spontan, sembari mempersilahkan masuk.
“Oh terima kasih, kukira kau sudah tak kenal kami lagi, bagaimana dengan bahasa Indonesiaku?” canda om Alfredo.

“Sangat baik tapi perlu latihan lagi.” sahutku dan suara tawa kamipun meledak.
Om Alfredo, aku mengenalnya semenjak masa kanak-kanak di bumi Timor Lorosae. Seorang penduduk berdarah campuran porto tetun yang pernah bertetangga denganku. Bertahun-tahun kami hidup damai berdampingan, apalagi setelah Timor Lorosae diakui menjadi bagian integral Republik Indonesia dengan nama propinsi Timor Timur. Namun sayang sekali kedamaian tersebut tak berlangsung lama. Bermula ketika dimumkannya hasil referendum nasib Timor Timur yang sebelumnya diberikan oleh pemerintah Indonesia. Sungguh mencengangkan!, kubu pro kemerdekaan telah dimenangkan mutlak oleh UNAMET yaitu lembaga bentukan PBB yang bertugas mengawal proses referendum di propinsi ke-27 itu. Referendum terdiri dari dua opsi yaitu pro kemerdekaan dan pro otonomi.

Saat itu 4 September 1999, Sabtu Pahing tepat pukul 09.15 waktu Indonesia Timur. Massapun mengamuk, benturan-benturan fisik berskala besarpun terjadi antara warga pro otonomi dan pro kemerdekaan yang diiringi perusakan, pembakaran dan penjarahan massal. Asap kebakaran mengepul di mana-mana. Kerusuhanpun merebak hingga ke seluru penjuru. Tak ayal lagi sebagian besar sarana dan prasarana bangunan milik masyarakat maupun pemerintah hancur total dan korban jiwapun berjatuhan. Warga pro otonomi yang selama 23 tahun berintegrasi dengan Indonesia, membawa bukti-bukti kuat tentang kecurangan UNAMET dalam membantu warga pro kemerdekaan. Anggota UNAMET yang mayoritas warga Australia dituntut dan diancam agar tidak meninggalkan lokasi mereka di 13 kabupaten di seluruh wilayah Timor Timur. Apapun alasannya, nyatanya dunia internasional dibawah pimpinan Amerika Serikat dan sekutunya sangat menekan pemerintah kami. Australiapun sangat berambisi memposisikan dirinya sebagai polisi Asia.

Kami benar-benar tidak siap menghadapi kekecewaan ini, kami semua merasa dikhianati oleh pihak asing. Siapa sangka bahwa hasil referendum yang jelas-jelas diwarnai kecurangan sistematis tersebut tak pernah diinvestigasi oleh pihak-pihak yang terkait baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Semua bungkam sejuta bahasa. Padahal bukti-bukti tersebut tercatat secara kronologis, yaitu dari mulai berdatangannya polisi Australia yang tak ingin dicampuri oleh pihak Indonesia. Mereka berdalih agar dapat bekerja independen. Rupanya ini hanyalah siasat undercover operasi intelijen. Kegiatan-kegiatan spionase menjadi pemandangan sehari-hari. Hasutan, bujuk rayu serta iming-iming mereka lontarkan pada warga pro otonomi bahkan tak jarang berakhir dengan intimidasi dan kekerasan. Sekali lagi tak satupun anggota Komnas HAM dalam dan luar negeri berteriak. Terkuak setelah hasil referendum, banyak ditemukan kertas suara pro kemerdekaan luar biasa banyaknya dan kertas suara pro otonomi banyak yang dirusak serta masih sangat banyak kecurangan dalam bentuk lain.

Detik itu pula, kami yang telah lama mendiami Timor Timur dan mencintai tanah kelahiran kami dipaksa untuk meninggalkannya, mengungsi keluar wilayah Timor Timur secepatnya. Dengan pengawalan tentara dan polisi banyak di antara kami mengungsi hanya dengan pakaian melekat di tubuh, meninggalkan rumah dan harta benda. Banyak juga dari kami menghancurkan atau membakar harta bendanya daripada dijarah dan dinikmati oleh kelompok pro kemerdekaan. Rumah-rumah warga pro otonomi telah dikuasai secara beringas dengan berbagai ancaman, ditambah dengan kehadiran sekelompok tentara Timor Falintil bersenjata lengkap yang keluar dari persembunyian menambah suasana makin mencekam. Bukan hanya harta benda yang menjadi jarahan tetapi juga harkat dan martabat manusia. Kami menjadi sasaran amukan warga pro kemerdekaan. Banyak pula keluarga harus rela kehilangan anggotanya dan terpisah, bahkan turut menjadi korban jiwa selama kerusuhan terjadi. Begitu pula diriku, kulepas kedua orang tuaku mengungsi. Aku berusaha mengejar keduanya yang bergegas menaiki truk tentara.

“Berlakulah sebagai prajurit profesional!” Ayah segera pergi dengan langkah pasti menuju ke arah truk tanpa menoleh lagi. Hanya suara tangisan pilu para pengungsi termasuk ibuku. Rengekan bayi-bayi dan anak-anak yang belum mengerti politik sangat menyayat hati siapa saja.
Aku mengenal almarhum ayahku sangat dekat. Seorang mantan Marinir yang banyak malang melintang bertugas di medan tempur. Beliau termasuk sosok prajurit yang loyalitasnya tidak diragukan!, begitu mendapat perintah pindah dinas ke Timor Lorosae, dengan lapang dada hal itu diterima. Di bumi Lorosae aku lahir, tanah tumpah darahku yang tak terlupakan.
—
“Aku turut berduka cita atas wafatnya ayahmu.” Terpancar rasa kedukaan yang mendalam di wajah om Alfredo, setelah dia mengetahui kabar itu dari kerabatnya.

Om Alfredo, sempat membuat diriku terguncang dan marah serta kecewa, hingga tak pernah melupakan peristiwa yang membuatku memandang dunia ini dari banyak sisi. Saat itu aku dan para tentara yang lain mempersiapkan kendaraan pengungsi menuju perbatasan. Di tengah-tengah penjagaan tentara Australia dan Timor Falintil, mataku melihat seorang pria akrab dengan mereka, sungguh sukar dipercaya!. Belakangan kuketahui ternyata dia adalah salah seorang tokoh klandestin bekas Tropaz, salah satu unit tentara Timor Portugis, nama lain Timor Timur sebelum integrasi. Setiba di Indonesia kuceritakan hal ini pada ayah.
“Dia punya cara perjuangan sendiri.”
“Tapi ini pengkhianatan!”
“Siapa yang dikhianati, apa kau merasa dirugikan?”
Aku terdiam menebak-nebak jalan pikiran beliau.
“Suatu saat kau akan tahu, dia memiliki jalan sendiri, begitu pula kau dan aku, sama-sama memiliki kepentingan, mempercayai apa yang kita yakini.”

Aku belum bisa menerima kenyataan, bahkan di saat-saat kekacauan terjadi. Ternyata banyak warga pribumi Timor yang semula pro otonomi berbalik menjadi pro kemerdekaan, apakah ini yang disebut perjuangan? atau mungkinkah hanya sekedar mencari selamat dan aman?
“Sudah biasa hal seperti itu, mengatasnamakan perjuangan, tugas tentara adalah berperang demi perintah tapi tidak memerangi umat manusia! Kapan berperang dan kapan berdamai kau harus tahu itu!” jelas ayah seakan membaca jalan pikiranku.

Setelahnya aku tak pernah membicarakan hal itu lagi. Ayahku adalah keturunan trah tulen menak Sumedang, hanya karena intrik klasik dalam keluarga ningrat, ayah harus rela meninggalkan tanah kelahirannya dan menjadi orang kebanyakan. Mendaftar sebagai prajurit rendahan yang dimasa itu hanya pantas untuk kalangan rakyat jelata. Namun beliau merasa nyaman dengan kehidupan barunya, yang tidak pernah dijumpai semasa hidup dalam kungkungan tata cara keraton. Seorang prajurit sejati, yang berpesan tidak ingin dimakamkan di Taman Makam Pahlawan karena memang bukan itu yang beliau cari. Perjuangan hanya demi bangsa dan negara bukan untuk yang lain, apalagi hanya mengukir nama sendiri.!
“Oh Ibu dan kakak adikmu?” Dia mencoba berbicara ringan.
“Semua baik, ibu dan adikku Silvia Singorejo menetap di Amsterdam.”
“Oh gadis bule itu!”.

Silvia Singorejo, sebenarnya bukan adik kandungku. Ayah mendapatinya sewaktu masih bayi lemah di hamparan rumput tanah lapang. Entah dibuang atau akibat korban kekerasan dari pihak-pihak yang bertikai di masa itu. Meskipun dia bayi porto yang bisa saja anak dari musuh tetapi ayah dan ibu tidak mempedulikannya. Bagai anak kandung mereka membesarkannya. Bagiku kearifan ayah melebihi jenderal bintang lima. Dengan welas asih ibu merawat dan menjaganya.
“Keluarga sehatkah?” tanyanya menyelidik setelah melihat bingkai foto yang tergantung di dinding. Foto kedua putriku bersama diriku.
“It’s over.”
“ehm,.. I’m so sorry.”

Rumah tanggaku bubar hanya karena aku dan isteri berbeda paham. Aku hanyalah seorang tentara rendahan, sementara mantan isteriku adalah seorang pengusaha keturunan Arab-Jawa. Selalu ada saja kesalahpahaman karena istri kental dengan pengaruh budaya Barat yang diperoleh saat kuliah S2 di Jerman. Menurutku budaya Barat yang hanya mengejar materi kurang cocok dengan kepribadian bangsa Indonesia. Suatu hari dia menginginkan diriku meneruskan usaha sarang burung walet abinya. Maaf aku lebih mencintai diriku seperti saat ini, menjalani kehidupan sebagai seorang tentara yang sederhana. Sempat terlintas dalam anganku bahwa bisa saja berbisnis sembari bekerja tapi bagaimana mungkin akan menjadi profesional jika ditengah-tengah rutinitas pekerjaan, yang melulu muncul dalam benakku adalah segebok pundi-pundi rupiah? bahkan Euro?!. Profesionalkah? Alangkah kasihan rakyat yang telah memberi amanah kepada tentara semacam itu. Profil tentara yang ideal menurut anggapanku sederhana dan bersahaja.

Lima tahun rumah tanggaku bertahan, kedua buah cinta kami yaitu Sekar Arum Jagad dan Lintang Pamungkas berada dalam pengasuhan mantan istriku, Vierra Kharami. Sebenarnya dia adalah ibu yang baik tetapi pandangan dan prinsip kami sudah tidak mungkin berjalan dalam satu rel! Aku tidak pernah menyesal karena aku meyakini ini adalah jalan hidup, banyak orang menganggap diriku bodoh, tapi hanya Tuhanlah yang tahu.

Jalan hidup tiap orang berbeda, kalau ada sebagian tentara hidup bergelimang kemewahan, mungkin memang itu nasib yang harus mereka peroleh, nasib seorang manusia. Demi mengabdi pada negara kujauhkan diri dari kemewahan. Kutelan mentah-mentah dogma dan indoktrinasi secara total, terutama tentang perilaku berorganisasi, karena disinilah letak keteraturan manajemen organisasi. Apa jadinya kalau seorang bawahan kurang ajar terhadap atasan hanya karena sang atasan adalah kawan dekat apalagi sanak famili, tentu ini pelecehan terhadap institusi. Profesi harus dijunjung tinggi, adil terhadap siapa saja, tidak ada kawan dekat apalagi sanak famili yang harus kita lindungi ketika melakukan kesalahan. Stick and Carrot, titik!.

Aku anak bangsa yang berjanji dalam hati akan mengawal tegaknya kedaulatan negara ini, sejarah membuktikan bahwa bangsa yang besar akan runtuh hanya dengan infiltrasi budaya dari luar secara sistematis, bukan dengan peperangan besar. Diawali dari hal-hal kecil yang remeh seperti pemberian nama anak cucu kita! Mengapa sekarang nama-nama bangsa Indonesia yang asli telah punah? Apakah nama “Jihan” atau “Maria” terdengar lebih merdu daripada nama “Lestari”?. Itulah sebabnya kedua anakku masing-masing satu tahun baru kunamai ciri khas Indonesia. Sangat disayangkan pula bahwa “kebaya” yang merupakan identitas nasional pakaian wanita Indonesia harus berganti dengan “cadar” atau pakaian Eropa. Negara-negara benua Amerika saja yang lantang menobatkan dirinya menjadi bangsa baru, namun penduduknya mengakui keanekaragaman warisan Eropa! Mengapa di Amerika bisa mempertahankan budaya negara-negara Eropa? Sedangkan kita? Dari nama-nama mereka kecuali warga kulit hitam, masih bisa diketahui kalau mereka imigran bekas bangsa Eropa. Sungguh aku malu bangsaku! padahal Sutasoma berabad-abad yang lampau telah menyebut “Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa”.

Keanekaragaman budaya adalah hal yang biasa dalam kehidupan bernegara. Mengapa kita harus menyeragamkan semua itu? Mudah-mudahan bangsa ini segera disadarkan dari kemerosotan moral, setidaknya cita-cita mengembalikan identitas bangsa dimulai dari hal yang paling kecil! Mimpi luar biasa dari seorang prajurit biasa, tapi aku akan selalu bermimpi meski hanya seorang diri.

Putra Angkasa namaku! Nama sakral yang memiliki legenda tersendiri. Tigapuluh Tujuh tahun yang silam di pagi buta ketika ibu hendak melahirkanku ke rumah bidan, ayah yang mengantar dan mengemudikan mobil melihat burung rajawali terbang membelah angkasa. Atas saran beliau nama itu diberikan. Putra Angkasa yang telah membuat udara berdetak.

“Oh my God, kau masih menyimpan foto kita semasa perjuangan dulu?!” tatapan tajam mata Sonia beradu denganku. Sedari tadi dia asyik memandangi jajaran bingkai foto di pojok ruang tamu yang banyak bercerita tentang keindahan bumi Lorosae.
Sonia Dora, sepuluh tahun aku mengenalmu hingga negara Timor Leste terbentuk kitapun harus terpisah jauh.
—
“You’re always keep on my mind,” meluncur deras begitu saja dari bibirku, sebentuk kalimat yang tidak pernah kuucapkan sebelumnya, sehari sebelum propinsi Timor Timur diserahkan ke UNTAET. Di tengah-tengah kekacauan dan tidak ada keteraturan tatanan, aku berhasil menemukanmu dengan semboyan reguler, alternatif dan emergensi. Mendapatkan dirimu di senja itu.
“Suatu hari nanti, kalau Tuhan memberikan umur panjang semoga kita dipertemukan lagi!” pintamu.
“I must go!, aku akan merindukanmu.”
—
Timor Timur selamat tinggal! Iring-iringan kendaraan pasukan melewati jalan perbatasan menuju Atambua. “Invasi Road” begitu jurnalis barat menyebut jalan itu. Jalan yang dibangun oleh Tentara dan Polisi sekaligus menandai program ABRI Masuk Desa. Infiltrasi dan eksfiltrasi selama perang berlangsung juga melalui jalan itu. Dari sana pulalah “The Blue Jeans Soldier” memulai aksinya dan selalu meninggalkan untold story bagi generasi berikutnya. Operasi Seroja lebih mendekati operasi intelijen terpadu daripada operasi militer. Prestasi, pangkat dan jabatan serta kisah-kisah heroik diperoleh sebagian orang sementara banyak orang harus meratapi kegetiran nasib.
—
Pagi hari 30 September 1999, Kamis Pon jam 9 tepat Waktu Indonesia belahan Timur, Provinsi Timor Timur dipaksa lepas dari pangkuan ibu pertiwi. Lepas karena campur tangan negara-negara besar yang secara sistematis menekan pemerintahan kami baik dari segi ekonomi, politik dan militer. Dengan teganya mereka memboikot perdagangan dan embargo alutsista militer di saat-saat negaraku sedang mengalami krisis multidimensi yang melelahkan. Di kancah internasional, mereka tak henti-hentinya berkampanye tentang status Timor Lorosae. Perang Psikologispun berlangsung. Ironisnya dari dalam negeripun sekelompok orang yang mengaku cerdik cendekia ikut menyuarakan kemerdekaan bagi provinsi termuda itu. Ada apa dengan kalian? Mana jiwa ksatria? Rupanya mereka memilih berperan sebagai Gunawan Wibisana yang dengan tega mengorbankan wilayah tanah air diacak-acak oleh agresor. Mengapa tidak memilih menjadi Kumbakarna? “Baik buruk ini adalah negaraku, setiap ada ancaman asing akan kuhadapi!”.

Ibu pertiwi sedang menangis, setelah terjungkalnya rezim otoriter akibat krisis moneter 1997, setiap saat negeri ini selalu diwarnai guncangan aksi-aksi demonstrasi anarkis yang tak berujung pangkal, provokasi-provokasi dari LSM yang didanai pihak asing, pemberitaan media informasi yang tak berimbang sampai aksi-aksi mahasiswa yang ditunggangi oleh kelompok-kelompok tertentu bahkan rongrongan gerakan separatis di beberapa daerah atau konflik horisontal bernuansa SARA semakin menambah lemah negeriku. Kejahatan tradisional dan kejahatan modernpun muncul berdampingan tanpa ada penegakan hukum yang dapat memberi efek jera. Para pemimpin yang seharusnya menjadi suri tauladan tidak dindahkan lagi oleh rakyat. Tentara dan Polisi yang mengawal jalannya reformasi justru dihujat dan dicaci. Euforia yang kebablasan!

Dan yang hampir sukar di nalar, berkembang isu bahwa di perairan Selandia Baru sejumlah pasukan tempur multinasional bersiap-siap memasuki wilayah Indonesia jika nasib Timor-Timur benar-benar berlarut. Fakta akan selalu berkata jujur, bahwa sudah terlalu banyak bangsa Indonesia berkorban demi sejengkal tanahnya, begitu banyak harta, jiwa dan raga yang telah diserahkan. Putra-putri terbaik bangsa berguguran demi semangat nasionalisme menjaga keutuhan Timor Lorosae setelah disyahkannya Deklarasi Balibo yang dimotori oleh Amerika Serikat berdasar ketakutannya terhadap komunis di Pasifik. Lepasnya Timor-Timur adalah suatu pelajaran yang sangat berharga, bahwa negeri ini secara Geopolitik dan ekonomi sangat diperhitungkan oleh kekuatan asing. Bangsaku yang besar, negeriku yang sentosa sering kudengar saat dongeng menjelang tidur.

Timor Lorosae selamat berpisah semoga kebersamaan selama ini akan menjadi kenangan yang terindah dalam perjalanan bangsa Indonesia, sampai jumpa di lain waktu. Hati nuranimu akan selalu berkata jujur bahwa kami telah merawat dan membesarkanmu dengan sekuat tenaga meskipun kelak sejarah yang kau tulis dapat saja bertutur lain.

Dari pemberitaan televisi terlihat mantan para pelaku perang dari kedua belah pihak saling bersalaman bahkan berangkulan mesra bak kawan lama padahal dulunya mereka saling bermusuhan. Perang telah usai! Tidak ada lagi pahlawan dan pengkhianat. Takkan ada lagi sebutan pejuang dan pemberontak!
Air mata para mantan pejuang Seroja dan keluarganya bercucuran! Mungkinkah terharu, kecewa ataupun marah? Entahlah, sebuah resiko yang harus dijalani. Kakak sulungku seorang guru harus kehilangan anak dan istrinya karena teror orang tak dikenal selama integrasi. Kakak kedua mendapat penghargaan Kopral Anumerta. Berkat pengorbanannya sang Komandan mendapat promosi jabatan. Perang untuk siapa? Jawaban jujur tentu beraneka ragam.
—
Pantulan cahaya bulan yang menerangi rerumputan, seakan-akan memantul padaku. Kulirik Sonia di samping sedang termangu menatap kerlap-kerlip lampu taman kota. Tiada kata-kata yang perlu kami perbincangkan lagi, bibir kami membisu mungkin hanya hati yang bicara. Malam bertambah temaram! Perlahan kuberanjak dari bangku taman. Kugerakkan tanganku untuk kesekian kalinya mendorong kursi rodamu, persis ketika kita masih di bumi Lorosae. Terima kasih Tuhan…, walaupun kami lahir dan tumbuh dalam lingkungan berbeda, tetapi lewat kasih-Mu kami bisa bersahabat tanpa ada prasangka suku, agama, ras dan golongan. Kursi roda pemberian ayah ketika kau divonis lumpuh menyiratkan pesan bahwa kami tidak akan pernah terpedaya oleh kotak-kotak golongan yang telah diciptakan oleh manusia. Seringkali kita terjebak dalam sekat “Siapa Aku Siapa Dirimu”, sehingga membentengi serta menghalangi kita sebagai khalifah di muka bumi untuk berbuat baik kepada sesama tanpa pamrih.

Kilauan bintang-bintang di angkasa raya ikut menyaksikan kami menyusuri jalan sepanjang taman, sungguh gagah dan menawannya kalian, bertengger di ketinggian dan takkan ada yang bisa menjamahnya. Ingin kupetik salah satu, akan tetapi kalian semakin meninggi hingga semakin sulit kugapai. Seandainya kalian bisa bersuara mungkin saat ini sedang menertawaiku, menertawai apa yang sedang kupikirkan. Pungguk merindukan bulan dan bintang. Kopral Putra Angkasa Nata Negara trah terakhir Sumedang Larang.
—
“Mengapa kau memilih mendaftar tamtama? Mengapa tidak mendaftar perwira?”
“Tidak!”
“Kau takut menjadi pemimpin?”
“Pemimpin adalah panutan bagi bawahan segala tindak-tanduk adalah cermin bagi bawahan!”
“Lantas?”
“Aku akan lebih siap menjadi tamtama dan memimpin diriku sendiri!”
—
Dialog itu terngiang kembali, dibawah guyuran hujan deras di teras depan rumah, dua pemuda Ramos Matanruak dan Putra Angkasa. Ramos sahabatku, pemuda polos lagipula sederhana itu kini menjadi jenderal militer Timor Leste yang disegani sekaligus dihormati.

“Adigang, adigung, adiguna takkan pernah ada dalam kamusku Putra Angkasa!” Kubaca pesan singkatmu di ponsel, hmm … mungkin Sonia telah memberikan pin dan nomerku padanya. Adigang, adigung, adiguna sebuah filosofi jawa yang dulu pernah kuperkenalkan padanya. Jika seseorang telah mencapai kesuksesan kadang-kadang dapat tergelincir merasa tinggi, merasa terhormat dan merasa dapat berbuat apa saja. Ironisnya di antara mereka dulu banyak yang berasal dari keluarga kere alias miskin, makanya ada sindiran “Kere munggah Bale”. Orang miskin yang naik kasta dan tak tahu diri pula.
“Itu khan hanya untuk pria?” tukas Sonia setelah menguping pembicaraan kami.
“Oke.. khusus wanita Adigunawati saja!” kataku tak mau kalah. “Adigunawati sudah mencakup adigang, adigung dan itu lebih dahsyat ketika yang bersangkutan menjadi isteri pejabat alias bisa berbuat semaunya atas restu suami!”

“huuuu..!” kompaknya paduan suara saudara kakak beradik itu. Kebetulan atau tidak, setelahnya kilat dan guntur menggelegar.
—
Langit hitam nun jauh di atas sana, banyak bintang bertaburan namun yang bersinar hanyalah satu. Malam inipun aku masih mengantongi sepucuk surat darimu beberapa hari yang lalu. Sonia… 13 tahun sudah kita tak pernah bertemu, dan adalah hal yang tak pernah kuduga bahwasannya dengan kehendak Tuhan saat ini kita dipertemukan.

“Selamat jalan Om dan Sonia”. Sepenggal kata dariku malam ini juga, setiba mengantarnya di lobby hotel. Sampai jumpa lagi entah kapan. Terlalu banyak kenangan di bumi Lorosae dan takkan begitu saja terhapus dalam memoriku. Saat-saat bersama suka dan duka dengan orang-orang yang penuh kasih, juga dengan mantan pejuang-pejuang integrasi dari berbagai kalangan yang kini terlupakan. Salam Mahidi, Mati Hidup Demi Indonesia.
Sekian

Untuk para generasi muda jangan sekali-kali melupakan sejarah.
Cerpen Karangan: Prabu Awang

Sumber: cerpenmu.com

 

Copyright MC2 @ 2015 Jejak Kaki.

MC2 ,